Kamis, 08 Desember 2016

laporan Iktiologi




LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM
IKTIOLOGI

Diajukan Sebagai Salah Satu SyaratUntuk Kelulusan
PadaMata Kuliah Iktiologi

OLEH :

LA ODE HENDRI
I1A7 13 009
  





PROGRAM STUDI MAANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN KONSENTRASI PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI

2015



















I. PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang

Ikhtiologi berasal dari kata Yunani, yaitu ichthyes yang berarti ikan dan logos yang berarti ilmu.Sehingga secara singkat dapat dikatakan bahwa iktiologi adalah ilmu yang mempelajari ikan dengan segala aspek kehidupannya. Iktiologi merupakan salah satu cabang ilmu biologi yang (zoology) yang mempelajari khusus tentang ikanbeserta segala aspek kehidupannya (Nadia 2014) 
Morfologi adalah bentuk luar suatu organisme.Morfologi setiap jenis ikan dapat menunjukan kedekatan kekerabatan. Kedekatan kekerabatan tersebut dapat dilihat  dari kemiripan - kemiripan  dan perbedaan-perbedaan karakter morfologi ikan (Nadia, 2012).
Morfometrik adalah ukuran bagian-bagian tertentu dari struktur tubuh ikan(measuring) yang diambil dari suatu titik ke titik lain tanpa melalui lengkungan tubuh. Ukuran ikan adalah jarak antara satu bagian tubuh ke bagian tubuh yang lain. Karakter morfometrik yang sering digunakan untuk mengukur antara lain panjang total,panjang biasa,panjang dasar, tinggi dan lebar badan,tinggi dan panjang sirip, dan diameter mata dan lain-lainnya.
System integument adalah bagian tubuh yang berhubungan langsung dengan lingkungan luar atau habitat hidupnya.
Berdasarkan hasil diatas maka perlu dilakukan praktek yang berhubungan dengan morfologi ikan, metode pengukuran tubuh ikan, dan system integument.


B.       Tujuan dan Manfaat
Adapun tujuan dan manfaat pada praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.        Morfologi ikan
Tujuan dari percobaan ini yaitu untuk mengenal bentuk luar ikan, mengamati morfologi dan letak atau posisi bagian luar tubuh ikan.
Manfaat percobaan ini yaitu agar mahasisiwa dapat mengenal bagian-bagian dari tubuh ikan serta mengetahui fungsinya masing-masing.
2.        Metode menghitung ukuran tubuh ikan
Tujuan percobaan ini yaitu untuk memperkenalkan metode atau cara menghitung berbagai ukuran ikan yang dapat digunakan dalam identifikasi dan kuantifikasi morfologi ikan.
Manfaat percabaan ini yaitu Agar mahasiswa dapat mengetahui bagaimana cara mengenal bagian-bagian dari ikan.
3.        Sistem Integumen
Tujuan dari percobaan yaitu untuk  mengamati struktur tubuh ikan, kulit beserta derivat-derivatnya, seperti sisik, jari-jari sirip, lendir, scute, dan kelenjar racun.
Manfaat percobaan  yaitu agar mahasiswa mengetahui struktur dari penutup tubuh ika,beserta bagian-bagiannya



II. TINJAUAN PUSTAKA
A.      Klasifikasi
Sistematika atau sistematic termasuk pekerjaan-pekerjaan taksonomi yang tidak hanya mengatur organisme menjadi sistem klasifikasi, akan tetapi lebih luas lagi dengan mencari jawaban bagaimana dan mengapa klasifikasi organisme itu dibuat serta mampu menguraikan hubungan kekerabatan diantara organisme satu dengan lainnya dan juga hubungannya dengan lingkungan habitat (phylogenetics). Ruang lingkup sistematika yaitu pekerjaan taksonomi (fenetik dan filogeni), evolusi dan geogeografi (Nadia, 2012).
Menurut cuvier (1830) Klasifikasi Ikan Pisang-Pisang Merah (Caesio chrysozona)adalah sebagai berikut :
Kingdom:Animalia
Phylum:Chordata
Class:Pisces
Ordor : Percomorphi
Famili:Scombroidae
                                                   Genus:Caesio
                        Species:Caesio chrysozona
Gambar 1. Ikan Pisang-Pisang Merah (Caesio chrysozona)
(sumber : Adilan, 2014)

Menurut Lacepede (1802)  Klasifikasi ikan katamba (Lethrinus lentjan)adalah sebagai berikut :
Kingdom:Animalia
Phylum :Chordate          
Class :Pisces
Ordor : Percimorphi
Family :Lethrinidae
                                                            Genus:Lethrinus
Species :Lethrinus lentjan
Gambar 2.ikan katamba (Lethrinus lentjan)
(Sumber : Adian, 2012)

Menurut saanin, H (1984) Klasifikasi ikan kurisi (Nemipterus japhanicus)adalah sebagai berikut :
Kingdom:Animalia
        Pylum:Chordata
                   Class:Pisces
                            Ordor:Percomorpht
                        Family:Nemipteridea
              Genus:Nemipterus
                Species:Nemipterus  japhanicus
Gambar 3. Ikan Kurisi (Nemipterus japhanicus)
(Sumber : Setiawan, 2010)
Menurut Riippel (1828), Klasifikasi ikan layang (Decapterus russelli)
Kingdom:Animalia
Phylum : Chordata
     Celass : Actinopterygii
Ordor : Perciformes
Family : Carangidae
Genus : Decapterus
Species : Decapterus russelli
Gambar 4. Ikan layang (Decapterus russelli)
(Sumber : Elvira, 2011)
B.       Morfologi Ikan
Pengenalan struktur ikan tidak lepas dari morfologi ikan yaitu bentuk luar ikan yang merupakan ciri-ciri yang mudah dilihat dan diingat dalam mempelajari jenis-jenis ikan.Morfologi ikan sangat berhubungan dengan habitat ikan tersebut di perairan.Bentuk luar ikan seringkali mengalami perubahan dari sejak larva sampai dewasa, misalnya dari bentuk bilateral simetris pada saat masih larva berubah menjadi asimetris pada saat dewasa.Bentuk tubuh ikan merupakan suatu adaptasi terhadap lingkungan hidupnya atau merupakan pola tingkah laku yang khusus (Nadia, 2009).



1.        Ikan Pisang-Pisang Merah (Cteroucaesio tile)
Ciri tubuh ikan Pisang-Pisang Merah (Cteroucaesio tile)yaitu  badan memanjang, langsing, gepeng, sisik-sisik kecil dan ctenoid. Dahi dan penutup insang bersisik.Mulut kecil dapat disembulkan.Sirip punggung berjari-jari keras 10 dan 14-15 lemah.Sirip dubur berjari-jari keras 3, dan 11-12 lemah.Tapisan insang 10-15, sisik-sisik pada garis rusuk 67-77, sisik-sisik di atas dan di bawah urat sisi tersuusn horizontal.Pangkal sirip punggung dan dubur hampir setengahnya tertutup sisik. Termasuk ikan buas, makanannya invertebrata dapat mencapai panjang 20 cm dan umumnya 15 cm (Dirjen Perikanan, 2005)
2.        Ikan Katamba (Lethrinus lentjan)
Ciri-ciri tubuh adalah memanjang dan gepeng dengan pangkal sirip ekor melebar. Tulang rahang atas melewati mata sebelah belakang sedangkan rahang bawahnya lebih menonjol ke depan dari rahang atasnya. Bentuk kepala tirus ke depan. Warna tubuhnya perak keabuabuan sewaktu dewasa, pada waktu masih burayak warnanya gelap (1-2 bulan), kemudian akan terang setelah menjadi gelondongan (3-5 bulan). Ukuran maksimalnya dapat mencapai 170 cm. (Kordi, 2010).Sedangkan sirip yang lainnya tidak ada menunjukkan ciri ciri khusus jika di bandingkan dengan ikan lainnya(Mulyono, 2011).
Ikan katamba memiliki sirip.Sirip ekor ikan katamba berbentuk pipih.Ikan katamba memiliki sirip punggung berjari jari keras, kuat dan kaku.Jari jari siripnya terdiri dari 3 jari keras dan 7-8 jari lunak pada sirip punggungnya.Sedangkan sirip yang lainnya tidak ada menunjukkan ciri - ciri khusus jika di bandingkan dengan ikan lainnya(Mulyono, 2011).
3.       Ikan Kurisi  (Nemiptorus  japhanicus)
Ikan Kurisi ditemukan pada kedalaman lebih dari 100 m. Ikan initerdapat pada lingkungan laut pada kedalaman mencakup 100-330 m. Habitatnyadi daerah karang dan area dasar berbatu-batu dengan kedalaman minimal 100 m.Distribusi Ikan Kurisi meliputi bagian utara sampai selatan Jepang, secara luasditemukan di Indo-Pasifik dan timur Afrika (Agustinus dkk 2008).
Ikan Kurisi tergolong ikan berdaging putih dan ekonomis.Ikan Kurisitermasuk kedalam jenis ikan demersal.Hal ini dicirikan dengan bentuk mulutyang letaknya agak ke bawah dan adanya sungut yang terletak didagunya yangdigunakan untuk meraba dalam usaha pencarian makanan.Ciri-ciri Ikan Kurisiadalah berukuran kecil, badan langsing, dan padat (Sulistyawati, 2011).
Ikan Kurisi (Nemiptorus japhanicus) merupakan spesies ikan utama yangdigunakan Malaysia dan Asia Tenggara untuk menghasilkan surimi. Ikan iniumumnya ditemukan di wilayah perairan tropis dan subtropis Indo-Pasifik Barat.Ikan Kurisi telah terbukti dapat menghasilkan surimi kualitas tinggi dengan yangkekuatan gel yang bagus, karena warna daging putihnya, tekstur lembut, dankemampuan pembentukan gel kuat. Surimi dari Ikan Kurisi sering digunakansebagai bahan baku pembuatan kamaboko dan surimi berbasiscrab-stick diJepang (Huda, dkk. 2011).




C.      Metode Pengukuran Tubuh Ikan
Ikan merupakan hewan air yang memiliki bentuk, ukuran dan warna yang berbeda tergantung dari spesies dan dimana dia hidup atau beradaptasi dengan lingkungannya. Ciri pada ikan berbeda-beda yang biasa disebut ciri morfometrik dan meristrik. Ciri morfometrik merupakan ciri yang berkaitan dengan ukuran tubuh atau bagian tubuh ikan. Seperti panjang ikan, panjang badan dan sebagainya. Sedangkan ciri meristik yaitu ciri yang berkaitan dengan jumlah jari-jari keras dan lemah pada garis puggung dan sebagainya (Lahiank, 2011).
Ukuran ikan menunjukan besar kecilnya ikan. Ikan dikatakan besar apabila panjangnya lebih dari 10 cm, yang dimaksud panjang yang diukur dari ujung mulut sampai dengan ujung ekor yang disebut ukuran panjang total ikan. Sedangkan, untuk jari-jari sirip dada ikan dapat dikelompokan dalam dua tipe yaitu jari-jari keras dan jari-jari lemah. Jari-jari keras ditulis dengan angka romawi dan jari-jari lemah ditulis dengan menggunakan angka (Rahardjo, 2011).
D.      Sistem Integument
Sistem integumen adalah bagian tubuh yang berada pada bagian terluar. Sistem integumen terdiri dari kulit dan derivat-derivatnya yang terdiri dari sisik, jari-jari sirip, skut, kill, lendir, dan kelenjar racun. Struktur ini dapat berupa struktur yang lunak seperti kelenjar ekresi tetapi dapat juga berupa struktur keras, dari kulit ini disebut juga eksoskeleton. (Radit, 2011),
Sistem integumen atau kulit pada hewan vertebrata secara umum hampir sama yaitu terdiri dari epidermis turunan dari ektoderm dan dermis turunan dari mesoderm. Dua pola warna pada ikan tersebut disebabkan oleh tiga hal, salah satunya yaitu karena konfigurasi fisik (Rahardjo, 2004).
            Fungsi integumen yakni membantu memberikan corak atau pewarnaan pada kulit ikan(sisik) agar dapat memberikan keindahan pada ikan,selain itu integumen juga pelu dimengerti karena bertujuan untuk mengetahui sistim yang berhubungan dengan derifat kulit dan pola warna ikan. Warna pada ikan di sebabkan karena adanya pigmen yang tersebar di epidermis (Heryanti, 2011).






























III. METODE PRAKTIKUM
A.      Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 20Desember 2014 pukul 15.30-17.00 WITA bertempat di Laboratorium I Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univeritas Halu Oleo Kendari.
B.       Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini disajikan pada Table 1 berikut :
Tabel 1. Alat dan Bahan yang Digunakan pada Praktikum Metode Mengukur Tubuh Ikan Beserta Kegunaannya.
No
Alat dan Bahan
Satuan
Kegunaan
1.










2.
Alat
-          Baki
-          Alat menggambar

-          Mistar
Mi  Mikroskop
Kaca mikroskop
       Pingset
Lap kasar
Lap halus

Bahan
-Ikan pisang –pisang merah (caesio chrysozona)
-Ikan katamba (Lethrinus lentjan)
Ikan kurisi (Nemipterus namaptopharus)
Laying (Decapterus russelli)

-
-

Cm
-
-
-
-
-


individu

individu

individu

individu

Tempat untuk meletakkan bahan
Untuk menggambarmorfologi dan anatomi obyek yang diamati
Untuk mengukur obyek
Untuk mengamati sisik ikan

Untuk menjempit bahan
Untuk membersikan meja
Untuk membersikan alat


Sebagai obyek yang diamati

Sebagai obyek yang diamati

Sebagai obyek yang diamati

Sebagai obyek yang diamati

C.      Prosedur Kerja
1.      Morfologi ikan
a.         Menyiapkan sampel ikan yang akan di amati.
b.         Menyiapkanpinset,buku gambar,dan peralatan lainnya.
c.         Letakan ikan diatas meja, lalu amati morfologi ikan : bagian-bagian luar ikan (mata, nasal dan sebagainya): bentuk badan, bentuk dan letak mulut, bentuk dan letak sungut, bentuk dan letak sirip, bentuk ekor, linea lateralis dan morfologi lainnya.
d.        Mencatat setiap morfologi ikan yang di amati.
2.      Metode mengukur tubuh ikan
a.         Menyediakan beberapa jenis ikan,dari spesies yang mempunyai jari-jari lemah dan keras.
b.         Letakan kepala sebelah kiri dan perut menghadap ke bawah.
c.         Buka penutup jari-jari
d.        Amati dan setiap sirip ikan,jenis dan jumlahnya dan panjang jari-jarinya.
e.         Amati sisik pada setiap bagian ikan.
f.          Ukur setiap parameter ukuran ikan.
3.     Sistem Integumen
a.         Menyiapkan beberapa jenis ikan yang bertipe sisik berbeda–beda .
b.         Menyiapkan meja, mikroskop, pinset, buku gambar dan peralatan lainnya.
c.         Letakan ikan di meja, lalu amati bagian luar ikan yang berhubungan dengan sistem integumen, sebutkan system integumennya dibawah mikroskop di tiga jenis ikan yang diamati.







































IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.      Hasil Pengamatan
1.       Jenis Ikan Praktikum
Pada praktikum ini digunakan 3 jenis ikan berbeda yakni sebagai berikut:
a.       Klassifikasi ikan Pisang-Pisang Merah (Caesio chrysozona)
Gambar 5. Ikan Pisang-Pisang Merah (Caesio chrysozona).
(Sumber : Dok. Pribadi, 2014)
b.      Ikan katamba (Lethrinus lentjan)
Gambar 6.Ikan katamba (Lethrinus lentjan).
(Sumber : Dok. Pribadi,2014)


b.        Ikan Kurisi (Nemipterus nemaptophorus)
Gambar 7. Ikan Kurisi (Nemipterus nemaptophorus).
(Sumber : Dok. Pribadi, 2014)
d.        Ikan Layang (Decapterus russelli)
Gambar 8. Ikan Layang (Decapterus russelli).
(Sumber : Dok. Pribadi,2014)








2.       Morfologi
Adapun hasil pengamatan pada morfologi ikan dapat dilihat pada Table 2berikut:
Tabel 2. Hasil pengamatan morfologi ikan:
NO
PARAMETER
BENTUK MORFOLOGI IKAN
1
2
3
4
1
Bentuk tubuh
Globiform
Fisiform
Fisiform
Fisiform
2
Bentuk mulut:





a.Berdasarkan bentuk
Tabung
Tabung
Tabung
Tabung

b.Dapat tidaknya disembulkan
Bisa
Tidak bias
Bias
Bias

c.Berdasarkan letaknya
Terminal
Sub Terminal
Terminal
Terminal
3
Sungut (ada/tidak ada)
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
4
Bentuk sirip ekor
Pokked/Funcate
Nianginata
Lunak
Lunak
5
Sirip pelvic (berpasangan/tidak berpasangan)
Berpasangan
Berpasangan
Berpasangan
Berpasangan
6
Sirip anal (berpasangan/tidak berpasangan)
Tidak berpasangan
Tidak berpasangan
Berpasangan
Tidak berpasangan
7
Warna Tubuh
Merah kekuningan
Hitam keputian
  Merah keputian
Hitam keputian
8
Bar (ada/tidak ada)
Tidak ada
Ada
 Tidak ada
Tidak ada
9
Band (ada/tidak ada)
Ada
Ada
 Tidak ada
Ada
10
Blotch (ada/tidak ada)
Tidak ada
Ada
 Tidak ada
Tidak ada
11
Panjang Premaxila PPa
1 Cm
3 Cm
 1 Cm
2 Cm
12
Jumlah jari-jari sirip dorsal
23
18
 18
7
13
Specklas (ada/tidak ada)
Tidak ada
Ada
 Tidak ada
Tidak ada
14
Stripe (ada/tidak ada)
Tidak ada
Ada
 Tidak ada
Tidak ada
15
Lines (ada/tidak ada)
Ada
Tidak ada
 Tidak ada
Tidak ada
16
Occelated Spot (ada/tidak ada)
Tidak ada
Tidak ada
 Tidak ada
Tidak ada
17
Spot (ada/tidak ada)
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
18
Line Lateralis/Lateralis Line (ada/tidak ada)
Ada
Ada
 Ada
Tidak ada
Keterangan :
1.         Ikan pisang–pisang merah (Caesio chrysozona)
2.         Ikan katamba (Lethrinus lentjan)
3.         Ikankurisi (Nemipterus nemaptophorus)
4.         Ikan layang (Dekapterus russslli)
3.       Metode Mengukur Tubuh Ikan
Adapun hasil pengamatan pada praktikum ini dapat dilihat pada Tabel.3 berikut :
Tabel 3.Hasil Pengamatan pada Praktikum Metode Mengukur Tubuh Ikan
NO
PARAMETER
JENIS IKAN
1
2
3
1.
Berat tubuh



2.
Panjang total (PT)
205 mm
185 mm
17 mm
3.
Panjang standar (PS)
160 mm
145 mm
13 mm
4.
Panjang Kepala (PK)
57 mm
55 mm
45 mm
5.
Panjang bagian sirip dorsal (PsSD)
58 mm
57 mm
47 mm
6.
Panjang Sebelum sirip Pelvik (PsSPe)
53 mm
6 mm
47 mm
7.
Panjang sebelum sirip  anal (PsSA)
101,7 mm
100 mm
25 mm
8.
Tinggi kepala (TK)
33 mm
42 mm
35 mm
9.
Tinggi badan (TB)
45 mm
49 mm
4 mm
10.
Tinggi batang ekor (TBE)
145 mm
16 mm
12 mm
11.
Panjang batang ekor (PBE)
21 mm
22 mm
23 mm
12.
Diameter mata (DM)
13 mm
14 mm
12 mm
13.
Jarak mata ke tutup ingsan (JMTI)
21 mm
29 mm
28 mm
14.
Panjang hidung
7 mm
23 mm
12 mm
15.
Lebar badan (LB)
25 mm
23 mm
14 mm
16.
Panjang dasar sirip dorsal (PDSD)
85 mm
75 mm
65 mm
17.
Panjang dasar sirip anal (PDSA)
35 mm
36 mm
25 mm
18.
Panjang dasar sirip pelvic (PDSPe)
25 mm
37 mm
25 mm
19.
Panjang dasar sirip pectoral (PDSP)
10 mm
7 mm
2 mm
20.
Panjang panjang sirip ekor bagian atas
45 mm
4 mm
35 mm
21.
Panjang sirip ekor bagian bawah (PSEBB)
45 mm
4 mm
35 mm
22.
Panjang memoncong (PM)
29 mm
250 mm
220 mm
23.
Panjang maxilla (PMa)
1 mm
180 mm
100 mm
24.
Panjang premaxilla (PPa)
12 mm
200 mm
120 mm
25.
Jumlah jari-jari sirip dorsal




a.       Jari-jari keras
9
10


b.      Jari-jari lemah
15
8
6
26.
Jumlah jari-jari sirip anal



27.
a.       jari-jari keras
2
4
5

b.      jari-jari lemah
12
7
5
28.
Simbol/rumus sirip dorsal
D.IX.15
D.X.8
D..6
29.
Simbol/rumus sirip anal
A.II.12
A. IV.7
A.V.5
Keterangan:
1.        Ikan pisang–pisang merah (Caesio chrysozona)
2.        Ikan katamba (Lethrinus lentjan)
3.        Ikankurisi (Nemipterus nemaptophorus)
4.        Ikan layang (Dekapterus russslli)
4.Sistem Integumen Ikan
Adapun hasil pengamatan pada praktikum ini dapat dilihat pada Tabel. 4 sebagaiaberikut :
Tabel 4.Hasil Pengamatan pada Praktikum Sistem Integumen Ikan
No
Parameter
Ikan : I
Pisang-Pisang Merah
Ikan : II
katamba
Ikan : I
Kurisi
1.
Tipe sisik (squama)
Clioid
Clioid
Ctenoid
2.
Sisik duri (Scute) (ada/tidak ada)
-
-
-
3.
Lendir (ada/tidak ada)
Ada
Ada
Ada
4.
Lunas (keel) (ada/tidak ada)
-
-
-
5.
Warna sisik 
Hitam
Hitam
Hitam
6.
Bentuk focus
Oval
Oval
Molingkal
7.
Jumlah Primery Radii


-
8
Jumlah Secondary Radii



a.         Bentuk Sisik Ikan pisang – pisang merah
1
Keterangan:
1focus
2 Secondary radi
3. .Primery radi
4. Posterior field
5. Ctenii
1.       Primery Radii

2.       Primery Radii
3.       Secondary Radii
Fokus   
4.       Primery Radii
5.       Secondary Radii
Fokus   
Gambar 9. Bentuk Sisik Ikan
b.        Bentuk Sisik Ikan katamba
1
Keterangan:
1.    focus
2.    Anterior field
3. Primery radi
4. Ctenii
2. Secondary radi

3
2
                             

Gambar 10. Bentuk Sisik Ikan
c.        
Keterangan:
1.Circuli
2..Focus
5.Sekondary radi
6.Lateral field
7.Posterior field

Bentuk Sisik Ikan kurisi
2
1
Gambar 11. Bentuk Sisik Ikan Cycloid         

B.     Pembahasan
Pada praktikum morfologi Ikan, pengukuran tubuh ikan, serta sistem integumen. Ikan yang diamati terdiri dari 4 jenis  yaitu : Ikan pisang pisang merah ((pterocaesio tile), Ikan Katamba (lethinus lentjan), Ikan kurisi(Nemipterus japonicus). Dan ikan layang (Decapterus ruselli) terdapat berbagai macam perbedaan baik morfologinya, ukuran tubuh, dan sistem integumen.
1.        Morfologi Ikan
Pengenalan struktur ikan tidak lepas dari morfologi ikan yaitu bentuk luar ikan yang merupakan ciri-ciri yang mudah dilihat dan diingat dalam mempelajari jenis-jenis ikan.Morfologi ikan sangat berhubungan dengan habitat ikan tersebut di perairan.Bentuk luar ikan seringkali mengalami perubahan dari sejak larva sampai dewasa, misalnya dari bentuk bilateral simetris pada saat masih larva berubah menjadi asimetris pada saat dewasa.Bentuk tubuh ikan merupakan suatu adaptasi terhadap lingkungan hidupnya atau merupakan pola tingkah laku yang khusus (Nadia, 2009).
Pada pengamatan IkanPisang–pisang merah (Pterocaesio tile) adalah ikan yang memiliki warna kulit merah kekuning–kuningan dan memiliki bentuk tubuh fusiform.Ikan pisang–pisang merah merupakan ikan memiliki mulut yang dapat di simbulkan, dan tidak bersungut.Bentuk mulut dari ikan pisang–pisang merah adalah terpedo.Dalam hal ini, ikan pisang–pisang merah memiliki letak mulut yang terminal.Ikan pisang–pisang merah memiliki sirip pelvik yang berpasangan dan tidak memiliki sirip anal.Pada ikan pisang–pisang merah ini memiliki jari-jari sirip dorsal 23, mulutnya dapat di simbulkan.
Pengamatan ikanKatamba (Lethrinus lentjan)ialah ikan ini memiliki bentuk tubuh yang menyerupai pipih(Campressed), bentuk mulutnya ialah mulut dengan klasifikasi mulut berbentuk tabung (tube like)  dan merupakan jenis mulut yang dapat disembulkan. Ikan katamba tidak memiliki sungut. Akan tetapi, ikan Katamaba memiliki bentuk sirip ekor emarginate dan memiliki sirip pelvic yang berpasangan sedangkan sirip analnya tidak berpasangan atau tunggal. Ikan Katamba tidak memiliki bar dan bend akan tetapi ikan katamba memilki blotch. Hal ini sesuai dengan pernyataan Mulyono 2011, menyatakan bahwa bentuk tubuh ikan katamba gepeng atau pipi.
Pada pengamatan pada ikan Kurisi (Nemipterus japonicus) memiliki bentuk tubuh pipih(Campressed), dengan betuk mulut tabung, selain itu ikan Kurisi memiliki mulut dapat menyembulkan pada letak mulutnya terminal. Ikan Kurisi tidak memiliki sungut, bentuk sirip ekornya adalah lunate dan mempunyai sirip pelvik yang berpasangan sedangkan sirip analnya tidak berpasangan. Ikan Kurisi mempunyai warna tubuh merah keputi–putian, ikan kurisi juga tidak memiliki Bar dan Band ataupun Blotch.
Pada pengamatan ikan layang (Decapterus russelli) memiliki bentuk tubuh tropedo (fusiform) dengan bentuk mulut tabung, ikan layang memiliki mulut yang dapat menyembulkan sedangkan letak mulutnya terminal. Ikan layang tidak memiliki sungut, bentuk sirip ekornya lunate, dan mempunyai sirip pelvik yang berpasangan sedangkan sirip anal tidak berpasangan. Ikan layang memiliki warna tubuh hitam keputih–putihan. Ikan layang tidak memiliki Bar dan Blotch, tetapi dia memiliki Band. Jamlah jari–jari sirip dorsal ikan layang 7. Ikan layang tidak memiliki spot.
2.        MetodeMengukurTubuh Ikan
Metode pengukuran tubuh ikan dengan menggunakan mistar.Bentuk dan ukuran dari setiap jenis ikan berbeda-beda. Perbedaan ini biasa digunakan dalam proses pengklasifikasian dan penggolongan suatu jenis ikan. Untuk dapat mengetahui perbedaan ukuran tubuh setiap jenis ikan, tentu dilakukan pengukuran untuk mendapatkan data mengenai ukuran tubuh ikan tersebut. Dalam Rajabnadia (2009) dijelaskan bahwa Pengukuran morfometrik merupakan pengukuran yang diambil dari satu titik ke titik lain tanpa melalui lengkungan badan. Metode pengukuran standar ikan antara lain panjang standar, panjang moncong atau bibir, panjang sirip punggung atau tinggi badan atau ekor.
Berdasarkanhasilpengamatan, IkanPisang–pisang merah (Pterocaesio tile) panjang total 205mm, panjangstandar 16mm, panjang kepal 57 mm, panjangsebelumsirip dorsal 58mm, panjang sebelum sirip pelvik 53 mm, panjang sebelum siri anal 107 mm, tinggi kepala 33 mm, tinggi badan 45 mm, tinggi batangekor 21 mm, panjang batang ekor 21 mm, diameter mata 13 mm, jarak mata ke tutp ingsan 21 mm, panjang hidung 7 mm, lebar badan 25 mm, panjang dasar sirip dorsal 85 mm,  panjangdasarsirip anal 35 mm, panjang dasar sirip pelvic 25 mm, panjang dasarsirip pectoral 10mm, panjangsirip ekor bagian atas 45mm, panjang sirip ekor bagian bawa 45 mm, panjang moncong 29 mm, panjang maxilla 10 mm, panjang permaxilla 12 mm,jumlah jari–jari keras sirip dorsal D.IX dan 15 , jumlah jari–jari keras dan lemah sirip anal A.II dan 12
BerdasarkanhasilpengamatanIkan katamba(Lethrinus lentjan) memiliki, panjang total 185 mm, panjangstandar 145 mm, panjang kepal 55 mm, panjangsebelumsirip dorsal 57 mm,panjang sebelum sirip pelvik 6 mm, panjang sebelum siri anal 100 mm, tinggi kepala 42 mm, tinggi badan 49 mm, tinggi batangekor 16 mm, panjang batang ekor 22 mm, diameter mata 14 mm, jarak mata ke tutp ingsan 29 mm, panjang hidung 23 mm, lebar badan 23 mm, panjang dasar sirip dorsal 75 mm,  panjangdasarsirip anal 36 mm, panjang dasar sirip pelvic 37 mm, panjang dasarsirip pectoral 7 mm, panjangsirip ekor bagian atas 4mm, panjnag sirip ekor bagian bawa 4 mm, panjang mocong 25 mm, panjang maxilla 18 mm, panjang premaxilla 2 mm,jumlah jari–jari keras sirip dorsal D.X. 8, jumlah jari–jari keras dan lemah sirip anal A.IV.7. Hal ini sesui dengan pernyataan Mulyono 2011 yang menyatakan bahwa jari–jari keras sirip dorsal ikan katamba berjumlah 8
Hasil pengamatan pada Ikan kurisi (Nemipterus nemaptophorus) memiliki panjang total 17mm, panjangstandar 13mm, panjang kepal 45 mm, panjangsebelumsirip dorsal 47mm, panjang sebelum sirip pelvik 47 mm, panjang sebelum siri anal 25 mm, tinggi kepala 35 mm, tinggi badan 4 mm, tinggi batangekor 12 mm, panjang batang ekor 23 mm, diameter mata 12 mm, jarak mata ke tutp ingsan 29 mm, panjang hidung 12 mm, lebar badan 14 mm, panjang dasar sirip dorsal 65 mm,  panjangdasarsirip anal 25 mm, panjang dasar sirip pelvic 25 mm, panjang dasarsirip pectoral 2 mm, panjangsirip ekor bagian atas 35 mm, panjang sirip ekor bagian bawa 35 mm, panjang moncong 25 mm, panjang maxilla 1 mm, panjang permaxilla 12 mm,jumlah jari–jari keras sirip dorsal D.VII. 6, jumlah jari–jari keras dan lemah sirip anal A.V. 5.
3.        Sistem Integumen
System integument adalah bagian tubuh yang berhubungan langsung dengan lingkungan luar atau habitat hidupnya.Berdasarkan hasil pengamatan Sistim integument dari ikan pisang – pisang merah (caesio chrysozona) yaitu, memiliki sisik yang tersusun rapih dan hampir berada di seluruh bagian tubuhnya serta memiliki tipe sisik cloid, tubuhnya berlendir, warna sisik hitam, tidak memiliki jumlah primary radii dan jumlah secondary radii tidak ada. Sistim integument pada ikan katamba (Lethrinus lentjan) yaitu memilki tipe sisik cloid, tubuhnya berlendir, warna sisik bening, warna tubuh putih, jumlah primary radii tidak ada dan jumlah secondary radii tidak ada. pengamatan pada ikan kisiur (Nemipteterus nemaptopharus) yaitu ikan kurisi memilki tipe sisik ctenoid, tidak memiki sisik duri, tidak memiliki lunas/keel, tubuhnya berlendir, warna sisik hitam, jumlah primary radii tidak ada dan jumlah secondary radii tidak ada.  







V. SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil pengamatan diatas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.        Morfologi pada ikan pisang-pisang merah (caesio chrysozona) yang berkulitmerah kekuning-kuningan dan memiliki bentuk tubuh fusiform. Ikan pisang-pisang merah merupakan ikan memiliki mulut yang dapat di simbulkan, dan tidak bersungut. Bentuk tubuh dari ikan pisang–pisang merah adalah torpedo. Ikan pisang–pisang merah ini memiliki sirip ekor berbentuk forked. Morfologi pada ikan katamba (Lethrinus lentja) yang memiliki warna kulit hitam keputih-putihan. Ikan ini memiliki mulut yang tidak dapat di simbulkan, ikan ini tidak bersungut. Katamba memiliki bentuk tubuh yang compresed. Berdasarkan bentuk mulut, katamba mempunyai bentuk mulut teroiped sedangkan berdasarkan letak mulut,ikan ini memiliki letak mulut sub terminal,sedangkan pada ikankurisi (Nemipterus nemaptophorus.). ikan kuris mempunyai warna kulit hitam. Ikan kurisi ini memiliki sisik, mulutnya dapat di simbulkan.
2.        Metode pengukuran tubuh ikan dengan menggunakan mistar. Pengukuran tubuh ikan dilakukan dengan mengukurpanjang standar,panjang sebelum sirip dorsal, lebar badan dan lainnya. Untuk ikan pisang – pisang merah memiliki panjang standarnya 16 mm, panjang sebelum sirip dorsal 58 mm, dan lebar badan 25 mm. panjang standar ikan katamba145 mm ,panjang sebelum sirip dorsal57 mm dan lebar badan 23mm. Selanjutnya untuk ikan kurisi ditemukan panjang standar 13 mm,panjang sebelum sirip dorsal 47 mm dan lebar badan 14 mm
3.        Sistem integument pada ikan pisang – pisang merah memiliki tipe sisik cloid, tubuhnya berlendir, warna sisik hitam. Pada ikan katamba (Lethrinus lentjan) yaitu memilki tipe sisik cloid, tubuhnya berlendir, warna sisik bening, warna tubuh putih.Pada ikan kisiur (Nemipteterus nemaptopharus) yaitu ikan kurisi memilki tipe sisik ctenoid, tidak memiki sisik duri, tidak memiliki lunas/keel, tubuhnya berlendir, warna sisik hitam.
B.       Saran
Saran saya adalah dalam praktikum ini agar praktikan diberikan waktu yang lebih luang untuk agar praktikan dapat mengamati objek yang diamati dengan lebih teliti.












































I.         PENDAHULUAN
A.           Latar belakang
Ikan sebagai sumber protein hewani pemanfaatannya semakin digalangkan dewasa ini.
                        Urat daging yang tampak merupakan kesatuan, sebenarnya tersusun dari komponen-komponen penyusunnya, blok urat daging disebut myotome dan kumpulan dari myotome disebut myosepta. Urat daging yang terdapat pada tubuh ikan terbagi oleh  horizontal steletogeneus septum menjadi urat daging bagian atas(epaxial) dan urat daging bagian bawah (hypaxial) (Yusnaini, dkk 2013).
            Pernafasan merupakan proses pengambilan oksigen dan pelepasan karbondioksida dalam suatu organism hidup. Alat pernafasan pada ikan secara umum adalah insang dengan pengecualian pada beberapa jenis ikan yang mempunyai alat pernafasan  paru-paru selalu menggunakan insang. Belum berfungsinya insang pada saat embrio, maka pernafasan dilakukan dengan menggunakan kantung telur  (Yusnaini, dkk 2013).
Saluran pencernaan (tractus digestivus) pada ikan di mulai dari mulut dan berakhir di anus. Secara umum alat pencernaan pada ikan meliputi: mulut (mouth), dan rongga mulut, faring (pharynx), esophagus (esophagus), lambung (stomach), pylorus (pyloric), usus (intenstine), dan anus (Yusnaini,dkk 2013).
Berdasarkan hasil diatas, maka perlu dilakukan praktek yang berhubungan dengan sistem urat daging, sistem pernafasan, dan sistem pencernaan.


B.            Tujuan dan mamfaat
1.        Sistem Urat Daging
Tujuannya dari praktikum pada pengamatan sistem urat daging yaitu mengamti letak dan jenis-jenis urat daging yang terdapat dalam tubuh ikan
Manfaatnya adalah setelah praktikumdi harapkan praktikan mampu mengetahui letak dan jenis-jenis urat daging yang terdapat pada tubuh ikan.
2.        Sistem Pernafasan
Tujuann dari praktimu ini, pada pengamatan sistem pernafasan yaitu untuk mengamati letak dan bagian-bagian alat yang digunakan dalam proses pernafasan yang meliputi insang serta ada atau tidaknya alat peenafasan tambahan yang biasanya terdapat pada beberapa jenis ikan tertentu.
Manfaatnya adalah, setelah praktikum diharapkan praktikan mampu mengetahui letak  dan bagian-bagian alat yang digunakan pada proses pernafasan.
3.        Sistem Pencernaan
Tujuan dari percobaan praktikum ini, pada pengamatan sistem pencernaan ikan yaitu untuk mengamati bentuk dan letak bagian-bagian alat pencernaan makan pada beberapa golongan ikan serta melihat ada atau tidaknya modifikasi yang terjadi pada alat pencernaan tersebut
Manfaatnya adalah, setelah praktikum diharapkan praktikan  mampu mengetahui sistem pencernaan pada ikan



II.  TINJAUAN PUSTAKA
A.           Klasifikasi
1.      Klassifikasi ikan cakalang (Katsuwonus pelamis)
Adapun klasifikasi dari ikan cakalang menurut (Linnaeus, 1758) adalah sebagai berikut:
Kindom : Animalia
Phylum: Chordata
                Classis: Teleostei
                   Ordo: Perciformes
                               Familia: Scombridae
                                           Genus: Katsuwonus
                                                       Spesies: Katsuwonus pelamis
Gambar 12. Ikan cakalng (Katsuwonus pelamis)
(Sumber :Linnaeus, 1758)







2.        Klasifikasi ikan kembung lelaki(Rastrelliger kanagurta)
Adapun klasifikasi dari ikan kembung lelaki menurut Cuvier (1813) adalah sebagai berikut:
Kingdom: Animalia
          Phylum: Chordata
                    Class: Pisces
                              Ordo: Percomorphi
                                          Family: Scombridae
                                                           Genus: Rastrelliger
                                                                         Species: Rastrelliger kanagurta
Gamber : 13.ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta)
(Sumber : Arwana. 2014)















3.        Klasifikasi ikan layang (Decapterus russelli)
Adapun klasifikasi dari ikan layang menurut Saani (2000) adalah sebagai berikut:
 Kindom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Actinopterygii
Order : Perciformes
Family : Carangida
Genus : Decapterus
Species : Decapterus russeli
Gambar 14. Ikan layang (Decapterus russelli)
(Sumber : Elvira, 2011)


B.            Sistem Urat Daging
Urat daging (otot) kesatuan yang tersusun dari komponen-komponen penyusunnya.Blok otot di sebut (Myotom), dan kumpulan dari myotom disebut (myosepta).Otot yang terdapat pada tubuh ikan terbagi oleh (Horizontal steletogeneus septrum) menjadi otot bagian atas (epaxial) dan otot bagian bawah (hypaxial) (Nadia, 2014).Ikan memiliki 3 urat daging, yaitu urat daging bergaris, urat daging licin dan urat daging jantung. Dilihat secara menyeluruh, urat daging bergaris di seluruh tubuh ikan teriri dari kumpulan urat daging pada kepala ikan. Urat daging licin terdapat pada anus, arteri dan saluran ekskresi. Sedangkan pada urat daging jantung disebut juga sebagai micocardium (Ranjani, 2001).
Urat daging yang terdapat di kedua sisi ikan dibedakan atas 2, yaitu bagian atas (epaxial) dan bagian bawah (hypaxial). Kedua bagian tersebut dipisahkan oleh satu selaput yang dinamakan Horizontal Skeletogeneus Septum. Urat daging diseluruh tubuh ikan yang terdiri dari kumpulan blok urat daging, pada tiap blok dinamakan myotome yang dilapisi oleh myosepta. Pada urat daging yang menempel pada tubuh ikan di sebelah kiri dan kanan di sebelah belakang kepala sampai ke batas ekor, myotome tersusun menurut pola yang biasa dibedakan menjadi 2, yaitu tipe clostomine dan tipe piscine (Nomleni, 2001).
C.           Sistem Pernafasan
Pernafasan adalah proses pertukuran oksigen (O2) dan karbon dioksida (CO2) antara organisme dengan lingkungannya atau proses pengambilan oksigen dan pelepasn karbondioksida dalam suatu organisme (Nadia, 2014). Ikan bernapas dengan insang yang terdapat pada sisi kanan dan kiri kepala. Ikan bertulang sejati misalnya ikan mas, mempunyai tutup insang atau disebut operculum. Insang mempunyai lembaran yang halus yang banyak mengandung kapiler darah sehingga berwarna merah. Pada beberapa jenis ikan, rongga insangnya meluas membentuk lipatan tidak teratur yang disebut labirin. Rongga labirin berguna untuk menyimpan udara sehingga ikan tersebut dapat hidup di lingkungan yang kurang oksigen (Widyako, 2002).
Dalam pernapasan ikan, insang ikan terbagi tiga bagian yaitu : daun insang (gill filament), Tulang lengkung insang (gill arch), Tapis insang (gill racker).Dimana daun insang (gill filament)yaitu bagian yang mengandung kapiler-kapiler dan berfungsi untuk mengikat oksigen yang terlarut dalam air pada proses pernapasan. Lengkung insang (gill arch) mempunyai saluan yang memngkinkan darah dapat keluar dan masuk dari insang, merupakan tempat melekatnya filament dan tapis insang.Tapis insang terletak pada bagian yang terdepan, yang pada jenis ikan herbivore pemakan plankton (plankton feeder) berfungsi sebagai menyaring makanan dan relative panjang dan dapat di bandingkan dengan dengan jenis ikan carnivore (Nadia, 2014).
Kepala ikan yang telah dicopot insangnya menampakkan daun-daun insang berbentuk kipas yang tersusun secara tumpang tindih. Pada pangkal daun insang persis di belakang rongga mulut terdapat tapis insang (Ommanney, 2001).
D.           Sistem Pencernaan
Pencernaan adalah proses penyederhanaan makanan melaului cara fisik dan kimia, sehingga menjadi sari-sari makanan yang mudah diserap di dalam usus, kemudian diedarkan ke seluruh organ tubuh melalui sistem peredaran darah.
Organ-organ Saluran pencernaan terdiri dari (dari arah depan/anterior ke arah belakang/posterior) berturut-turut hati, empedu, pancreas, lambung, esophagus, mulut/rongga, mulut, usus, pilorus dan pilorik saeka. Serta organ-organ tambahan seperti kelenjar hati, kelenjar empedu, dan kelenjar pancreas. Dan Organ-organ pelengkap seperti sungut, gigi, tapis insang (Heryanti. 2011)
.
Secara anatonmi, alat percernaan ikan behubungan erat dengan bentuk tubuh, kebiasaan makanan (kategori ikan), dan kebiasaan makan (tingkah laku), serta umur (stia ikan).selain itu struktur alat percernaan dapat digunakan juga untuk membedakan spesien satu dengan yang lain. Alat percernaan yang sering mengalami mofikasi adalah bibir, mulut, lambung. Untuk efektifitas system pencernan, terdepat modifikasi-modifikasipada lambung dan usus dengan mengetahui jenis makanan dan cara makannya, dapat diterapkan pada usaha budidaya ikan (Nadia, 2014).
Fungsi utama pencernaan makanab adalah untuk menghancurkan makanan menjadi zat terlarut sehingga makanan tersebut mudah diserap dan kemudian digunakan dalam proses metabolism. Proses pencernaan terjadi dalam dua bentuk, yaitu secara fisik (terutama dalam rongga mulut dan lambung), serta secara kimiawi (terutama dalam lambung dan usus) (Nadia, 2014).













III.        METODE PRAKTIKUM
A.           Waktu dan tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari SabtuTanggal 27 Desember 2014 pukul 15.30-17.00 WITA bertempat di Laboratorium I Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Halu Oleo Kendari.
B.            Alat dan bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum beserta kegunaannya
No
Alat dan Bahan
Satuan
Kegunaan
1.









2.
Alat
Baki atau talenan
Termus
Peralatan bedah
Alat menggambar

-    Mistar
-    Pinset
kamera
-   
Bahan
-    Air panas
-    Ikan cakalang (Katsuwonus pelamis)
-    Ikan kembung lelaki(Rastrelliger kanagurta)
-    Ikan layang (Decapterus russelli

-
-
-
-

Cm
-
-

-
individu

individu

individu

Tempat untuk meletakkan bahan
Tempat air panas
Untuk membedah bahan
Untuk menggambar morfologi dan anatomi obyek yang diamati
Untuk mengukur obyek
Untuk mengambil sisik ikan
Mengambil gambar objek

Untuk memanaskan ikan
Sebagai obyek yang diamati

Sebagai obyek yang diamati

Sebagai obyek yang diamati








C.           Prosedur kerja
Adapun prosedur kerja pada percobaan ini yaitu sebagai berikut:
1.       Sistem Urat Daging
a.         Menyiapkan sampel ikan yang akan diamati
b.        Buang semua sisik terutama pada bagian yang akan dikelupas kulitnya.
c.         Ikan yang telah direndam dengan air panas (mendidih) kira-kira 1-2 menit sampai ikan kejang dan kulitnya mudah dikelupas,perendaman jangan terlalu lama sebab urat daging akan rusak sehingga akan menyulitkan pengelupasan.
d.        Kelupaslah kulit ikan dengan menggunakan pinset dan jarum penusuk.
e.         Bukalah beberapa keping tulang pada bagian kepala untuk mengamati urat dagingnya.
2.      Sistem Pernafasan
a.         Mengambil sampel ikan
b.        Buatlah sayatan pada penutup insang terdepan dari dasar keatas dan teruskan agar ke bagian depan sampai rongga bagian atas dapat dikelupas dan dapat dilihat alat pernafasan tambahan.
c.         Kemudian  amati bagian-bagian dari insang.
d.        Kemudian menghitung bulu insang
3.       Sistem Pencernaan
a.       Menusukkan gunting bedah dengan bagian yang tumpul ke bagian anus, kemudian tubuh ikan ke arah rongga perut bagian atas.
b.        Setelah gunting mencapai ujung rongga perut bagian atas terdepan bagian kepala), mengarahkan gunting ke bagian bawah sampai ke dasr perut kemudian membuka daging yang telah tergunting tersebut sehingga organ-organ tubuh bagian dalam akan terlihat, dan alat pencernaan dapat di keluarkan dari dalam tubuh.
c.         Menggunting bagian bawah kepala ikan hingga terbelah dua, memotong bagian terdepan esophagus dan menarik usus keluar kemudian memotong ujung akhir anus.


































IV.        HASIL DAN PEMBAHASAN
A.      Hasil pengamatan
1.        Jenis ikan praktikum
a.      Ikan cakalang (Katsuwonus pelamis)
Gambar 15. Ikan cakalang (Katsuwonus pelamis),
(Sumber : Dok. Pribadi, 2014)

b.      Ikan kembung lelaki(Rastrelliger kanagurta)
Gambar 16. Ikan (Rastrelliger kanagurta)
(Sumber : Dok. Pribadi, 2014)

c.       Ikan Layang (Decapterus russelli)
Gambar 17.Ikan Layang (Decapterus russelli)
(Sumber : Dok. Pribadi, 2014)
2.        Hasil pengamatan pada Sistem Urat Daging Ikan
a.          Urat daging bagian luar tubuh ikan  cakalang (Katsuwonus pelamis)
Keterangan:
1. Myosepta
2. Myotome
3. Horizontal skeletogenous septum

3
2
1
Gambar 18. Urat daging tampak bagian samping kiri tubuh ikan.
(Sumber : Dok. pribadi, 2014)

b.      Penampang melintang otot ikan cakalang (Katsuwonus pelamis)
2
Keterangan :
5
1. supracarinalis
4
2. myosepta
3. myotome
3
4. corpus vertebrae
5. infracarinalis
1
6. hepaxial

Gambar 19. Urat daging tampak melintang pada ikan l cakalang (Katsuwonus pelamis)
(Sumber : Dok. pribadi, 2014)


3.        Hasil pengamatan pada Sistem pernafasan
Adapun hasil pengamatan pada percobaan ini dapat di lihat pada Tabel2 berikut:
Tabel 6. Hasil Pengamatan Sistem Pernafasan Ikan
No
Parameter
Ikan 1
Ikan 2
1.
Upper Limb rakers
46
75
2.
Lower Limb rakers
47
26
3.
Gill rakers
36
45
Keterangan :
1. Ikan cakalang (Katsuwonus pelamis)
2. Ikan kembung lelaki(Rastrelliger kanagurta)



a.       Sistem pernafasan cakalang (Katsuwonus pelamis)
1
22   2
3 3
Keterangan :
1. Upper limb rakers
2. Lowers limb rakers
3. Gill rakers

 




           


Gambar 20. Insang dan bagian-bagiannya
(Sumber : Dok. Pribadi.2014)


b.      Sistem pernafasan Ikan kembung lelaki(Rastrelliger kanagurta)

Keterangan :
1. Upper limb rakers
2. Lowers limb rakers
3. Gill rakers

1
3
2
 




           


Gambar 21. Insang dan bagian-bagiannya
(Sumber : Dok. pribadi.2014)








4.        Hasil pengamatan pada sistem pencernaan
            Pengamatan pada sistem pencernaan dapat dilihat pada Tabel 7 berikut:
Tabel 22. Hasil pengamatan sistem pencernaan
No.
Parameter
Ikan Cakalang
Ikan Layang
Ikan Kembung lelaki
1.
Panjang saluran pencernaan
4
7
3,5
2.
Jumlah pilorik Kaeka
1
4
4
3.
Bagian-bagian saluran pencernaan
Mulut dan rongga mulut, faring, esophagus, lambung, pylorus, usus dan anus
Mulut dan rongga mulut, faring, esophagus, lambung, pylorus, usus dan anus
Mulut dan rongga mulut, faring, esophagus, lambung, pylorus, usus dan anus

Keterangan:
1.            Ikan cakalang (Katsuwonus pelamis)
2.            Ikan kembung lelaki(Rastrelliger kanagurta)
3.            Ikan Layang (Decapterus russelli)
Keterangan :
1.    Mulut
2.    Rongga Mulut
3.    Faring
4.    Esopagus
5.    Lambung
6.    Pilorus
7.    Usus
8.    Anus

a.    Saluran pencernaan Ikan cakalang (Katsuwonus pelamis)
1
2
5
7
8
 







Gambar  22. Bentuk saluran pencernaan ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) (Sumber : Dok. Pribadi,2014)






b.      Sistem pencernaan Ikan kembung lelaki(Rastrelliger kanagurta))
Keterangan :
1.   Mulut
2.   Rongga mulut
3.   Faring
4.   Esophagus
5.   Lambung
6.   Pilorus
7.   Usus
8.   Anus
7
511
211
 
8
111

Gambar 23. Bentuk saluran pencernaan ikan kembung lelaki(Rastrelliger kanagurta))
 (Sumber : Dok. Pribadi, 2014)

c.         Sistem pencernaaan Ikan Layang (Decapterus russelli)
Keterangan :
1.   Mulut
2.   Rongga mulut
3.   Faring
4.   Esophagus
5.   Lambung
6.   Pilorus
7.   Usus
8.   Anus
 
1
8
5
2
                             
Gambar 24. Bentuk saluran pencernaan ikan Layang (Decapterus russelli).
 (Sumber : Dok. Pribadi, 2014)
B.  Pembahasan
Adapun pembahasan dari percobaan ini adalah sebagai berikut :
1.      Sistem Urat Daging
Sistem urat daging merupakan suatu kesatuan antara komponen-komponen penyusunnya, komponen tersebut berupa blok urat daging yang disebut myotome dan kumpulan dari myotome disebut mysepta.
Berdasarkan pengamatan yang pertama dilakukan pada bagian luar dari tubuh ikan, disini urat daging yang menyusun tubuh ikan sebelah kiri dan kanan, dari belakang kepala sampai kebatang ekor myotome dan myosepta tersusun menurut bentuk-bentuk yang tertentu pada ikan cakalang (Katsuwonus pelamis)Mulai dari bagian kepala ikan, rahang maupun tulang lengkung insang.
            Hal ini sesuai dengan pernyataan Ranjani, 2001yang mengatakan bahwa secara keseluruhan urat daging bergaris diseluruh tubuh ikan terdiri dari kumpulan urat daging kepala ikan, urat daging berhubungan dengan rahang dan tulang lengkung insang, urat daging sirip tunggal berfungsi untuk menggerakkan sirip. Pengamatan kedua difokuskan pada potongan melintang dari urat daging yang dibagi atas 3 bagian yaitu bagian belakang kepala, bagian perut dan bagian depan sirip ekor. Pada bagian kepala pada ketiga tersebut tersusun atas “vertical septum“ merupakan garis yang memisahkan antara bagian kanan dan kiri dari tubuh ikan, “horizontal“ skeletogeneus “septum“ merupakan garis yang memisahkan antara atas bawah dari potongan melintang tubuh ikan dan “red lateral muscle“ merupakan bagian yang berwarna merah tua. Pada bagian badan terdiri bagian yang sama dengan kepala namun telah terdapat bagian “bodi cavity“ yang merupakan tempat diletaknya organ dalam dari tubuh ikan berupa alat pencernaan, alat pernafasan dan gelombang renang. Dan pada bagian depan sirip caudal terdiri dari bagian yang sama dengan bagian depan kepala dan perut, namun terdapat bagian ”supracarinalis” bagian ujung atas potongan ikan.


2.        Sistem Pernafasan
Pernafasan merupakan proses pengambilan oksigen dan pelepasan karbondioksida dalam suatu organism hidup. Alat pernafasan pada ikan secara umum adalah insang dengan pengecualian pada beberapa jenis ikan yang mempunyai alat pernafasan  paru-paru selalu menggunakan insang. Belum berfungsinya insang pada saat embrio, maka pernafasan dilakukan dengan menggunakan kantung telur.
Pada pengamatan yang di lakukan pada ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) di ketahui jumlah upper limb rakers 46, jumlah lower limb rakers 47dan gill rakers  36. ikankembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) jumlah  tapis insang (Gill Rakers) 45, upper limb rakers 26, jumlah lower limb rakers 75. Berdasarkan pengamatan yang di lakukan pada Ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) dan ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta)tapis insang (Gill Rakers) ikan cakalang dan kembung lelaki, dari ke dua ikan tersebut ikan kembung lelaki memiliki tapis insang yang lebih banyak dari pada ikan cakalang.
3.      Sistem Pencarnaan
Pencernaan adalah proses penyederhanaan makanan melaului cara fisik dan kimia, sehingga menjadi sari-sari makanan yang mudah diserap di dalam usus, kemudian diedarkan ke seluruh organ tubuh melalui sistem peredaran darah.
Organ-organ Saluran pencernaan terdiri dari (dari arah depan/anterior ke arah belakang/posterior) berturut-turut hati, empedu, pancreas, lambung, esophagus, mulut/rongga, mulut, usus, pilorus dan pilorik saeka. Serta organ-organ tambahan seperti kelenjar hati, kelenjar empedu, dan kelenjar pancreas
.
Pada pengamatan terhadap sistem pencernaan, ikan yang di amati yaitu ikan cakalnag, ikan kembung lelaki, dan ikan layang. Fungsi penting dari pencernaan yaitu menghancurkan makanan menjadi zat terlarut sehingga makanan tersebut mudah diserap dan kemudian digunakan dalam proses metabolisme tubuh. Proses terjadi pencernaan tersebut dipengaruhi dalam dua bentuk yaitu secara fisik yang terjadi dalam rongga mulut dan secara kimiawi yang terjadi dalam lambung dan anus.  Hal ini didukung oleh Nadia 2014, yang menyatakan bahwa fungsi alat pencernaan pada ikan adalah untuk menghancurkan makanan menjadi zat yang terlarut sehingga makanan tersebut mudah diserap dan kemudian digunakan dalam proses metabolisme. Proses pencernaan terjadi dalam dua bentuk, yaitu secara fisik (terutama dalam rongga mulut dan lambung). Serta secara kimiawi (terutama dalam lambung dan usus).
Alat pencernaan pada ikan meliputi dalam tubuh ikan erat ketika dihubungkannya dengan jenis makanan yang akan dimakannya sehingga terdapat beberapa adaptasi alat pencernaan makanan ikan terhadap makanannya untuk membedakan ikan antara spesies yang lainnya.
V.      SIMPULAN DAN SARAN
A.  Simpulan
Adapun simpulan dari hasil pengamatan  ini adalah sebagai berikut:
1.    Sistem Urat Daging
Pada pengamatan ikan cakalang di di ketahui seluruh tubuh ikan cakalang bagian luar terbentuk dari urat daging myotomdan myoseptayang menyusun tubuh ikan sebelah kiri dan kanan, dari belakang kepala sampai kebatang ekor.
2.    Sistem Pernafasan
Pada pengamatan yang di lakukan pada ikan cakalang (Katsuwonus pelamis)  di ketahui jumlah upper limb rakers 46, jumlah lower limb rakers 47 dan gill rakers  36. ikankembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) jumlah  tapis insang (Gill Rakers) 45, upper limb rakers 26, jumlah lower limb rakers 75.
3.    Sistem pencernaan
Proses pencernaan terjadi secara fisik terutama terjadi dalam rongga mulut dan lambung serta secara kimiawi terutama yang terjadi dalam lambung dan anus pada ikan. Alat pencernaan pada ikan meliputi dalam tubuh ikan ketika dihubungkannya dengan jenis makanan yang akan dimakannya sehingga terdapat beberapa adaptasi alat pencernaan makanan ikan terhadap makanannya untuk membedakan ikan antara spesies yang satu dengan spesies yang lainnya.
B.         Saran
Praktikum seharusnya dilaksanakan lebih lama agar mendapatkan data yang akurat sehingga praktikan tidak terburuh-buru dan lebih mengerti.