Jumat, 12 Juli 2019

ANALISIS KERENTANAN PENANGKAPAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI PERAIRAN PULAU BUNGKUTOKO KOTA KENDARI


I.       PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

Rajungan merupakan sumber daya ikan dari kelompok dekapoda bercangkang yang menyumbang 10% produksi perikanan global dan menunjukkan kecenderungan terus meningkat sejak tahun 1970 (FAO 2012). Potensi rajungan di perairan Indonesia cukup melimpah dan dapat ditemukan disepanjang perairan Indonesia yang berpantai pasir dan berlumpur. Total potensi rajungan Indonesia diperkirakan sebesar 7.2 juta ton/tahun (Sulistiono, 2009). Pada tahun 2010 Indonesia dapat memproduksi rajungan sebesar 43.002 ton, atau mengalami peningkatan sebesar 22.83 % dari tahun 2009 (KKP, 2010).  
Kepiting rajungan (Portunus pelagicus) merupakan sumberdaya perikanan yang mempunyai nilai ekonomis penting dan tergolong salah satu komoditi ekspor keberbagai negara. Menurut Adam, et al (2006) menyatakan bahwa ekspor kepiting rajungan telah dilakukan dalam bentuk segar maupun olahan kebeberapa negara seperti Singapura, Malaysia, Jepang, Hongkong, Taiwan dan Amerika Serikat. Tingginya permintaan pasar lokal hingga dunia, mendorong para nelayan untuk melakukan penangkapan kepiting rajungan secara terus-menerus. Aktivitas penangkapan yang dilakukan oleh para nelayan tidak mememikirkan dampak kepunahan dari populasi kepiting rajungan. Selain itu, seiring dengan peningkatan jumlah penduduk serta terdegradasinya ekosistem pesisir sebagai habitat organisme perairan, maka akan menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup kepiting rajungan terutama pengaruhnya terhadap ketersediaan makanan sebagai salah satu faktor penting dalam menunjang pertumbuhannya. Kondisi ini juga akan memperlambat reproduksi dari kepiting rajungan sehingga dapat menyebabkan berkurangnya populasi kepiting rajungan hal ini terlihat dari semakin mengecilnya ukuran kepiting yang tertangkap.
Pulau Bungkutoko adalah salah satu pulau yang terletak di perairan Teluk Kendari bagian luar. Wilayah daratan Bungkutoko sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan yang menggantungkan hidupnya pada hasil laut. Perairan Bungkutoko merupakan salah satu wilayah pesisir yang memiliki potensi sumber daya perikanan yang melimpah. Kondisi perairan yang landai dan  struktur dasar perairan yang berpasir dan berlumpur berfungsi sebagai pendukung kehidupan bagi organisme yang hidup di wilayah ini. Salah satu organisme yang banyak terdapat di wilayah tersebut adalah Kepiting rajungan (P. pelagicus). Aktivitas penangkapan kepiting rajungan di Bungkutoko marupakan suatu usaha yang menguntungkan bagi para pelaku sehingga dilakukan secara terus menerus tanpa memperhatikan keadaan populasinya.  
Faktor harga jual yang cukup tinggi serta semakin meningkatnya permintaan ekspor akan rajungan telah yang merangsang nelayan untuk lebih mengeksploitasi sumberdaya tersebut. Kondisi ini tentunya akan menyebabkan terjadinya peningkatan penangkapan terhadap rajungan sehingga mendorong nelayan berlomba-lomba untuk meningkatkan upaya penangkapan (effort). Apabila hal ini terjadi secara terus-menerus maka sumberdaya rajungan tersebut akan mengalami tekanan penangkapan yang tinggi dan perlahan-lahan akan terkuras sehingga terjadi penurunan stok populasi rajungan di laut yang tentunya akan mengarah kepada kepunahan.
Berkurangnya jumlah populasi rajungan karena tingginya penangkapan ditandai dengan semakin berkurangnya hasil tangkapan, ukuran rajungan yang tertangkap semakin kecil dan fishing ground yang semakin jauh. Selain itu, apabila habitatnya mendapat gangguan berat dapat merubah struktur populasinya bahkan dapat menyebabkan kepunahan (Wiadnya et al, 2005). Oleh karena itu, diperlukan suatu kajian mengenai tingkat kerentanan populasi rajungan sebagai bahan informasi dasar dalam penentuan atau perencanaan model pengelolaan sumber daya rajungan yang optimal agar pemanfaatannya tetap lestari.
Sehubungan dengan upaya pengelolaan tersebut FAO (1995) menyarankan salah satu pendekatan praktis yang dapat dikembangkan untuk mengevaluasi produktivitas dan tingkat resiko dari upaya penangkapan berlebihan dengan menggunakan pendekatan Productivity and Susceptibility Analysis (PSA). Pendekatan tersebut mencoba untuk mengevaluasi kerentanan suatu sumberdaya yang diduga akibat dari aktivitas penangkapan yang berlebih                     (Hobday, et al., 2007). Menurut Zhou and Griffiths (2008), pendekatan berbasis resiko seperti PSA ini telah diperluas dan fokus pada pendekatan yang diimplementasikan sebagai pendekatan berbasis ekosistem untuk pengelolaan perikanan. Menurut Cortes, et al (2009), pendekatan ini baik diterapkan pada perikanan yang memiliki data catch yang terbatas dan effort yang bersifat time series dalam pengkajian stok karena adanya ketidakpastian data, oleh karena itu pendekatan ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan menilai spesies yang mengalami kerentanan.

B.  Rumusan Masalah

Kepiting rajungan merupakan salah satu sumberdaya perikanan yang sejak lama dimanfaatkan oleh nelayan di Pulau Bungkutoko baik untuk dijual maupun dikonsumsi sebagai pangan alternatif untuk memenuhi kebutuhan protein. Saat ini, penangkapan sumberdaya rajungan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk sehingga kondisi tersebut akan sangat mengacam keberlanjutan sumberdaya tersebut. Apalagi menurut (Kangas, 2000) bahwa sampai saat ini seluruh kebutuhan ekspor rajungan masih mengandalkan dari hasil tangkapan di laut, sehingga dikuatirkan akan mempengaruhi populasinya di alam. Penurunan jumlah hasil tangkapan dan ukuran rajungan serta perubahan daerah penangkapan (fishing ground) merupakan bukti terjadinya tekanan terhadap sumberdaya tersebut.
Salah satu pendekatan berbasis resiko yang dapat digunakan dan saat ini terus dikembangkan untuk mengevaluasi permasalahan tersebut adalah dengan melakukan pendekatan analisis berbasis resiko ekologi dan deplesi akibat penangkapan sumberdaya rajungan di Pulau Bungkutoko. Pendekatan ini menjadi salah satu cara praktis yang diharapkan dapat menemukan solusi dalam pengelolaan sumberdaya rajungan.

C.  Tujuan

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kerentanan kepiting rajungan di Perairan Pulau Bungkutoko Kota Kendari.

D.  Luaran

Adapun luaran yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
1.    Sebagai bahan informasi mengenai potensi sumberdaya yang ada di wilayah pesisir.
2.    Sebagai bahan rujukan dalam pengelolaan sumberdaya rajungan yang optimal dan berkelanjutan.

E.  Manfaat

Manfaat dari penelitian ini yaitu sebagai bahan informasi tentang kerentanan penangkapan rajungan kepada penegak kebijakan dalam menentukan pengelolaan yang sesuai dan menambah khasanah ilmu pengetahuan.

II.    TINJAUAN PUSTAKA

A.      Pendekatan Productivity and Susceptibility Analysis (PSA)

Analisis produktivitas dan kerentanan atau Productivity and Susceptibility Analysis (PSA) merupakan analisis semi kuantitatif untuk mengetahui kerentanan sumberdaya sebagai resiko yang ditimbulkan akibat aktivitas penangkapan. PSA menilai berdasarkan pada dua karteristik, yaitu: a) kerentanan, dimana dampak ekologi ditentukan oleh kerentanan dari akibat aktivitas penangkapan dan b) produktivitas, yang ditentukan berdasarkan tingkat dimana unit stok dapat kembali pulih setelah potensial deplesi atau kerusakan akibat kegiatan penangkapan yang terjadi (Triharyuni, 2013).
PSA awalnya dikembangkan untuk mengklasifikasikan perbedaan pada keberlanjutan bycatch dalam perikanan udang Australia dengan melakukan evaluasi produktivitas sumber daya dan kerentanan dalam perikanan. Produktivitas dianggap sebagai kemampuan atau ketahanan spesies untuk memulihkan dan atau mempertahankan populasinya yang dalam keadaan terancam akibat dari penangkapan yang berlebihan (over fishing) sedangkan kerentanan merupakan kemungkinan atau kecenderungan spesies untuk ditangkap dan merupakan akibat dari kegiatan penangkapan (Stobutzki, et al., 2001). Analisis produktivitas dan kerentanan (PSA) adalah sebuah cara yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kerentanan stok dengan dasar produktivitas biologi dan kerentanan perikanan yang mengeksploitasinya. PSA dapat digunakan sebagai upaya penelitian yang difokuskan pada jenis sumberdaya dengan kerentanan yang tinggi dan informasi biologi yang sedikit (Cortes, et al., 2009).
Americas MRAG (2014), menyatakan bahwa analisis kerentanan yang berorientasi pada pendeteksian secara cepat terhadap keberlanjutan risiko, akan memberikan evaluasi pencegahan pada kerentanan sumber daya ikan yang di eksploitasi secara berlebihan. Penilaian ini mengidentifikasi kesenjangan dan ketidakpastian terhadap tindakan pengelolaan yang mengarah pada ketidakmampuan untuk memperkirakan secara akurat terhadap Maksimum Yield (MSY). Sumber daya lebih rentan jika produktivitasnya rendah karena lambatnya tingkat reproduksi atau faktor-faktor lain yang mempengaruhi kehidupan spesies, dan/atau memiliki kerentanan tinggi akibat dari dampak aktivitas penangkapan serta faktor-faktor lain seperti, dampak dari alat tangkap terhadap habitat dan ukuran populasi yang sudah berkurang. Memahami kerentanan sumber daya bisa menjadi bagian kunci dari informasi untuk melakukan pengelolaan. Salah satu alat yang tersedia untuk penilaian kerentanan adalah Analisis Produktivitas dan Kerentanan (PSA) sebagai metode untuk memberikan peringkat dari hubungan kerentanan populasi ikan yang berbeda dengan memetakan populasi dalam grafik yang mencerminkan kerentanan dan skor produktivitas seperti pada Gambar 1.


              
       Gambar 1. Skor Atribut produktivitas dan Kerentanan
Struktur dari PSA tersebut diatur oleh keputusan yang dibuat oleh para ahli yang relevan, dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti bagaimana pencegahan model keinginan pengguna, jenis informasi secara luas tersedia deretan untuk penilaian sumber daya, dan jenis interpretasi yang akan diambil dari hasil. Sebagai contoh, NOAA PSA mencakup komponen tambahan untuk mengevaluasi ketidakpastian data, yang memungkinkan pengguna untuk menyelidiki lebih lanjut atribut dimana data yang lebih baik. PSA bersifat sebagai pencegahan, terutama bila atribut data yang tidak dapat diandalkan atau informasi yang didapatkan dari spesies yang sama, dalam beberapa kasus, memperoleh data yang lebih spesifik, dapat mengubah skor risiko secara keseluruhan untuk spesies tertentu (Americas, 2014).
Metode PSA adalah perangkat yang baik yang memungkinkan para pemangku kepentingan dan regulator untuk mendapatkan perspektif tentang risiko yang melekat dari sumber daya perikanan terhadap suatu kegiatan penangkapan. Hal ini juga memungkinkan para ilmuwan untuk memperjelas dimana informasi khusus masih kurang dan bagaimana memfokuskan sumber daya untuk mengumpulkan informasi lebih lanjut, karena memperhitungkan atribut yang berbeda pada risiko. PSA adalah metode penilaian yang memungkinkan semua unit dalam salah satu komponen ekologi secara efektif dan komprehensif disaring untuk risiko yang berdampak pada manusia. Oleh karena itu metode PSA diterapkan sebagai sarana untuk menilai sumber daya berdasarkan pendeteksian dini terhadap keberlanjutan risiko untuk satu set yang telah ditentukan oleh atribut terukur. Metodologi PSA juga telah digunakan dan diadaptasi oleh Marine Stewardship Council (MSC) (Hobday, et al., 2007).
Kerentanan didefinisikan sebagai potensi spesis atau sumber daya yang akan dipengaruhi oleh suatu aktivitas penangkapan. aplikasi sebelumnya telah difokuskan pada catchability dan mortalitas spesis, dan ditujukan pada atribut lain seperti efektivitas manajemen dan efek dari kualitas alat tangkap pada suatu habitat. Indeks kerentanan ini mencakup semua atribut dalam upaya untuk membuat hasil analisis yang lebih transparan dan dimengerti. Namun, karena sifat-sifat ini membahas berbagai aspek kerentanan, telah dibedakan catchability dan manajemen atribut sebagai sub kategori di bawah faktor kerentanan. Atribut manajemen mempertimbangkan bagaimana perikanan dikelola dengan langkah-langkah manajemen konservatif di tempat yang secara efektif mengontrol aktivitas penangkapan yang cenderung menyebabkan terjadinya overfishing. (Hobday, et al., 2007).

B.       Klasifikasi Rajungan

Menurut Mirzads (2009), klasifikasi kepiting rajungan (Portunus pelagicus) adalah sebagai berikut.
Kingdom : Animalia
       Filum : Athropoda
              Kelas : Crustasea
                     Ordo : Decapoda
                               Famili : Portunidae
                                        Genus : Portunus
                                                  Species : Portunus pelagicus

Gambar 2. Kepiting Rajungan (P. Pelagitus)
                               
Menurut Nontji (1986), ciri morfologi rajungan mempunyai karapaks berbentuk bulat pipih dengan warna yang sangat menarik kiri kanan dari karapas terdiri atas duri besar, jumlah duri-duri sisi belakang matanya 9 buah. Rajungan dapat dibedakan dengan adanya beberapa tanda-tanda khusus, diantaranya adalah pinggiran depan di belakang mata, rajungan mempunyai 5 pasang kaki, yang terdiri atas 1 pasang kaki (capit) berfungsi sebagai pemegang dan memasukkan makanan kedalam mulutnya, 3 pasang kaki sebagai kaki jalan dan sepasang kaki terakhir mengalami modifikasi menjadi alat renang yang ujungnya menjadi pipih dan membundar seperti dayung. Oleh sebab itu, rajungan dimasukan kedalam golongan kepiting berenang (swimming crab). Ukuran rajungan antara yang jantan dan betina berbeda pada umur yang sama. Yang jantan lebih besar dan berwarna lebih cerah serta berpigmen biru terang. Sedang yang betina berwarna sedikit lebih coklat (Mirzads 2009). Rajungan jantan mempunyai ukuran tubuh lebih besar dan capitnya lebih panjang daripada betina. Perbedaan lainnya adalah warna dasar, rajungan jantan berwarna kebiru-biruan dengan bercak-bercak putih terang, sedangkan betina berwarna dasar kehijau-hijauan dengan bercak-bercak putih agak suram. Perbedaan warna ini jelas pada individu yang agak besar walaupun belum dewasa (Moosa, 1980).

C.      Habitat Rajungan

Menurut Moosa (1980) Habitat rajungan adalah pada pantai bersubstrat pasir, pasir berlumpur dan di pulau berkarang, juga berenang dari dekat permukaan laut (sekitar 1 m) sampai kedalaman 65 meter. Rajungan hidup di daerah estuaria kemudian bermigrasi ke perairan yang bersalinitas lebih tinggi untuk menetaskan telurnya, dan setelah mencapai rajungan muda akan kembali ke estuaria (Nybakken 1986).
Menurut Nontji (1986), rajungan merupakan salah satu jenis dari famili Portunidae yang habitatnya dapat ditemukan hampir di seluruh perairan pantai Indonesia, bahkan ditemukan pula pada daerah-daerah subtropis. Nyabakken (1986) mengemukakan bahwa rajungan hidup sebagai binatang dewasa di daerah estuaria dan di teluk pantai. Rajungan betina bermigrasi ke perairan yang bersalinitas lebih tinggi untuk menetaskan telurnya dan begitu stadium larvanya dilewati rajungan muda tersebut bermigrasi kembali ke muara estuaria.
Rajungan banyak menghabiskan hidupnya dengan membenamkan tubuhnya di permukaan pasir dan hanya menonjolkan matanya untuk menunggu ikan dan jenis invertebrata lainnya yang mencoba mendekati untuk diserang atau dimangsa. Perkawinan rajungan terjadi pada musim panas, dan terlihat yang jantan melekatkan diri pada betina kemudian menghabiskan beberapa waktu perkawinan dengan berenang (Susanto 2010).

D.      Armada Penangkapan Rajungan

Armada penangkapan rajungan adalah sekumpulan unit penangkapan sumberdaya yang melakukan sejumlah upaya untuk memperoleh sejumlah ikan. Sejumlah ikan atau produksi tangkapan sangat bergantung pada upaya penangkapan dan sediaan ikan yang menjadi tujuan penangkapan. Untuk memaksimalkan produksi tangkapan, nelayan melakukan introduksi dengan mengefisienkan waktu penangkapan dan penggunaan teknologi penangkapan. Introduksi tersebut menyebabkan adanya interaksi antara dinamika populasi ikan dengan dinamika armada penangkapan (Hilborn, 1985).
Upaya penangkapan merupakan ukuran dari jumlah alat tangkap yang beroperasi untuk mendapatkan sejumlah hasil tangkapan atau juga merupakan gambaran dari intensitas armada penangkapan sumberdaya yang beroperasi. Dengan kata lain, upaya penangkapan ikan adalah waktu dan frekuensi operasi penangkapan yang dikerahkan oleh berbagai unit penangkapan ikan untuk mendapatkan sejumlah sumber daya ikan. Keadaan ini menunjukkan bahwa alat tangkap adalah suatu kekuatan (fishing power) atau kemampuan untuk menangkap (catchability) sumber daya ikan, sehingga dapat menyebabkan terjadinya perubahan kepadatan stok ikan dimana dilakukan kegiatan penangkapan. Dengan demikian upaya penangkapan dalam biologi perikanan merupakan gambaran tentang kelimpahan ikan (Cardinale, et al., 2009).
Efisiensi dalam penangkapan ikan dilakukan nelayan dengan menggunakan berbagai teknologi penangkapan ikan, antara lain memperbesar ukuran perahu atau kapal, menggunakan berbagai alat bantu untuk mendeteksi ikan maupun membuat atraktor untuk memikat ikan pada areal tangkap dari suatu jenis alat tangkap. Tindakan efisiensi menyebabkan terjadi perubahan upaya penangkapan dari tahun ke tahun dan kompetisi diantara armada penangkapan menyebabkan terjadi perubahan keadaan stok perikanan. Informasi upaya penangkapan dibutuhkan untuk menginterpretasi perubahan produksi ikan guna menentukan seberapa besar efisiensi penangkapan ikan yang dapat menguntungkan dan mengurangi overfishing (Branch, et al., 2006).

III.      METODE PENALITIAN

A.      Waktu dan Tempat

Pengambilan data hasil tangkapan dilakukan di Pulau Bungkutoko Kota Kendari sedangkan pengamatan aspek biologi rajungan dilakukan di Laboratorium Dasar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Halu Oleo Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara. Penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan pada tahun 2017.

B.       Alat dan Bahan

            Alat bahan yang digunakan dalam praktikum ini dapat dilihat pada Tabel 1 berikut :
Tabel 1. Alat dan Bahan Beserta Kegunaannya
No.
Alat dan Bahan
Kegunaan
1.    
Komputer/laptop
Pengoperasian PSA
2.    
Alat ukur (meteran)
Pengukuran panjang rajungan
3.    
Timbangan
Pengukuran bobot rajungan
 4.
Kamera
Dokumentasi
 5.
Software PSA
Menganalisis produktivitas dan kerentanan
 6.
Kuesioner
Melakukan wawancara
 7.
Alat tulis
Pencatatan data
 8.
Kepiting rajungan
Pengamatan aspek biologi

C.      Tahapan Penelitian

Tahapan pelaksanaan penelitian tentang analisis kerentanan penangkapan rajungan di pulau Bungkutoko tersebut disajikan dalam diagram alir seperti pada Gambar 2.

 













    Gambar 2. Diagram alir tahapan pelaksanaan penelitian

D.      Teknik pengumpulan data

Pengambilan sampel rajungan dilakukan dengan metode pengambilan acak sederhana. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder untuk mengumpulkan informasi tentang parameter-parameter yang berhubungan dengan produktivitas dan kerentanan rajungan.
1.        Pengumpulan data Primer
Data primer dalam penelitian ini dilakukan dengan wawancara, pengamatan laboratorium dan pengkuran secara langsung pada sumberdaya rajungan di Pulau Bungkutoko.
Parameter pertumbuhan t0 dapat dihitung dari persamaan Pauly (1980) adalah sebagai berikut:
Log(– t0) = – 0,3922 – 0,2752*Log(L) – 1,038*Log(K)
Keterangan :
t0     = Usia saat 0 mm.
L∞  = panjang asimptotik ikan
K    = koefisien laju pertumbuhan
t      = umur ikan.
Menurut Pauly (1984), pendugaan umur maksimum (tmax) dapat diperoleh menggunakan rumus sebagai berikut:

Pendugaan terhadap koefisien kematian alami (M) menggunakan persamaan empiris Pauly (1980) :
Log (M) = –0,0066 – 0,279 Log L∞ + 0,6543 Log K + 0,463 Log T
Keterangan :
M    = Mortalitas alami
T     = Suhu rata–rata tahunan.
Nilai mortalitas total (Z) dihitung menggunakan kurva hasil tangkapan yang dikonversi ke lebar karapas (width–converted catch curve)                  (Sparre dan Venema, 1999). Nilai koefisien dari mortalitas penangkapan (F) diperoleh dengan menggunakan rumus:
F = Z – M
Keterangan :
Z  = Mortalitas total
M = Mortalitas alami.
Perhitungan fekunditas dilakukan dengan mengambil telur yang sudah dibuahi dan dibawa pada abdomennya (Sukumaran et al., 1986). Jumlah total telur rajungan betina dihitung dengan formula sebagai berikut :
N =W× n/w
Keterangan : N = jumlah keseluruhan telur,W= berat total telur betina,
          n = jumlah telur sampel dan w = berat sampel gonad.
Pola rekrutmen didapatkan menggunakan program FISAT II pada sub program recruitmen pattern dengan memasukkan nilai L∞, K, dan t0 yang telah dihitung sebelumnya (Bakhtiar dkk., 2013).
2.        Pengumpulan Data Sekunder
Pengambilan data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari studi literatur yang relevan untuk mendapatkan informasi tentang parameter produktivitas dan kerentanan sumberdaya rajungan.

E.       Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan menggunakan software PSA (Productivity and Susceptibility Analysis) versi 1.3 yang diproduksi oleh koalisi instansi pemerintah dan organisasi swasta yang dikeluarkan pada tahun 2009. Saat ini PSA terus dikembangkan dan di adopsi oleh salah satu badan di Amerika Serikat yaitu National Oceanik and Atmospheric Administration (NOAA).
Produktivitas dan kerentanan dari ikan cakalang dan madidihang ditentukan dengan memberikan nilai mulai dari 1 (rendah) sampai 3 (tinggi) untuk satu set standar atribut terkait dengan setiap indeks. Nilai untuk indeks produktivitas dan kerentanan yang dihasilkan kemudian diilustrasikan dalam  bentuk grafik yang ditampilkan pada scatter plot XY. Stok dengan produktivitas rendah dan kerentanan tinggi dianggap beresiko tinggi dan stok dengan nilai produktivitas tinggi dan kerentanan rendah dianggap berisiko rendah         (Patrick, et al., 2009).
Penilaian terhadap atribut produktivitas sumberdaya rajungan yang ditentukan dengan sepuluh (10) parameter yang ditentukan berdasarkan standar yang telah ditetapkan dalam software Productivity and Susceptibility Analysis (PSA). Atribut produktivitas dan penilaiannya disajikan pada Tabel 3.
Tabel 2. Atribut dan nilai produktivitas untuk penentuan analisis resiko         
No.
Atribut Produktivitas
Peringkat
Tinggi (3)
Sedang (2)
Rendah (1)
1.
Pertumbuhan intrinsik (r)
> 0,5
0,16 - 0,5
< 0,16
2.
Umur maksimal
< 10 Tahun
10 - 30 Tahun
> 30 Tahun
3.
Ukuran maksimal
< 60 cm
60 cm - 150 cm
> 150 cm
4.
Koefisien pertumbuhan (k)
> 0,25
0,15 - 0,25
< 0,15
5.
Mortalitas alami
> 0,40
0,20 - 0,40
< 0,20
6.
Fekunditas
> 10e4
10e2 - 10e4
< 10e2
7.
Strategi reproduksi
0
Antara 1 dan 3
≥ 4
8.
Pola rekrutmen
Sangat sering perekrutan terjadi (> 75%)
Cukup sering perekrutan terjadi (antara 10% dan 75%)
Perekrutan jarang terjadi (< 10%)
9.
Umur pertama matang gonad
< 2 Tahun
2 - 4 Tahun
> 4 Tahun
10.
Trovic level
< 2,5
Antara 2,5 dan 3,5
> 3,5
Sumber : (Patrick, et al., 2009).
Penilaian terhadap atribut kerentanan sumber daya ikan ditentukan dengan dua belas (12) parameter yang ditentukan berdasarkan standar yang telah ditetapkan dalam software Productivity and Susceptibility Analysis (PSA). Atribut kerentanan dan penilaiannya disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Atribut dan nilai Kerentanan untuk penentuan analisis resiko           
No.
Atribut Kerentanan
Ranking
Rendah (1)
Sedang (2)
Tinggi (3)
1.
Strategi manajemen
Stok terbatas penangkapannya dengan tindakan akuntabilitas yang proaktif serta pemantauan non-target secara ketat
Stok ditargetkan memiliki batas penangkapan dan tindakan akuntabilitas yang relatif
Stok tidak memiliki batas penangkapan atau langkah-langkah akuntabilitas dan non-target tidak diawasi secara ketat
2.
Area overlap
< 25% dari stok yang terjadi
Antara 25% dan 50% dari stok yang terjadi
> 50% dari stok yang terjadi
3.
Konsentrasi geografis
 Stok didistribusikan    > 50% dari total jangkauan
Stok didistribusikan antara 25% sampai 50% dari total jangkauan
Stok didistribusikan    < 25% dari total jangkauan
4.
Tumpang tindih vertikal
 < 25% dari stok yang terjadi di dalam penangkapan
Antara 25% dan 50% dari stok yang terjadi di dalam penangkapan
> 50% dari stok yang terjadi di dalam penangkapan
5.
Kematian akibat penangkapan
 < 0,5
0,5 – 1,0 
> 1 
6.
Biomasa petelur
B > 40% dari B0
B antara 25% dan 40% dari B0
B < 25% dari B0
7.
Migrasi musiman
Migrasi musiman menurunkan tumpang tindih dengan penangkapan
Migrasi musiman tidak substansial mempengaruhi tumpang tindih dengan penangkapan
Migrasi musiman meningkatkan tumpang tindih dengan penangkapan
8.
Gerombol, agregasi dan tanggapan perilaku lainnya
Respon mampu menghindari kemampuan alat tangkap
Respon tidak mempengaruhi kemampuan alat tangkap
Respon meningkatkan kemampuan alat tangkap
9.
Morfologi mempengaruhi capture
Spesies menunjukkan selektivitas yang rendah terhadap alat tangkap
Spesies menunjukkan selektivitas yang sedang terhadap alat tangkap
Spesies menunjukkan selektivitas yang tinggi terhadap alat tangkap
10.
Kelangsungan hidup setelah tertangkap dan dilepaskan
Terjadinya kelangsungan hidup > 67%
terjadinya kelangsungan hidup antara 33% dan 67%
Terjadinya kelangsungan hidup < 33%
11.
Nilai dalam penangkapan
Stok sangat tidak diinginkan dalam penangkapan
Stok cukup diinginkan dalam penangkapan
Stok sangat diinginkan dalam penangkapan
12.
Dampak penangkapan terhadap habitat secara umum
Tidak memiliki efek samping atau minimal dan bersifat sementara
Efek samping lebih dari minimal atau bersifat sementara
Efek samping lebih dari minimal dan tidak dimitigasi
Sumber : (Patrick, et al., 2009).

Penilaian atribut produktivitas dan kerentanan digambarkan melalui grafik dalam bentuk scatter plot xy. Sumbu x menunjukkan produktivitas sedangkan sumbu y menunjukkan kerentanan. Kedudukan angka pada sumbu x terbalik, dimulai pada 3 dan berakhir pada 1, artinya plot yang dekat dengan asal (3,1) memiliki makna bahwa stok dengan produktivitas tinggi dan kerentanan rendah. Nilai dari atribut produktivitas dan kerentanan ikan digunakan untuk mengetahui indeks kerentanan stok secara keseluruhan. Patrick , et al (2009), menyatakan bahwa nilai indeks kerentanan stok secara keseluruhan didapatkan dari hasil formula :

Keterangan :
 = Keseluruhan skor kerentanan
  = Produktivitas
 = Kerentanan
Ikan yang memiliki nilai kerentanan (v) lebih dari 1,8 menunjukkan bahwa ikan memiliki resiko kerentanan yang tinggi terhadap aktivitas penangkapan. Indeks kerentanan memiliki tiga kategori yaitu :
1.         kurang rentan (v < 1,6).
2.         rentan sedang (1,6 ≤ v < 1,8).
3.         rentan tinggi (v ≥ 1,8).
Semua nilai atribut juga dievaluasi dengan kualitas data yang digunakan dalam perhitungan. Nilai kualitas data dikategorikan dalam lima kategori, yaitu:
a.    Nilai 1 (data terbaik), dimana informasi didasarkan pada data yang ada misalnya : data penilaian sumber daya yang terpercaya atau literatur yang diterbitkan.
b.    Nilai 2 (data memadai), dimana informasi dengan cakupan dan pembuktian terbatas misalnya : data temporal atau spasial yang terbatas dan informasi yang relatif lama.
c.    Nilai 3 (data terbatas), dimana kepercayaan terbatas ; didasarkan pada kemiripan misalnya : genus atau famili yang sama.
d.   Nilai 4 (data sangat terbatas), dimana data didasarkan dari pendapat ahli atau berdasarkan studi literatur umum  misalnya : data umum atau famili yang lain.
e.    Nilai 5 (tidak ada data), dimana tidak ada informasi yang dapat digunakan sebagai nilai dasar.
Nilai rata-rata kualitas data produktivitas dan kerentanan ini digunakan untuk menentukan kategori kualitas data yaitu :
1.      tinggi (V<2).
2.      menengah (V=2 dan V<3).
3.      rendah (V 3).

IV.      BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN

A.      Anggaran Biaya

          Adapun rincian anggaran biaya dalam penelitian ini disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4.  Rincian Anggaran Biaya (RAB) Penelitian.
No.
Uraian Kegiatan
Jumlah
Satuan
Satuan Harga (Rp)
Jumlah (Rp)
A.
Biaya habis pakai

1.
Kertas kwarto
2
Rim
35.000
           70.000
2.
Papan nama
4
Paket
35.000
         140.000
3.
Spanduk
1
Paket
125.000
         125.000
4.
Tinta printer warna
2
Dos
50.000
         100.000
5.
Tinta printer
1
Botol
65.000
         65.000
6.
Map
1
Paket
50.000
           50.000
7.
Catrig printer black
1
Buah
150.000
150.000
8.
Catrig printer colors
1
Buah
285.000
285.000
9.
Alat tulis
1
Paket
150.000
         150.000
10.
Plastik sampel
5
Bungkus
20.000
         100.000
11.
Alkohol
1
Botol
50.000
         50.000
12.
Kepiting rajungan
200
Ekor
20.000
4.000.000
13.
Laboratorium
7
Hari
60.000
420.000
Sub Total A
      5.705.000
B.
Peralatan Penunjang Kegiatan

1.
Mistar
3
Paket
35.0000
    105.000
2.
Timbangan duduk
1
Set
350.000
      350.000
3.
Timbangan analitik
1
Set
400.000
    400.000
4.
Wadah sampel
2
Buah
100.000
    200.000
5.
Alat bedah
2
Set
200.000
      400.000
6.
Sewa mikroskop
15
Kali
60.000
      900.000
7.
Sterofom
3
Buah
15.000
      45.000
8.
Glove/sarung tangan
4
Pasang
50.000
200.000
9.
Sewa kamera
4
Kali
50.000
200.000
Sub Total B
2.800.000
C.
Transportasi  dan Konsumsi
9.
Transportasi tim
4
Kali
500.000
2.000.000
10.
Konsumsi tim
4
Orang
500.000
2.000.000
Sub Total C.
4.000.000
D.
Dokumentasi dan Publikasi
11.
Dokumentasi
1
Paket
100.000
100.000
12.
Pelaporan
1
Paket
400.000
400.000
Sub Total D
500.000
Total Akhir (A + B + C + D)
13.000.005
Terbilang : Tiga Belas Juta Empat Ratus Sepuluh Ribu Rupiah



B.       Jadwal Kegiatan

Adapun jadwal pelaksanaan penelitian ini disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan

No.

Uraian Kegiatan

Bulan Ke-

I

II

III

1.

Pembekalan Tim

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.

Survei Lokasi Kegiatan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.

Persiapan alat yang dibutuhkan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.

Pengambilan data

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5.

Pengolahan dan analisis data

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6.

Evaluasi Kegiatan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

7.

Pelaporan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Adam, I. Jaya, dan M. F. Sondita. 2006. Model Numerik Difusi Populasi Rajungan di Perairan Selat Makassar. (Diffusion Numerical Model for Swimming Crab Fisheries in the Makassar Strait). Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia. Desember 2006 Jilid 13 Nomor 2: 83–88.
Americas MRAG. 2014. Productivity and Susceptibility Analysis with Next Step Recommendations Test Cases for Selected California Fisheries. Report to California Ocean Science Trust.
Bakhtiar, N. M., Anhar S., dan Suradi W. S. 2013. Pertumbuhan dan Laju Mortalitas Lobster Batu Hijau (Panulirus homarus) di Perairan Cilacap Jawa Tengah. Diponegoro Journal of Maquares. 2(4): 1-10.
Branch TA, Hilborn R, Haynie AC, Fay G, Flynn N, Griffiths J, Marshal KN, Rhandal K, Scheurell CM, Ward EJ,Young M. 2006. Fleet Dynamics and Fishermen Behavior: Lessons For Fisheries Managers. Canadian Journal of Fisheries and Aquatic Sciences. Vol 63:1647-1668.
Cardinale, B. J., H. Hillebrand, W. S. Harpole, K. Gross, and R. Ptacnik. 2009. Separating the Influence of Resource „Availability‟ From Resource „Imbalance‟ on Productivity-diversity Relationships. J Ecology Letters. Vol 12:475-487.
Cortes E., F. Arocha, L. Beerkircher, F. Carvalho, A. Domingo, M. Heupel, H. Holtzhausen, M. N. Santos, M. Ribera & C. Simpfendorfer. 2009. Ecological Risk Assessment of Pelagic Sharks Caught in Atlantic Pelagic Longline Fisheries. Aquat. Living Resour. 23, 25–34.
[FAO] Food and Agricultural Organization. 2012. The state of world fisheries and aquaculture. FAO Fisheries and Aquaculture Department. 209 pp.
FAO (1995). Code of Conduct for Responsible Fisheries. FAO, Rome.
Hilborn, R. 1985. Fleet dynamics and individual variation – why some people catch more fish than others.Canadian Journal of Fisheries and Aquatic Sciences 42, 2–13.
Hobday, A. J. Smith, A.D.M. Webb, H. Daley, R. Wayte, S. Bulman, C. Dowdney, J. Williams, A. Sporcic, M. Dambacher, J. Fuller, M. Walker, T. 2007. Ecological Risk Assessment for the Effects of Fishing: Methodology. Report R04/ 1072 for the Australian Fisheries Management Authority, Canberra. 174 p.
Kangas, M.I. 2000. Synopsis of The Biology and Exploitation of The Blue Swimming Crab, Portunus pelagicus Linnaeus, in Western Australia. Fish. Res. Rep. Fish. West. Aust. No.121:1-22.
KKP, 2010. Statistik Perikanan Tangkap indonesia. Kementrian Kelautan dan Perikanan.

Mirzads. 2009. Pengemasan Daging Rajungan Pasteurisasi dalam Kaleng. http://mirzads.wordpress.com/2009/02/12/ pengemasan daging rajungan pasteurisasi -dalam-kaleng/. (Akses 11 Juni 2010).
Moosa, MK. 1980. Beberapa Catatan Mengenai Rajungan dari Teluk Jakarta dan Pulau-Pulau Seribu. Sumberdaya Hayati Bahari, Rangkuman Beberapa Hasil Penelitian Pelita II. LON-LIPI, Jakarta. Hal 57-79.
Nontji, A. 1986. Laut Nusantara. Djambatan, Jakarta. 105 hlm. Nyabekken, J.W. 1986. Biologi Laut: Suatu Pendekatan Biologi. Penerbit Gramedia, Jakarta.
Nyabekken, J.W. 1986. Biologi Laut: Suatu Pendekatan Biologi. Penerbit Gramedia, Jakarta.
Patrick, W.S., Spencer, P., Ormseth, O., Cope, J., Field, J., Kobayashi, D., Gedamke, T., Cortes, E., Bigelow, K., Overholtz, W., Link, J dan Lawson, P. 2009. Use of Productivity and Susceptibility Indices to Determine Stock Vulnerability, with Example Applications to Six U.S. Fisheries. Dep. Commer., NOAA Tech. Memo. NMFS-F/SPO-101, 90 p.
Pauly D. 1984. Fish population dynamics in tropical waters : a manual for use with programmable calculator. Manila (PH) : ICLARM.
Sparre, P, E. Ursin and S. C. Venema. 1999. Introduction to tropical fish stock assessment. FAO. Rome part 1.
Stobutzki, I., M. Miller, and D. Brewer. 2001. Sustainability of fishery bycatch: a process for assessing highly diverse and numerous bycatch. Environmental Conservation 28:167-181.
Sukumaran, K. K, K.Y. Telang dan O. Thippeswamy. 1986. On the fishery and biology of the crab Portunus sanguinolentus (Herbst) along the South Kanara coast. Indian J. Fish., 33(2). 188-200.
Susanto, N. 2010. Perbedaan antara Rajungan dan Kepiting. http://blog.unila. ac.id/gnugroho/category/bahan-ajar/karsinologi/(Akses 11 Desember 2010).
Triharyuni, S., Turni, S., Hartati dan Anggawangsa, R.F. 2013. Produktivitas dan Kerentanan Ikan Kurisi (Nemipterus spp.) Hasil Tangkapan Cantrang di Laut Jawa. Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumberdaya Ikan. J. Lit. Perikan. Vol.19 : (4). Hal : 213-220.
Wiadnya, D.G.R., P.J. Mous, R. Djohani, M.V. Erdmann, A. Halim, M. Knight, L. PetSoede & J.S. Pet 2005. Marine Capture Fisheries Policy Formulation and The Role of Marine Protected Areas as Tool for Fisheries Management in Indonesia. Marine Research. Indonesia 30: 33 - 45.
Zhou, S., and S. P. Griffiths. 2008. Sustainability assessments for fishing effects (SAFE): a new quantitative ecological risk assessment method and its application to elasmobranch bycatch in an Australian trawl fishery. Fisheries Research 91: 56-68.