LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM
IKTIOLOGI
Diajukan Sebagai Salah Satu
SyaratUntuk Kelulusan
PadaMata Kuliah Iktiologi
OLEH :
LA ODE HENDRI
I1A7 13 009
PROGRAM STUDI MAANAJEMEN SUMBERDAYA
PERAIRAN KONSENTRASI PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2015
I.
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Ikhtiologi
berasal dari kata Yunani, yaitu ichthyes
yang berarti ikan dan logos yang berarti ilmu.Sehingga secara singkat dapat
dikatakan bahwa iktiologi adalah ilmu yang mempelajari ikan dengan segala aspek
kehidupannya.
Iktiologi merupakan salah satu cabang ilmu biologi yang (zoology) yang
mempelajari khusus tentang ikanbeserta segala aspek kehidupannya (Nadia
2014)
Morfologi adalah bentuk luar suatu
organisme.Morfologi setiap jenis ikan dapat menunjukan kedekatan kekerabatan.
Kedekatan kekerabatan tersebut dapat dilihat
dari kemiripan - kemiripan dan
perbedaan-perbedaan karakter morfologi ikan (Nadia, 2012).
Morfometrik
adalah ukuran bagian-bagian tertentu dari struktur tubuh ikan(measuring) yang diambil dari suatu
titik ke titik lain tanpa melalui lengkungan tubuh. Ukuran ikan adalah jarak
antara satu bagian tubuh ke bagian tubuh yang lain. Karakter morfometrik yang
sering digunakan untuk mengukur antara lain panjang total,panjang biasa,panjang
dasar, tinggi dan lebar badan,tinggi dan panjang sirip, dan diameter mata dan
lain-lainnya.
System
integument adalah bagian tubuh yang berhubungan langsung dengan lingkungan luar
atau habitat hidupnya.
Berdasarkan
hasil diatas maka perlu dilakukan praktek yang berhubungan dengan morfologi
ikan, metode pengukuran tubuh ikan, dan system integument.
B.
Tujuan
dan Manfaat
Adapun tujuan dan manfaat pada praktikum ini adalah sebagai
berikut:
1.
Morfologi
ikan
Tujuan dari percobaan ini yaitu untuk mengenal bentuk luar
ikan, mengamati morfologi dan letak atau posisi bagian luar tubuh ikan.
Manfaat percobaan ini yaitu agar
mahasisiwa dapat mengenal bagian-bagian dari tubuh ikan serta mengetahui
fungsinya masing-masing.
2.
Metode
menghitung ukuran tubuh ikan
Tujuan percobaan ini yaitu untuk
memperkenalkan metode atau cara menghitung berbagai ukuran ikan yang dapat
digunakan dalam identifikasi dan kuantifikasi morfologi ikan.
Manfaat percabaan ini yaitu Agar
mahasiswa dapat mengetahui bagaimana cara mengenal bagian-bagian dari ikan.
3.
Sistem Integumen
Tujuan dari
percobaan yaitu untuk mengamati struktur
tubuh ikan, kulit beserta
derivat-derivatnya,
seperti sisik, jari-jari sirip, lendir, scute,
dan kelenjar racun.
Manfaat
percobaan yaitu agar mahasiswa
mengetahui struktur dari penutup tubuh ika,beserta bagian-bagiannya
II.
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Klasifikasi
Sistematika atau sistematic
termasuk pekerjaan-pekerjaan taksonomi yang tidak hanya mengatur organisme
menjadi sistem klasifikasi, akan tetapi lebih luas lagi dengan mencari jawaban
bagaimana dan mengapa klasifikasi organisme itu dibuat serta mampu menguraikan
hubungan kekerabatan diantara organisme satu dengan lainnya dan juga
hubungannya dengan lingkungan habitat (phylogenetics). Ruang lingkup
sistematika yaitu pekerjaan taksonomi (fenetik dan filogeni), evolusi dan
geogeografi (Nadia, 2012).
Menurut cuvier (1830) Klasifikasi
Ikan Pisang-Pisang Merah (Caesio
chrysozona)adalah sebagai berikut :
Kingdom:Animalia
Phylum:Chordata
Class:Pisces
Ordor : Percomorphi
Class:Pisces
Ordor : Percomorphi
Famili:Scombroidae
Genus:Caesio
Species:Caesio chrysozona
Genus:Caesio
Species:Caesio chrysozona
Gambar 1. Ikan Pisang-Pisang Merah (Caesio chrysozona)
(sumber : Adilan, 2014)
Menurut
Lacepede (1802) Klasifikasi ikan katamba
(Lethrinus lentjan)adalah sebagai
berikut :
Kingdom:Animalia
Phylum :Chordate
Class
:Pisces
Ordor
: Percimorphi
Family
:Lethrinidae
Genus:Lethrinus
Species
:Lethrinus lentjan
Gambar
2.ikan katamba (Lethrinus lentjan)
(Sumber : Adian, 2012)
Menurut saanin, H (1984) Klasifikasi ikan kurisi (Nemipterus japhanicus)adalah sebagai berikut :
Kingdom:Animalia
Pylum:Chordata
Class:Pisces
Ordor:Percomorpht
Family:Nemipteridea
Genus:Nemipterus
Species:Nemipterus japhanicus
Class:Pisces
Ordor:Percomorpht
Family:Nemipteridea
Genus:Nemipterus
Species:Nemipterus japhanicus
Gambar 3. Ikan Kurisi (Nemipterus japhanicus)
(Sumber : Setiawan, 2010)
Menurut
Riippel (1828), Klasifikasi ikan layang (Decapterus russelli)
Kingdom:Animalia
Phylum : Chordata
Celass : Actinopterygii
Ordor : Perciformes
Family : Carangidae
Genus : Decapterus
Species : Decapterus russelli
Gambar 4. Ikan layang (Decapterus
russelli)
(Sumber : Elvira, 2011)
B.
Morfologi Ikan
Pengenalan struktur
ikan tidak lepas dari morfologi ikan yaitu bentuk luar ikan yang merupakan
ciri-ciri yang mudah dilihat dan diingat dalam mempelajari jenis-jenis
ikan.Morfologi ikan sangat berhubungan dengan habitat ikan tersebut di
perairan.Bentuk luar ikan seringkali mengalami perubahan dari sejak larva
sampai dewasa, misalnya dari bentuk bilateral simetris pada saat masih larva
berubah menjadi asimetris pada saat dewasa.Bentuk tubuh ikan merupakan suatu adaptasi
terhadap lingkungan hidupnya atau merupakan pola tingkah laku yang khusus
(Nadia, 2009).
1.
Ikan Pisang-Pisang
Merah (Cteroucaesio tile)
Ciri tubuh ikan Pisang-Pisang
Merah (Cteroucaesio tile)yaitu badan
memanjang, langsing, gepeng, sisik-sisik kecil dan ctenoid. Dahi dan penutup
insang bersisik.Mulut kecil dapat disembulkan.Sirip punggung berjari-jari keras
10 dan 14-15 lemah.Sirip dubur berjari-jari keras 3, dan 11-12 lemah.Tapisan
insang 10-15, sisik-sisik pada garis rusuk 67-77, sisik-sisik di atas dan di
bawah urat sisi tersuusn horizontal.Pangkal sirip punggung dan dubur hampir
setengahnya tertutup sisik. Termasuk ikan buas, makanannya invertebrata dapat
mencapai panjang 20 cm dan umumnya 15 cm (Dirjen Perikanan, 2005)
2.
Ikan Katamba (Lethrinus lentjan)
Ciri-ciri tubuh adalah memanjang dan gepeng dengan pangkal
sirip ekor melebar. Tulang rahang atas melewati mata sebelah belakang sedangkan
rahang bawahnya lebih menonjol ke depan dari rahang atasnya. Bentuk kepala
tirus ke depan. Warna tubuhnya perak keabuabuan sewaktu dewasa, pada waktu
masih burayak warnanya gelap (1-2 bulan), kemudian akan terang setelah menjadi
gelondongan (3-5 bulan). Ukuran maksimalnya dapat mencapai 170 cm. (Kordi,
2010).Sedangkan sirip yang lainnya tidak ada menunjukkan ciri ciri khusus jika
di bandingkan dengan ikan lainnya(Mulyono, 2011).
Ikan katamba memiliki sirip.Sirip ekor ikan katamba
berbentuk pipih.Ikan katamba memiliki sirip punggung berjari jari keras, kuat
dan kaku.Jari jari siripnya terdiri dari 3 jari keras dan 7-8 jari lunak pada
sirip punggungnya.Sedangkan sirip yang lainnya tidak ada menunjukkan ciri -
ciri khusus jika di bandingkan dengan ikan lainnya(Mulyono, 2011).
3. Ikan Kurisi (Nemiptorus japhanicus)
Ikan Kurisi ditemukan pada kedalaman lebih dari 100 m. Ikan
initerdapat pada lingkungan laut pada kedalaman mencakup 100-330 m. Habitatnyadi
daerah karang dan area dasar berbatu-batu dengan kedalaman minimal 100
m.Distribusi Ikan Kurisi meliputi bagian utara sampai selatan Jepang, secara
luasditemukan di Indo-Pasifik dan timur Afrika (Agustinus dkk 2008).
Ikan Kurisi tergolong ikan berdaging putih dan ekonomis.Ikan
Kurisitermasuk kedalam jenis ikan demersal.Hal ini dicirikan dengan bentuk
mulutyang letaknya agak ke bawah dan adanya sungut yang terletak didagunya
yangdigunakan untuk meraba dalam usaha pencarian makanan.Ciri-ciri Ikan
Kurisiadalah berukuran kecil, badan langsing, dan padat (Sulistyawati, 2011).
Ikan Kurisi (Nemiptorus japhanicus)
merupakan spesies ikan utama yangdigunakan Malaysia dan Asia Tenggara untuk
menghasilkan surimi. Ikan iniumumnya ditemukan di wilayah perairan tropis dan
subtropis Indo-Pasifik Barat.Ikan Kurisi telah terbukti dapat menghasilkan
surimi kualitas tinggi dengan yangkekuatan gel yang bagus, karena warna daging
putihnya, tekstur lembut, dankemampuan pembentukan gel kuat. Surimi dari Ikan
Kurisi sering digunakansebagai bahan baku pembuatan kamaboko dan surimi
berbasiscrab-stick diJepang (Huda, dkk. 2011).
C.
Metode Pengukuran Tubuh Ikan
Ikan merupakan
hewan air yang memiliki bentuk, ukuran dan warna yang berbeda tergantung dari
spesies dan dimana dia hidup atau beradaptasi dengan lingkungannya. Ciri pada
ikan berbeda-beda yang biasa disebut ciri morfometrik dan meristrik. Ciri
morfometrik merupakan ciri yang berkaitan dengan ukuran tubuh atau bagian tubuh
ikan. Seperti panjang ikan, panjang badan dan sebagainya. Sedangkan ciri
meristik yaitu ciri yang berkaitan dengan jumlah jari-jari keras dan lemah pada
garis puggung dan sebagainya (Lahiank, 2011).
Ukuran ikan menunjukan besar kecilnya
ikan. Ikan dikatakan besar apabila panjangnya lebih dari 10 cm, yang dimaksud
panjang yang diukur dari ujung mulut sampai dengan ujung ekor yang disebut
ukuran panjang total ikan. Sedangkan, untuk jari-jari sirip dada ikan dapat
dikelompokan dalam dua tipe yaitu jari-jari keras dan jari-jari lemah.
Jari-jari keras ditulis dengan angka romawi dan jari-jari lemah ditulis dengan
menggunakan angka (Rahardjo, 2011).
D.
Sistem
Integument
Sistem integumen
adalah bagian tubuh yang berada pada bagian terluar. Sistem integumen terdiri
dari kulit dan derivat-derivatnya yang terdiri dari sisik, jari-jari sirip,
skut, kill, lendir, dan kelenjar racun. Struktur ini dapat berupa struktur yang
lunak seperti kelenjar ekresi tetapi dapat juga berupa struktur keras, dari
kulit ini disebut juga eksoskeleton. (Radit, 2011),
Sistem
integumen atau kulit pada hewan vertebrata secara umum hampir sama yaitu
terdiri dari epidermis turunan dari ektoderm dan dermis turunan dari mesoderm.
Dua pola warna pada ikan tersebut disebabkan oleh tiga hal, salah satunya yaitu
karena konfigurasi fisik (Rahardjo, 2004).
Fungsi integumen yakni membantu
memberikan corak atau pewarnaan pada kulit ikan(sisik) agar dapat memberikan
keindahan pada ikan,selain itu integumen juga pelu dimengerti karena bertujuan
untuk mengetahui sistim yang berhubungan dengan derifat kulit dan pola warna
ikan. Warna pada ikan di sebabkan karena adanya pigmen yang tersebar di
epidermis (Heryanti, 2011).
III.
METODE
PRAKTIKUM
A.
Waktu dan Tempat
Praktikum ini
dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 20Desember 2014 pukul 15.30-17.00 WITA bertempat
di Laboratorium
I Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univeritas Halu Oleo Kendari.
B.
Alat dan Bahan
Adapun alat dan
bahan yang digunakan dalam praktikum ini disajikan pada Table 1 berikut :
Tabel 1. Alat dan Bahan yang Digunakan pada Praktikum Metode Mengukur Tubuh Ikan
Beserta Kegunaannya.
|
No
|
Alat dan
Bahan
|
Satuan
|
Kegunaan
|
|
1.
2.
|
Alat
-
Baki
-
Alat
menggambar
-
Mistar
Mi Mikroskop
Kaca mikroskop
Pingset
Lap
kasar
Lap
halus
Bahan
-Ikan pisang –pisang merah (caesio chrysozona)
-Ikan katamba (Lethrinus
lentjan)
Ikan kurisi
(Nemipterus namaptopharus)
Laying (Decapterus
russelli)
|
-
-
Cm
-
-
-
-
-
individu
individu
individu
individu
|
Tempat untuk meletakkan bahan
Untuk menggambarmorfologi dan anatomi obyek yang
diamati
Untuk mengukur obyek
Untuk mengamati sisik ikan
Untuk menjempit bahan
Untuk membersikan meja
Untuk membersikan alat
Sebagai obyek yang diamati
Sebagai obyek yang diamati
Sebagai obyek yang diamati
Sebagai obyek yang diamati
|
C.
Prosedur Kerja
1. Morfologi ikan
a.
Menyiapkan
sampel ikan yang akan di amati.
b.
Menyiapkanpinset,buku
gambar,dan peralatan lainnya.
c.
Letakan ikan diatas meja, lalu
amati morfologi ikan : bagian-bagian luar ikan (mata, nasal dan sebagainya): bentuk badan, bentuk
dan letak mulut, bentuk dan letak sungut, bentuk dan letak sirip, bentuk ekor,
linea lateralis dan morfologi lainnya.
d.
Mencatat
setiap morfologi ikan yang di amati.
2. Metode mengukur tubuh ikan
a.
Menyediakan
beberapa jenis ikan,dari spesies yang mempunyai jari-jari lemah dan keras.
b.
Letakan
kepala sebelah kiri dan perut menghadap ke bawah.
c.
Buka
penutup jari-jari
d.
Amati
dan setiap sirip ikan,jenis dan jumlahnya dan panjang jari-jarinya.
e.
Amati
sisik pada setiap bagian ikan.
f.
Ukur
setiap parameter ukuran ikan.
3. Sistem Integumen
a.
Menyiapkan beberapa jenis ikan yang
bertipe sisik berbeda–beda .
b.
Menyiapkan meja, mikroskop,
pinset, buku gambar dan peralatan lainnya.
c.
Letakan ikan di meja, lalu amati
bagian luar ikan yang berhubungan dengan sistem integumen, sebutkan system integumennya dibawah
mikroskop di tiga
jenis ikan yang diamati.
IV.
HASIL DAN
PEMBAHASAN
A.
Hasil
Pengamatan
1. Jenis Ikan Praktikum
Pada praktikum ini digunakan 3 jenis ikan berbeda yakni
sebagai berikut:
a. Klassifikasi
ikan Pisang-Pisang
Merah (Caesio chrysozona)
Gambar 5.
Ikan Pisang-Pisang
Merah (Caesio chrysozona).
(Sumber : Dok. Pribadi, 2014)
b. Ikan katamba
(Lethrinus lentjan)
Gambar 6.Ikan
katamba
(Lethrinus lentjan).
(Sumber :
Dok. Pribadi,2014)
b.
Ikan
Kurisi
(Nemipterus nemaptophorus)
Gambar 7. Ikan Kurisi (Nemipterus nemaptophorus).
(Sumber : Dok. Pribadi, 2014)
d.
Ikan
Layang
(Decapterus russelli)
Gambar 8.
Ikan Layang
(Decapterus russelli).
(Sumber :
Dok. Pribadi,2014)
2. Morfologi
Adapun
hasil pengamatan pada morfologi ikan dapat dilihat pada Table 2berikut:
Tabel
2. Hasil pengamatan morfologi ikan:
|
NO
|
PARAMETER
|
BENTUK
MORFOLOGI IKAN
|
|||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
||
|
1
|
Bentuk tubuh
|
Globiform
|
Fisiform
|
Fisiform
|
Fisiform
|
|
2
|
Bentuk
mulut:
|
|
|||
|
a.Berdasarkan
bentuk
|
Tabung
|
Tabung
|
Tabung
|
Tabung
|
|
|
b.Dapat
tidaknya disembulkan
|
Bisa
|
Tidak bias
|
Bias
|
Bias
|
|
|
c.Berdasarkan
letaknya
|
Terminal
|
Sub Terminal
|
Terminal
|
Terminal
|
|
|
3
|
Sungut (ada/tidak ada)
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak
ada
|
|
4
|
Bentuk sirip ekor
|
Pokked/Funcate
|
Nianginata
|
Lunak
|
Lunak
|
|
5
|
Sirip pelvic (berpasangan/tidak
berpasangan)
|
Berpasangan
|
Berpasangan
|
Berpasangan
|
Berpasangan
|
|
6
|
Sirip anal (berpasangan/tidak
berpasangan)
|
Tidak berpasangan
|
Tidak berpasangan
|
Berpasangan
|
Tidak berpasangan
|
|
7
|
Warna Tubuh
|
Merah kekuningan
|
Hitam keputian
|
Merah keputian
|
Hitam keputian
|
|
8
|
Bar (ada/tidak ada)
|
Tidak ada
|
Ada
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
|
9
|
Band (ada/tidak ada)
|
Ada
|
Ada
|
Tidak ada
|
Ada
|
|
10
|
Blotch (ada/tidak ada)
|
Tidak ada
|
Ada
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
|
11
|
Panjang Premaxila PPa
|
1 Cm
|
3 Cm
|
1 Cm
|
2 Cm
|
|
12
|
Jumlah jari-jari sirip dorsal
|
23
|
18
|
18
|
7
|
|
13
|
Specklas (ada/tidak ada)
|
Tidak ada
|
Ada
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
|
14
|
Stripe (ada/tidak ada)
|
Tidak ada
|
Ada
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
|
15
|
Lines (ada/tidak ada)
|
Ada
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
|
16
|
Occelated Spot (ada/tidak ada)
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
|
17
|
Spot (ada/tidak ada)
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
|
18
|
Line Lateralis/Lateralis Line
(ada/tidak ada)
|
Ada
|
Ada
|
Ada
|
Tidak ada
|
Keterangan :
1.
Ikan pisang–pisang merah (Caesio chrysozona)
2.
Ikan katamba (Lethrinus lentjan)
3.
Ikankurisi (Nemipterus nemaptophorus)
4.
Ikan layang (Dekapterus russslli)
3. Metode Mengukur Tubuh Ikan
Adapun hasil
pengamatan pada praktikum ini dapat dilihat pada Tabel.3 berikut :
Tabel
3.Hasil
Pengamatan pada Praktikum Metode Mengukur Tubuh Ikan
|
NO
|
PARAMETER
|
JENIS IKAN
|
||
|
1
|
2
|
3
|
||
|
1.
|
Berat tubuh
|
|||
|
2.
|
Panjang total (PT)
|
205
mm
|
185
mm
|
17
mm
|
|
3.
|
Panjang standar (PS)
|
160
mm
|
145
mm
|
13
mm
|
|
4.
|
Panjang Kepala (PK)
|
57
mm
|
55
mm
|
45
mm
|
|
5.
|
Panjang bagian sirip dorsal (PsSD)
|
58
mm
|
57
mm
|
47
mm
|
|
6.
|
Panjang Sebelum sirip Pelvik
(PsSPe)
|
53
mm
|
6
mm
|
47
mm
|
|
7.
|
Panjang sebelum sirip anal (PsSA)
|
101,7
mm
|
100
mm
|
25
mm
|
|
8.
|
Tinggi kepala (TK)
|
33
mm
|
42
mm
|
35
mm
|
|
9.
|
Tinggi badan (TB)
|
45
mm
|
49
mm
|
4
mm
|
|
10.
|
Tinggi batang ekor (TBE)
|
145
mm
|
16
mm
|
12
mm
|
|
11.
|
Panjang batang ekor (PBE)
|
21
mm
|
22
mm
|
23
mm
|
|
12.
|
Diameter mata (DM)
|
13
mm
|
14
mm
|
12
mm
|
|
13.
|
Jarak mata ke tutup ingsan (JMTI)
|
21
mm
|
29
mm
|
28
mm
|
|
14.
|
Panjang hidung
|
7
mm
|
23
mm
|
12
mm
|
|
15.
|
Lebar badan (LB)
|
25
mm
|
23
mm
|
14
mm
|
|
16.
|
Panjang dasar sirip dorsal (PDSD)
|
85
mm
|
75
mm
|
65
mm
|
|
17.
|
Panjang dasar sirip anal (PDSA)
|
35
mm
|
36
mm
|
25
mm
|
|
18.
|
Panjang dasar sirip pelvic (PDSPe)
|
25
mm
|
37
mm
|
25
mm
|
|
19.
|
Panjang dasar sirip pectoral
(PDSP)
|
10
mm
|
7
mm
|
2
mm
|
|
20.
|
Panjang panjang sirip ekor bagian
atas
|
45
mm
|
4
mm
|
35
mm
|
|
21.
|
Panjang sirip ekor bagian bawah (PSEBB)
|
45
mm
|
4
mm
|
35
mm
|
|
22.
|
Panjang memoncong (PM)
|
29
mm
|
250
mm
|
220
mm
|
|
23.
|
Panjang maxilla (PMa)
|
1
mm
|
180
mm
|
100
mm
|
|
24.
|
Panjang premaxilla (PPa)
|
12
mm
|
200
mm
|
120
mm
|
|
25.
|
Jumlah jari-jari sirip dorsal
|
|||
|
a.
Jari-jari
keras
|
9
|
10
|
||
|
b.
Jari-jari
lemah
|
15
|
8
|
6
|
|
|
26.
|
Jumlah jari-jari sirip anal
|
|||
|
27.
|
a.
jari-jari
keras
|
2
|
4
|
5
|
|
b.
jari-jari
lemah
|
12
|
7
|
5
|
|
|
28.
|
Simbol/rumus sirip dorsal
|
D.IX.15
|
D.X.8
|
D..6
|
|
29.
|
Simbol/rumus sirip anal
|
A.II.12
|
A. IV.7
|
A.V.5
|
Keterangan:
1.
Ikan pisang–pisang merah (Caesio chrysozona)
2.
Ikan katamba (Lethrinus lentjan)
3.
Ikankurisi (Nemipterus nemaptophorus)
4.
Ikan layang (Dekapterus russslli)
4.Sistem Integumen Ikan
Adapun hasil pengamatan pada praktikum
ini dapat dilihat pada Tabel.
4 sebagaiaberikut :
Tabel
4.Hasil
Pengamatan pada Praktikum Sistem
Integumen Ikan
|
No
|
Parameter
|
Ikan
: I
Pisang-Pisang
Merah
|
Ikan
: II
katamba
|
Ikan
: I
Kurisi
|
|
1.
|
Tipe sisik (squama)
|
Clioid
|
Clioid
|
Ctenoid
|
|
2.
|
Sisik duri (Scute) (ada/tidak ada)
|
-
|
-
|
-
|
|
3.
|
Lendir (ada/tidak ada)
|
Ada
|
Ada
|
Ada
|
|
4.
|
Lunas (keel) (ada/tidak ada)
|
-
|
-
|
-
|
|
5.
|
Warna sisik
|
Hitam
|
Hitam
|
Hitam
|
|
6.
|
Bentuk focus
|
Oval
|
Oval
|
Molingkal
|
|
7.
|
Jumlah Primery Radii
|
|
|
-
|
|
8
|
Jumlah Secondary Radii
|
|
|
|
a.
Bentuk Sisik
Ikan pisang – pisang merah
|
1
|
|
Keterangan:
1focus
2 Secondary radi
3. .Primery radi
4. Posterior field
5. Ctenii
1.
Primery Radii
2.
Primery Radii
3.
Secondary Radii
Fokus
4.
Primery Radii
5.
Secondary Radii
Fokus
|
Gambar 9. Bentuk
Sisik Ikan
b.
Bentuk Sisik Ikan katamba
|
1
|
|
Keterangan:
1.
focus
2.
Anterior
field
3.
Primery radi
4. Ctenii
2. Secondary radi
|
|
3
|
|
2
|
|
|
c.
|
Keterangan:
1.Circuli
2..Focus
5.Sekondary
radi
6.Lateral
field
7.Posterior
field
|
|
|
|
2
|
|
1
|
Gambar
11. Bentuk Sisik Ikan Cycloid
B.
Pembahasan
Pada praktikum morfologi Ikan, pengukuran tubuh
ikan, serta sistem integumen. Ikan
yang diamati terdiri dari 4 jenis yaitu
: Ikan
pisang pisang merah ((pterocaesio tile),
Ikan Katamba (lethinus lentjan), Ikan kurisi(Nemipterus
japonicus). Dan ikan layang (Decapterus ruselli) terdapat berbagai
macam perbedaan baik morfologinya, ukuran tubuh, dan sistem integumen.
1.
Morfologi Ikan
Pengenalan struktur
ikan tidak lepas dari morfologi ikan yaitu bentuk luar ikan yang merupakan
ciri-ciri yang mudah dilihat dan diingat dalam mempelajari jenis-jenis
ikan.Morfologi ikan sangat berhubungan dengan habitat ikan tersebut di
perairan.Bentuk luar ikan seringkali mengalami perubahan dari sejak larva
sampai dewasa, misalnya dari bentuk bilateral simetris pada saat masih larva
berubah menjadi asimetris pada saat dewasa.Bentuk tubuh ikan merupakan suatu
adaptasi terhadap lingkungan hidupnya atau merupakan pola tingkah laku yang
khusus (Nadia, 2009).
Pada pengamatan IkanPisang–pisang merah (Pterocaesio tile) adalah ikan yang memiliki warna kulit merah kekuning–kuningan dan
memiliki bentuk tubuh fusiform.Ikan pisang–pisang merah merupakan ikan memiliki
mulut yang dapat di simbulkan, dan tidak bersungut.Bentuk mulut dari ikan pisang–pisang
merah adalah terpedo.Dalam hal ini, ikan pisang–pisang merah memiliki letak
mulut yang terminal.Ikan pisang–pisang
merah memiliki sirip pelvik yang berpasangan dan tidak memiliki sirip
anal.Pada ikan pisang–pisang merah
ini memiliki jari-jari sirip dorsal 23,
mulutnya dapat di simbulkan.
Pengamatan ikanKatamba (Lethrinus lentjan)ialah
ikan ini memiliki bentuk tubuh yang menyerupai pipih(Campressed), bentuk
mulutnya ialah mulut dengan klasifikasi mulut berbentuk tabung
(tube like) dan merupakan jenis mulut yang dapat
disembulkan. Ikan katamba tidak memiliki sungut. Akan tetapi, ikan Katamaba
memiliki bentuk sirip ekor emarginate dan memiliki sirip pelvic yang
berpasangan sedangkan sirip analnya tidak berpasangan atau tunggal. Ikan
Katamba tidak memiliki bar dan bend akan tetapi ikan katamba memilki blotch.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Mulyono 2011, menyatakan bahwa bentuk tubuh
ikan katamba gepeng atau pipi.
Pada pengamatan pada ikan
Kurisi (Nemipterus japonicus)
memiliki bentuk tubuh pipih(Campressed), dengan betuk mulut tabung, selain itu
ikan Kurisi memiliki mulut dapat menyembulkan pada letak mulutnya terminal.
Ikan Kurisi tidak memiliki sungut, bentuk sirip ekornya adalah lunate dan
mempunyai sirip pelvik yang berpasangan sedangkan sirip analnya tidak
berpasangan. Ikan Kurisi mempunyai warna tubuh merah keputi–putian, ikan kurisi
juga tidak memiliki Bar dan Band ataupun Blotch.
Pada pengamatan ikan
layang (Decapterus russelli) memiliki
bentuk tubuh tropedo (fusiform) dengan bentuk mulut tabung, ikan layang
memiliki mulut yang dapat menyembulkan sedangkan letak mulutnya terminal. Ikan
layang tidak memiliki sungut, bentuk sirip ekornya lunate, dan mempunyai sirip
pelvik yang berpasangan sedangkan sirip anal tidak berpasangan. Ikan layang
memiliki warna tubuh hitam keputih–putihan. Ikan layang tidak memiliki Bar dan
Blotch, tetapi dia memiliki Band. Jamlah jari–jari sirip dorsal ikan layang 7.
Ikan layang tidak memiliki spot.
2.
MetodeMengukurTubuh
Ikan
Metode pengukuran tubuh ikan dengan menggunakan
mistar.Bentuk
dan ukuran dari setiap jenis ikan berbeda-beda. Perbedaan ini biasa digunakan
dalam proses pengklasifikasian dan penggolongan suatu jenis ikan. Untuk dapat
mengetahui perbedaan ukuran tubuh setiap jenis ikan, tentu dilakukan pengukuran
untuk mendapatkan data mengenai ukuran tubuh ikan tersebut. Dalam Rajabnadia
(2009) dijelaskan bahwa Pengukuran morfometrik merupakan pengukuran yang
diambil dari satu titik ke titik lain tanpa melalui lengkungan badan. Metode
pengukuran standar ikan antara lain panjang standar, panjang moncong atau
bibir, panjang sirip punggung atau tinggi badan atau ekor.
Berdasarkanhasilpengamatan, IkanPisang–pisang
merah (Pterocaesio tile) panjang
total 205mm, panjangstandar 16mm, panjang kepal 57 mm, panjangsebelumsirip
dorsal 58mm, panjang sebelum sirip pelvik 53 mm, panjang sebelum siri anal 107
mm, tinggi kepala 33 mm, tinggi badan 45 mm, tinggi batangekor 21 mm, panjang
batang ekor 21 mm, diameter mata 13 mm, jarak mata ke tutp ingsan 21 mm,
panjang hidung 7 mm, lebar badan 25 mm, panjang dasar sirip dorsal 85 mm, panjangdasarsirip anal 35 mm, panjang dasar
sirip pelvic 25 mm, panjang dasarsirip pectoral 10mm, panjangsirip ekor bagian
atas 45mm, panjang sirip ekor bagian bawa 45 mm, panjang moncong 29 mm, panjang
maxilla 10 mm, panjang permaxilla 12 mm,jumlah jari–jari keras sirip dorsal
D.IX dan 15 , jumlah jari–jari keras dan lemah sirip anal A.II dan 12
BerdasarkanhasilpengamatanIkan
katamba(Lethrinus lentjan) memiliki,
panjang total 185 mm, panjangstandar 145 mm, panjang kepal 55 mm, panjangsebelumsirip
dorsal 57 mm,panjang sebelum sirip pelvik 6 mm, panjang sebelum siri anal 100
mm, tinggi kepala 42 mm, tinggi badan 49 mm, tinggi batangekor 16 mm, panjang
batang ekor 22 mm, diameter mata 14 mm, jarak mata ke tutp ingsan 29 mm,
panjang hidung 23 mm, lebar badan 23 mm, panjang dasar sirip dorsal 75 mm, panjangdasarsirip anal 36 mm, panjang dasar
sirip pelvic 37 mm, panjang dasarsirip pectoral 7 mm, panjangsirip ekor bagian
atas 4mm, panjnag sirip ekor bagian bawa 4 mm, panjang mocong 25 mm, panjang
maxilla 18 mm, panjang premaxilla 2 mm,jumlah jari–jari keras sirip dorsal D.X.
8, jumlah jari–jari keras dan lemah sirip anal A.IV.7. Hal ini sesui dengan
pernyataan Mulyono 2011 yang menyatakan bahwa jari–jari keras sirip dorsal ikan
katamba berjumlah 8
Hasil pengamatan pada Ikan kurisi
(Nemipterus nemaptophorus) memiliki
panjang total 17mm,
panjangstandar 13mm, panjang kepal 45 mm, panjangsebelumsirip dorsal 47mm,
panjang sebelum sirip pelvik 47 mm, panjang sebelum siri anal 25 mm, tinggi
kepala 35 mm, tinggi badan 4 mm, tinggi batangekor 12 mm, panjang batang ekor
23 mm, diameter mata 12 mm, jarak mata ke tutp ingsan 29 mm, panjang hidung 12
mm, lebar badan 14 mm, panjang dasar sirip dorsal 65 mm, panjangdasarsirip anal 25 mm, panjang dasar
sirip pelvic 25 mm, panjang dasarsirip pectoral 2 mm, panjangsirip ekor bagian
atas 35 mm, panjang sirip ekor bagian bawa 35 mm, panjang moncong 25 mm,
panjang maxilla 1 mm, panjang permaxilla 12 mm,jumlah jari–jari keras sirip
dorsal D.VII. 6, jumlah jari–jari keras dan lemah sirip anal A.V. 5.
3.
Sistem
Integumen
System integument adalah bagian
tubuh yang berhubungan langsung dengan lingkungan luar atau habitat hidupnya.Berdasarkan hasil pengamatan Sistim integument dari
ikan pisang – pisang merah (caesio
chrysozona) yaitu, memiliki sisik yang tersusun rapih dan hampir berada di
seluruh bagian tubuhnya serta memiliki tipe sisik cloid, tubuhnya berlendir,
warna sisik hitam, tidak memiliki jumlah primary radii dan jumlah secondary
radii tidak ada. Sistim integument pada ikan katamba (Lethrinus lentjan) yaitu memilki tipe sisik cloid, tubuhnya
berlendir, warna sisik bening, warna tubuh putih, jumlah primary radii tidak
ada dan jumlah secondary radii tidak ada. pengamatan pada ikan kisiur (Nemipteterus nemaptopharus) yaitu ikan
kurisi memilki tipe sisik ctenoid, tidak memiki sisik duri, tidak memiliki
lunas/keel, tubuhnya berlendir, warna
sisik hitam, jumlah primary radii tidak ada dan jumlah secondary radii tidak ada.
V.
SIMPULAN DAN
SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil pengamatan diatas, maka dapat
disimpulkan sebagai berikut:
1.
Morfologi pada ikan pisang-pisang merah
(caesio chrysozona) yang berkulitmerah
kekuning-kuningan dan memiliki bentuk tubuh fusiform. Ikan pisang-pisang merah
merupakan ikan memiliki
mulut yang dapat di simbulkan, dan tidak bersungut. Bentuk tubuh dari ikan pisang–pisang
merah adalah torpedo. Ikan pisang–pisang
merah ini memiliki sirip ekor berbentuk forked. Morfologi
pada ikan katamba (Lethrinus
lentja) yang memiliki warna kulit hitam
keputih-putihan. Ikan ini memiliki mulut yang
tidak dapat di simbulkan, ikan ini tidak bersungut. Katamba memiliki bentuk
tubuh yang compresed. Berdasarkan bentuk mulut, katamba mempunyai bentuk mulut teroiped
sedangkan berdasarkan letak mulut,ikan ini memiliki letak mulut sub terminal,sedangkan pada ikankurisi (Nemipterus nemaptophorus.).
ikan kuris mempunyai warna kulit hitam. Ikan kurisi ini memiliki sisik, mulutnya dapat
di simbulkan.
2.
Metode
pengukuran tubuh ikan dengan menggunakan mistar. Pengukuran tubuh ikan
dilakukan dengan mengukurpanjang standar,panjang sebelum sirip dorsal, lebar
badan dan lainnya. Untuk ikan pisang – pisang merah memiliki panjang standarnya
16 mm, panjang sebelum sirip dorsal 58 mm, dan lebar badan 25 mm. panjang
standar ikan katamba145 mm ,panjang sebelum sirip dorsal57 mm dan lebar badan
23mm. Selanjutnya untuk ikan kurisi ditemukan panjang standar 13 mm,panjang sebelum
sirip dorsal 47 mm dan lebar badan 14 mm
3.
Sistem
integument pada ikan pisang – pisang merah memiliki tipe sisik cloid, tubuhnya
berlendir, warna sisik hitam. Pada ikan katamba (Lethrinus lentjan) yaitu memilki tipe sisik cloid, tubuhnya
berlendir, warna sisik bening, warna tubuh putih.Pada ikan kisiur (Nemipteterus nemaptopharus) yaitu ikan
kurisi memilki tipe sisik ctenoid, tidak memiki sisik duri, tidak memiliki
lunas/keel, tubuhnya berlendir, warna
sisik hitam.
B.
Saran
Saran saya
adalah dalam praktikum ini agar praktikan diberikan waktu yang lebih luang
untuk agar praktikan dapat mengamati objek yang diamati dengan lebih teliti.
I.
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Ikan sebagai sumber protein hewani
pemanfaatannya semakin digalangkan dewasa ini.
Urat daging yang tampak
merupakan kesatuan, sebenarnya tersusun dari komponen-komponen penyusunnya,
blok urat daging disebut myotome dan kumpulan dari myotome disebut myosepta.
Urat daging yang terdapat pada tubuh ikan terbagi oleh horizontal
steletogeneus septum menjadi urat daging bagian atas(epaxial) dan urat
daging bagian bawah (hypaxial)
(Yusnaini, dkk 2013).
Pernafasan merupakan proses
pengambilan oksigen dan pelepasan karbondioksida dalam suatu organism hidup.
Alat pernafasan pada ikan secara umum adalah insang dengan pengecualian pada
beberapa jenis ikan yang mempunyai alat pernafasan paru-paru selalu menggunakan insang. Belum
berfungsinya insang pada saat embrio, maka pernafasan dilakukan dengan
menggunakan kantung telur (Yusnaini, dkk
2013).
Saluran pencernaan (tractus
digestivus) pada ikan di mulai dari mulut dan berakhir di anus. Secara umum
alat pencernaan pada ikan meliputi: mulut (mouth),
dan rongga mulut, faring (pharynx),
esophagus (esophagus), lambung (stomach), pylorus (pyloric), usus (intenstine),
dan anus (Yusnaini,dkk 2013).
Berdasarkan
hasil diatas, maka perlu dilakukan praktek yang berhubungan dengan sistem urat
daging, sistem pernafasan, dan sistem pencernaan.
B.
Tujuan dan
mamfaat
1.
Sistem Urat Daging
Tujuannya dari praktikum pada pengamatan
sistem urat daging yaitu mengamti letak dan jenis-jenis urat daging yang
terdapat dalam tubuh ikan
Manfaatnya adalah setelah praktikumdi harapkan
praktikan mampu mengetahui letak dan jenis-jenis urat daging yang terdapat pada
tubuh ikan.
2.
Sistem Pernafasan
Tujuann dari praktimu ini, pada pengamatan
sistem pernafasan yaitu untuk mengamati letak dan bagian-bagian alat yang
digunakan dalam proses pernafasan yang meliputi insang serta ada atau tidaknya
alat peenafasan tambahan yang biasanya terdapat pada beberapa jenis ikan
tertentu.
Manfaatnya adalah, setelah praktikum
diharapkan praktikan mampu mengetahui letak
dan bagian-bagian alat yang digunakan pada proses pernafasan.
3.
Sistem Pencernaan
Tujuan dari percobaan praktikum ini, pada pengamatan sistem pencernaan ikan yaitu
untuk mengamati bentuk dan letak bagian-bagian alat pencernaan makan pada
beberapa golongan ikan serta melihat ada atau tidaknya modifikasi yang terjadi
pada alat pencernaan tersebut
Manfaatnya adalah, setelah praktikum diharapkan praktikan mampu mengetahui sistem pencernaan pada ikan
II. TINJAUAN PUSTAKA
A.
Klasifikasi
1. Klassifikasi
ikan cakalang (Katsuwonus pelamis)
Adapun klasifikasi dari ikan cakalang menurut (Linnaeus, 1758) adalah sebagai berikut:
Kindom : Animalia
Phylum:
Chordata
Classis: Teleostei
Ordo: Perciformes
Familia: Scombridae
Genus: Katsuwonus
Spesies: Katsuwonus pelamis
Gambar 12. Ikan cakalng (Katsuwonus pelamis)
(Sumber
:Linnaeus, 1758)
2.
Klasifikasi
ikan kembung
lelaki(Rastrelliger kanagurta)
Adapun klasifikasi dari ikan kembung
lelaki menurut Cuvier (1813) adalah
sebagai berikut:
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Pisces
Ordo: Percomorphi
Ordo: Percomorphi
Family: Scombridae
Genus: Rastrelliger
Species: Rastrelliger kanagurta
Gamber : 13.ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta)
(Sumber : Arwana. 2014)
3.
Klasifikasi ikan layang (Decapterus russelli)
Adapun klasifikasi dari ikan layang menurut Saani (2000) adalah sebagai
berikut:
Kindom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Actinopterygii
Order : Perciformes
Family : Carangida
Genus : Decapterus
Species : Decapterus russeli
Gambar 14. Ikan layang (Decapterus
russelli)
(Sumber : Elvira, 2011)
B.
Sistem Urat
Daging
Urat
daging (otot) kesatuan yang tersusun dari komponen-komponen penyusunnya.Blok
otot di sebut (Myotom), dan kumpulan
dari myotom disebut (myosepta).Otot
yang terdapat pada tubuh ikan terbagi oleh (Horizontal steletogeneus septrum)
menjadi otot bagian atas (epaxial) dan
otot bagian bawah (hypaxial) (Nadia,
2014).Ikan memiliki 3 urat daging, yaitu urat daging bergaris, urat daging licin
dan urat daging jantung. Dilihat secara menyeluruh, urat daging bergaris di
seluruh tubuh ikan teriri dari kumpulan urat daging pada kepala ikan. Urat
daging licin terdapat pada anus, arteri dan saluran ekskresi. Sedangkan pada
urat daging jantung disebut juga sebagai micocardium (Ranjani, 2001).
Urat daging
yang terdapat di kedua sisi ikan dibedakan atas 2, yaitu bagian atas (epaxial)
dan bagian bawah (hypaxial). Kedua bagian tersebut dipisahkan oleh satu selaput
yang dinamakan Horizontal Skeletogeneus
Septum. Urat daging diseluruh tubuh ikan yang terdiri dari kumpulan blok
urat daging, pada tiap blok dinamakan myotome
yang dilapisi oleh myosepta. Pada urat
daging yang menempel pada tubuh ikan di sebelah kiri dan kanan di sebelah
belakang kepala sampai ke batas ekor, myotome
tersusun menurut pola yang biasa dibedakan menjadi 2, yaitu tipe clostomine dan
tipe piscine (Nomleni, 2001).
C.
Sistem
Pernafasan
Pernafasan adalah proses pertukuran oksigen (O2) dan karbon
dioksida (CO2) antara organisme dengan lingkungannya atau proses pengambilan
oksigen dan pelepasn karbondioksida dalam suatu organisme (Nadia, 2014). Ikan bernapas
dengan insang yang terdapat pada sisi kanan dan kiri kepala. Ikan bertulang
sejati misalnya ikan mas, mempunyai tutup insang atau disebut operculum. Insang
mempunyai lembaran yang halus yang banyak mengandung kapiler darah sehingga
berwarna merah. Pada beberapa jenis ikan, rongga insangnya meluas membentuk
lipatan tidak teratur yang disebut labirin. Rongga labirin berguna untuk
menyimpan udara sehingga ikan tersebut dapat hidup di lingkungan yang kurang
oksigen (Widyako, 2002).
Dalam pernapasan ikan, insang ikan terbagi tiga
bagian yaitu : daun insang (gill
filament), Tulang lengkung insang (gill
arch), Tapis insang (gill racker).Dimana
daun insang (gill filament)yaitu
bagian yang mengandung kapiler-kapiler dan berfungsi untuk mengikat oksigen
yang terlarut dalam air pada proses pernapasan. Lengkung insang (gill arch) mempunyai saluan yang
memngkinkan darah dapat keluar dan masuk dari insang, merupakan tempat
melekatnya filament dan tapis insang.Tapis insang terletak pada bagian yang
terdepan, yang pada jenis ikan herbivore pemakan plankton (plankton feeder)
berfungsi sebagai menyaring makanan dan relative panjang dan dapat di
bandingkan dengan dengan jenis ikan carnivore (Nadia, 2014).
Kepala ikan
yang telah dicopot insangnya menampakkan daun-daun insang berbentuk kipas yang
tersusun secara tumpang tindih. Pada pangkal daun insang persis di belakang
rongga mulut terdapat tapis insang (Ommanney, 2001).
D.
Sistem
Pencernaan
Pencernaan adalah proses penyederhanaan
makanan melaului cara fisik dan kimia, sehingga menjadi sari-sari makanan yang
mudah diserap di dalam usus, kemudian diedarkan ke seluruh organ tubuh melalui
sistem peredaran darah.
Organ-organ Saluran pencernaan terdiri dari (dari arah depan/anterior ke arah belakang/posterior) berturut-turut hati, empedu, pancreas, lambung, esophagus, mulut/rongga, mulut, usus, pilorus dan pilorik saeka. Serta organ-organ tambahan seperti kelenjar hati, kelenjar empedu, dan kelenjar pancreas. Dan Organ-organ pelengkap seperti sungut, gigi, tapis insang (Heryanti. 2011).
Organ-organ Saluran pencernaan terdiri dari (dari arah depan/anterior ke arah belakang/posterior) berturut-turut hati, empedu, pancreas, lambung, esophagus, mulut/rongga, mulut, usus, pilorus dan pilorik saeka. Serta organ-organ tambahan seperti kelenjar hati, kelenjar empedu, dan kelenjar pancreas. Dan Organ-organ pelengkap seperti sungut, gigi, tapis insang (Heryanti. 2011).
Secara anatonmi, alat
percernaan ikan behubungan erat dengan bentuk tubuh, kebiasaan makanan
(kategori ikan), dan kebiasaan makan (tingkah laku), serta umur (stia
ikan).selain itu struktur alat percernaan dapat digunakan juga untuk membedakan
spesien satu dengan yang lain. Alat percernaan yang sering mengalami mofikasi
adalah bibir, mulut, lambung. Untuk efektifitas system pencernan, terdepat
modifikasi-modifikasipada lambung dan usus dengan mengetahui jenis makanan dan
cara makannya, dapat diterapkan pada usaha budidaya ikan (Nadia, 2014).
Fungsi utama pencernaan
makanab adalah untuk menghancurkan makanan menjadi zat terlarut sehingga
makanan tersebut mudah diserap dan kemudian digunakan dalam proses metabolism.
Proses pencernaan terjadi dalam dua bentuk, yaitu secara fisik (terutama dalam
rongga mulut dan lambung), serta secara kimiawi (terutama dalam lambung dan
usus) (Nadia, 2014).
III.
METODE PRAKTIKUM
A.
Waktu dan
tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari SabtuTanggal 27 Desember 2014 pukul 15.30-17.00 WITA bertempat
di Laboratorium
I Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Halu Oleo Kendari.
B.
Alat dan bahan
Adapun alat dan
bahan yang digunakan dalam praktikum ini dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Alat dan
bahan yang digunakan pada praktikum beserta kegunaannya
|
No
|
Alat dan
Bahan
|
Satuan
|
Kegunaan
|
|
1.
2.
|
Alat
Baki
atau talenan
Termus
Peralatan bedah
Alat menggambar
-
Mistar
-
Pinset
kamera
-
Bahan
-
Air panas
-
Ikan cakalang (Katsuwonus pelamis)
-
Ikan kembung lelaki(Rastrelliger
kanagurta)
-
Ikan layang (Decapterus
russelli
|
-
-
-
-
Cm
-
-
-
individu
individu
individu
|
Tempat untuk meletakkan bahan
Tempat air panas
Untuk membedah bahan
Untuk menggambar morfologi dan anatomi obyek yang
diamati
Untuk mengukur obyek
Untuk mengambil sisik ikan
Mengambil gambar objek
Untuk memanaskan ikan
Sebagai obyek yang diamati
Sebagai obyek yang diamati
Sebagai obyek yang diamati
|
C.
Prosedur kerja
Adapun prosedur
kerja pada percobaan ini yaitu sebagai berikut:
1. Sistem Urat
Daging
a.
Menyiapkan
sampel ikan yang akan diamati
b.
Buang semua sisik terutama pada bagian
yang akan dikelupas kulitnya.
c.
Ikan yang telah direndam dengan air
panas (mendidih) kira-kira 1-2 menit sampai ikan kejang dan kulitnya mudah
dikelupas,perendaman jangan terlalu lama sebab urat daging akan rusak sehingga
akan menyulitkan pengelupasan.
d.
Kelupaslah kulit ikan dengan
menggunakan pinset dan jarum penusuk.
e.
Bukalah beberapa keping tulang pada
bagian kepala untuk mengamati urat dagingnya.
2.
Sistem
Pernafasan
a.
Mengambil
sampel ikan
b.
Buatlah sayatan pada penutup insang
terdepan dari dasar keatas dan teruskan agar ke bagian depan sampai rongga
bagian atas dapat dikelupas dan dapat dilihat alat pernafasan tambahan.
c.
Kemudian amati bagian-bagian dari insang.
d.
Kemudian
menghitung bulu insang
3.
Sistem
Pencernaan
a.
Menusukkan gunting bedah dengan bagian
yang tumpul ke bagian anus, kemudian tubuh ikan ke arah rongga perut bagian
atas.
b.
Setelah gunting mencapai ujung rongga
perut bagian atas terdepan bagian kepala), mengarahkan gunting ke bagian bawah
sampai ke dasr perut kemudian membuka daging yang telah tergunting tersebut
sehingga organ-organ tubuh bagian dalam akan terlihat, dan alat pencernaan
dapat di keluarkan dari dalam tubuh.
c.
Menggunting bagian bawah kepala ikan
hingga terbelah dua, memotong bagian terdepan esophagus dan menarik usus keluar
kemudian memotong ujung akhir anus.
IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil pengamatan
1.
Jenis
ikan praktikum
a. Ikan cakalang (Katsuwonus
pelamis)
Gambar 15. Ikan cakalang (Katsuwonus pelamis),
(Sumber : Dok. Pribadi, 2014)
b. Ikan kembung lelaki(Rastrelliger kanagurta)
Gambar 16. Ikan (Rastrelliger
kanagurta)
(Sumber : Dok. Pribadi, 2014)
c.
Ikan Layang (Decapterus
russelli)
Gambar 17.Ikan Layang (Decapterus russelli)
(Sumber : Dok. Pribadi, 2014)
2.
Hasil pengamatan pada Sistem Urat
Daging Ikan
a.
Urat daging bagian luar tubuh ikan cakalang (Katsuwonus pelamis)
|
Keterangan:
1. Myosepta
2. Myotome
3.
Horizontal skeletogenous septum
|
|
3
|
|
2
|
|
1
|
Gambar 18. Urat daging
tampak bagian samping kiri tubuh ikan.
(Sumber : Dok. pribadi, 2014)
b.
Penampang
melintang otot ikan cakalang (Katsuwonus
pelamis)
|
2
|
|
5
|
|
4
|
3.
myotome
|
3
|
5.
infracarinalis
|
1
|
Gambar 19. Urat daging tampak melintang pada ikan l
cakalang (Katsuwonus pelamis)
(Sumber : Dok. pribadi, 2014)
3.
Hasil pengamatan pada Sistem pernafasan
Adapun hasil
pengamatan pada percobaan ini dapat di lihat pada Tabel2 berikut:
Tabel 6. Hasil Pengamatan Sistem
Pernafasan Ikan
|
No
|
Parameter
|
Ikan 1
|
Ikan 2
|
|
1.
|
Upper Limb
rakers
|
46
|
75
|
|
2.
|
Lower Limb rakers
|
47
|
26
|
|
3.
|
Gill rakers
|
36
|
45
|
Keterangan :
1. Ikan cakalang (Katsuwonus pelamis)
2. Ikan kembung lelaki(Rastrelliger
kanagurta)
a. Sistem
pernafasan cakalang (Katsuwonus pelamis)
|
1
|
|
22 2
|
|
3 3
|
|
Keterangan
:
1. Upper limb rakers
2. Lowers limb rakers
3. Gill rakers
|
Gambar 20. Insang dan bagian-bagiannya
(Sumber : Dok. Pribadi.2014)
b. Sistem
pernafasan Ikan kembung
lelaki(Rastrelliger
kanagurta)
|
Keterangan
:
1. Upper limb rakers
2. Lowers limb rakers
3. Gill rakers
|
|
1
|
|
3
|
|
2
|
Gambar 21. Insang dan bagian-bagiannya
(Sumber : Dok. pribadi.2014)
4.
Hasil
pengamatan pada sistem pencernaan
Pengamatan
pada sistem pencernaan dapat dilihat pada Tabel 7 berikut:
Tabel
22. Hasil pengamatan sistem pencernaan
|
No.
|
Parameter
|
Ikan Cakalang
|
Ikan Layang
|
Ikan Kembung lelaki
|
|
1.
|
Panjang saluran pencernaan
|
4
|
7
|
3,5
|
|
2.
|
Jumlah
pilorik Kaeka
|
1
|
4
|
4
|
|
3.
|
Bagian-bagian
saluran pencernaan
|
Mulut dan
rongga mulut, faring, esophagus, lambung, pylorus, usus dan anus
|
Mulut dan rongga mulut, faring,
esophagus, lambung, pylorus, usus dan anus
|
Mulut dan
rongga mulut, faring, esophagus, lambung, pylorus, usus dan anus
|
Keterangan:
1. Ikan cakalang (Katsuwonus pelamis)
2. Ikan kembung lelaki(Rastrelliger
kanagurta)
3.
Ikan Layang (Decapterus russelli)
|
Keterangan :
1. Mulut
2. Rongga
Mulut
3. Faring
4. Esopagus
5. Lambung
6. Pilorus
7. Usus
8. Anus
|
|
1
|
|
2
|
|
5
|
|
7
|
|
8
|
Gambar 22. Bentuk
saluran pencernaan ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) (Sumber : Dok. Pribadi,2014)
b. Sistem pencernaan Ikan kembung lelaki(Rastrelliger kanagurta))
|
Keterangan
:
1. Mulut
2. Rongga
mulut
3. Faring
4. Esophagus
5. Lambung
6. Pilorus
7. Usus
8. Anus
|
|
7
|
|
511
|
|
211
|
|
8
|
|
111
|
Gambar 23. Bentuk
saluran pencernaan ikan kembung
lelaki(Rastrelliger
kanagurta))
(Sumber : Dok. Pribadi, 2014)
c.
Sistem pencernaaan Ikan Layang (Decapterus russelli)
|
Keterangan
:
1. Mulut
2. Rongga
mulut
3. Faring
4. Esophagus
5. Lambung
6. Pilorus
7. Usus
8. Anus
|
|
1
|
|
8
|
|
5
|
|
2
|
Gambar 24. Bentuk saluran pencernaan ikan Layang (Decapterus russelli).
(Sumber : Dok. Pribadi, 2014)
B.
Pembahasan
Adapun pembahasan dari percobaan ini adalah sebagai berikut :
1. Sistem Urat
Daging
Sistem urat daging merupakan suatu
kesatuan antara komponen-komponen penyusunnya, komponen tersebut berupa blok
urat daging yang disebut myotome dan
kumpulan dari myotome disebut mysepta.
Berdasarkan pengamatan yang pertama
dilakukan pada bagian luar dari tubuh ikan, disini urat daging yang menyusun
tubuh ikan sebelah kiri dan kanan, dari belakang kepala sampai kebatang ekor myotome dan myosepta tersusun menurut bentuk-bentuk yang tertentu pada ikan cakalang
(Katsuwonus pelamis)Mulai dari
bagian kepala ikan, rahang maupun tulang lengkung insang.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Ranjani, 2001yang mengatakan
bahwa secara keseluruhan urat daging bergaris diseluruh tubuh ikan terdiri dari
kumpulan urat daging kepala ikan, urat daging berhubungan dengan rahang dan
tulang lengkung insang, urat daging sirip tunggal berfungsi untuk menggerakkan
sirip. Pengamatan kedua difokuskan pada potongan melintang dari urat daging
yang dibagi atas 3 bagian yaitu bagian belakang kepala, bagian perut dan bagian
depan sirip ekor. Pada bagian kepala pada ketiga tersebut tersusun atas
“vertical septum“ merupakan garis yang memisahkan antara bagian kanan dan kiri
dari tubuh ikan, “horizontal“ skeletogeneus “septum“ merupakan garis yang
memisahkan antara atas bawah dari potongan melintang tubuh ikan dan “red
lateral muscle“ merupakan bagian yang berwarna merah tua. Pada bagian badan
terdiri bagian yang sama dengan kepala namun telah terdapat bagian “bodi
cavity“ yang merupakan tempat diletaknya organ dalam dari tubuh ikan berupa
alat pencernaan, alat pernafasan dan gelombang renang. Dan pada bagian
depan sirip caudal terdiri dari bagian yang sama dengan bagian depan kepala dan
perut, namun terdapat bagian ”supracarinalis” bagian ujung atas potongan ikan.
2.
Sistem Pernafasan
Pernafasan
merupakan proses pengambilan oksigen dan pelepasan karbondioksida dalam suatu
organism hidup. Alat pernafasan pada ikan secara umum adalah insang dengan
pengecualian pada beberapa jenis ikan yang mempunyai alat pernafasan paru-paru selalu menggunakan insang. Belum
berfungsinya insang pada saat embrio, maka pernafasan dilakukan dengan
menggunakan kantung telur.
Pada pengamatan
yang di lakukan pada ikan cakalang
(Katsuwonus pelamis) di ketahui jumlah upper limb rakers 46, jumlah lower limb rakers 47dan gill
rakers 36. ikankembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) jumlah tapis insang (Gill Rakers) 45,
upper limb rakers 26, jumlah lower limb rakers 75. Berdasarkan
pengamatan yang di lakukan pada Ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) dan ikan kembung lelaki (Rastrelliger
kanagurta)tapis insang (Gill
Rakers) ikan cakalang dan kembung lelaki, dari ke dua
ikan tersebut ikan kembung
lelaki memiliki tapis insang yang lebih banyak dari pada ikan cakalang.
3.
Sistem
Pencarnaan
Pencernaan
adalah proses penyederhanaan makanan melaului cara fisik dan kimia, sehingga
menjadi sari-sari makanan yang mudah diserap di dalam usus, kemudian diedarkan
ke seluruh organ tubuh melalui sistem peredaran darah.
Organ-organ Saluran pencernaan terdiri dari (dari arah depan/anterior ke arah belakang/posterior) berturut-turut hati, empedu, pancreas, lambung, esophagus, mulut/rongga, mulut, usus, pilorus dan pilorik saeka. Serta organ-organ tambahan seperti kelenjar hati, kelenjar empedu, dan kelenjar pancreas.
Organ-organ Saluran pencernaan terdiri dari (dari arah depan/anterior ke arah belakang/posterior) berturut-turut hati, empedu, pancreas, lambung, esophagus, mulut/rongga, mulut, usus, pilorus dan pilorik saeka. Serta organ-organ tambahan seperti kelenjar hati, kelenjar empedu, dan kelenjar pancreas.
Pada pengamatan terhadap sistem pencernaan, ikan
yang di amati yaitu ikan cakalnag, ikan kembung lelaki, dan ikan
layang. Fungsi penting dari pencernaan yaitu menghancurkan makanan menjadi zat
terlarut sehingga makanan tersebut mudah diserap dan kemudian digunakan dalam
proses metabolisme tubuh. Proses terjadi pencernaan tersebut dipengaruhi dalam
dua bentuk yaitu secara fisik yang terjadi dalam rongga mulut dan secara
kimiawi yang terjadi dalam lambung dan anus.
Hal ini didukung oleh Nadia 2014, yang
menyatakan bahwa fungsi alat pencernaan pada ikan adalah untuk menghancurkan
makanan menjadi zat yang terlarut sehingga makanan tersebut mudah diserap dan
kemudian digunakan dalam proses metabolisme. Proses pencernaan terjadi dalam
dua bentuk, yaitu secara fisik (terutama dalam rongga mulut dan lambung). Serta
secara kimiawi (terutama dalam lambung dan usus).
Alat pencernaan pada ikan meliputi dalam tubuh
ikan erat ketika dihubungkannya dengan jenis makanan yang akan dimakannya
sehingga terdapat beberapa adaptasi alat pencernaan makanan ikan terhadap
makanannya untuk membedakan ikan antara spesies yang lainnya.
V.
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Adapun simpulan dari
hasil pengamatan ini adalah sebagai
berikut:
1. Sistem Urat
Daging
Pada pengamatan
ikan cakalang di di ketahui
seluruh tubuh ikan cakalang
bagian luar
terbentuk dari urat daging myotomdan myoseptayang menyusun
tubuh ikan sebelah kiri dan kanan, dari belakang kepala sampai kebatang ekor.
2. Sistem
Pernafasan
Pada pengamatan
yang di lakukan pada ikan cakalang
(Katsuwonus pelamis) di ketahui jumlah upper limb rakers 46, jumlah lower
limb rakers 47 dan gill rakers 36. ikankembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) jumlah tapis insang (Gill Rakers) 45,
upper limb rakers 26, jumlah lower limb rakers 75.
3.
Sistem pencernaan
Proses pencernaan terjadi secara fisik terutama
terjadi dalam rongga mulut dan lambung serta secara kimiawi terutama yang
terjadi dalam lambung dan anus pada ikan. Alat pencernaan pada ikan meliputi
dalam tubuh ikan ketika dihubungkannya dengan jenis makanan yang akan
dimakannya sehingga terdapat beberapa adaptasi alat pencernaan makanan ikan
terhadap makanannya untuk membedakan ikan antara spesies yang satu dengan
spesies yang lainnya.
B. Saran
Praktikum seharusnya dilaksanakan lebih lama agar
mendapatkan data yang akurat sehingga praktikan tidak terburuh-buru dan lebih
mengerti.