I. PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Rajungan
merupakan sumber daya ikan dari kelompok dekapoda bercangkang yang menyumbang
10% produksi perikanan global dan menunjukkan kecenderungan terus meningkat
sejak tahun 1970 (FAO 2012). Potensi rajungan di perairan Indonesia
cukup melimpah dan dapat ditemukan disepanjang perairan Indonesia yang
berpantai pasir dan berlumpur. Total potensi rajungan
Indonesia diperkirakan sebesar 7.2 juta ton/tahun (Sulistiono, 2009).
Pada tahun 2010 Indonesia dapat memproduksi rajungan sebesar 43.002 ton, atau
mengalami peningkatan sebesar 22.83 % dari tahun 2009 (KKP, 2010).
Kepiting
rajungan (Portunus pelagicus)
merupakan sumberdaya perikanan yang mempunyai nilai ekonomis penting dan
tergolong salah satu komoditi ekspor keberbagai negara. Menurut Adam, et al (2006) menyatakan bahwa ekspor
kepiting rajungan telah dilakukan dalam bentuk segar maupun olahan kebeberapa
negara seperti Singapura, Malaysia, Jepang, Hongkong, Taiwan dan Amerika
Serikat. Tingginya permintaan pasar lokal hingga dunia, mendorong para nelayan
untuk melakukan penangkapan kepiting rajungan secara terus-menerus. Aktivitas
penangkapan yang dilakukan oleh para nelayan tidak mememikirkan dampak
kepunahan dari populasi kepiting rajungan. Selain itu, seiring dengan peningkatan
jumlah penduduk serta terdegradasinya ekosistem pesisir sebagai habitat
organisme perairan, maka akan menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup kepiting
rajungan terutama pengaruhnya terhadap ketersediaan makanan sebagai salah satu
faktor penting dalam menunjang pertumbuhannya. Kondisi ini juga akan memperlambat
reproduksi dari kepiting rajungan sehingga dapat menyebabkan berkurangnya
populasi kepiting rajungan hal ini terlihat dari semakin mengecilnya ukuran
kepiting yang tertangkap.
Pulau Bungkutoko
adalah salah satu pulau yang terletak di perairan Teluk Kendari bagian luar.
Wilayah daratan Bungkutoko sebagian besar penduduknya bermata pencaharian
sebagai nelayan yang menggantungkan hidupnya pada hasil laut. Perairan
Bungkutoko merupakan salah satu wilayah pesisir yang memiliki potensi sumber
daya perikanan yang melimpah. Kondisi perairan yang landai dan struktur dasar perairan yang berpasir dan
berlumpur berfungsi sebagai pendukung kehidupan bagi organisme yang hidup di
wilayah ini. Salah satu organisme yang banyak terdapat di wilayah tersebut
adalah Kepiting rajungan (P. pelagicus).
Aktivitas penangkapan kepiting rajungan di Bungkutoko marupakan suatu usaha yang
menguntungkan bagi para pelaku sehingga dilakukan secara terus menerus tanpa
memperhatikan keadaan populasinya.
Faktor harga
jual yang cukup tinggi serta semakin meningkatnya permintaan ekspor akan
rajungan telah yang merangsang nelayan untuk lebih mengeksploitasi sumberdaya
tersebut. Kondisi ini tentunya akan menyebabkan terjadinya peningkatan
penangkapan terhadap rajungan sehingga mendorong nelayan berlomba-lomba untuk
meningkatkan upaya penangkapan (effort). Apabila hal ini terjadi secara
terus-menerus maka sumberdaya rajungan tersebut akan mengalami tekanan
penangkapan yang tinggi dan perlahan-lahan akan terkuras sehingga terjadi
penurunan stok populasi rajungan di laut yang tentunya akan mengarah kepada
kepunahan.
Berkurangnya
jumlah populasi rajungan karena tingginya penangkapan ditandai dengan semakin
berkurangnya hasil tangkapan, ukuran rajungan yang tertangkap semakin kecil dan
fishing ground yang semakin jauh. Selain itu, apabila habitatnya
mendapat gangguan berat dapat merubah struktur populasinya bahkan dapat
menyebabkan kepunahan (Wiadnya et al, 2005). Oleh karena itu, diperlukan
suatu kajian mengenai tingkat kerentanan populasi rajungan sebagai bahan
informasi dasar dalam penentuan atau perencanaan model pengelolaan sumber daya
rajungan yang optimal agar pemanfaatannya tetap lestari.
Sehubungan
dengan upaya pengelolaan tersebut FAO (1995) menyarankan salah satu pendekatan
praktis yang dapat dikembangkan untuk mengevaluasi produktivitas dan tingkat
resiko dari upaya penangkapan berlebihan dengan menggunakan pendekatan Productivity and Susceptibility Analysis
(PSA). Pendekatan tersebut mencoba untuk mengevaluasi kerentanan suatu
sumberdaya yang diduga akibat dari aktivitas penangkapan yang berlebih (Hobday, et al., 2007). Menurut Zhou and
Griffiths (2008), pendekatan berbasis resiko seperti PSA ini telah diperluas
dan fokus pada pendekatan yang diimplementasikan sebagai pendekatan berbasis
ekosistem untuk pengelolaan perikanan. Menurut
Cortes, et al (2009), pendekatan ini
baik diterapkan pada perikanan yang memiliki data catch yang terbatas dan effort
yang bersifat time series dalam pengkajian stok karena adanya
ketidakpastian data, oleh karena itu pendekatan ini dapat digunakan untuk
mengidentifikasi dan menilai spesies yang mengalami kerentanan.
B. Rumusan
Masalah
Kepiting
rajungan merupakan salah satu sumberdaya perikanan yang sejak lama dimanfaatkan
oleh nelayan di Pulau Bungkutoko baik untuk dijual maupun dikonsumsi sebagai
pangan alternatif untuk memenuhi kebutuhan protein. Saat ini, penangkapan
sumberdaya rajungan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk
sehingga kondisi tersebut akan sangat mengacam keberlanjutan sumberdaya
tersebut. Apalagi menurut (Kangas, 2000) bahwa sampai saat ini seluruh
kebutuhan ekspor rajungan masih mengandalkan dari hasil tangkapan di laut,
sehingga dikuatirkan akan mempengaruhi populasinya di alam. Penurunan jumlah
hasil tangkapan dan ukuran rajungan serta perubahan daerah penangkapan (fishing ground) merupakan bukti terjadinya tekanan terhadap sumberdaya
tersebut.
Salah satu
pendekatan berbasis resiko yang dapat digunakan dan saat ini terus dikembangkan
untuk mengevaluasi permasalahan tersebut adalah dengan melakukan pendekatan
analisis berbasis resiko ekologi dan deplesi akibat penangkapan sumberdaya
rajungan di Pulau Bungkutoko. Pendekatan ini menjadi salah satu cara praktis
yang diharapkan dapat menemukan solusi dalam pengelolaan sumberdaya rajungan.
C. Tujuan
Adapun tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kerentanan kepiting rajungan di
Perairan Pulau Bungkutoko Kota Kendari.
D. Luaran
Adapun luaran
yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
1. Sebagai
bahan informasi mengenai potensi sumberdaya yang ada di wilayah pesisir.
2. Sebagai
bahan rujukan dalam pengelolaan sumberdaya rajungan yang optimal dan
berkelanjutan.
E. Manfaat
Manfaat dari
penelitian ini yaitu sebagai bahan informasi tentang kerentanan penangkapan
rajungan kepada penegak kebijakan dalam menentukan pengelolaan yang sesuai dan
menambah khasanah ilmu pengetahuan.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A.
Pendekatan Productivity
and Susceptibility Analysis (PSA)
Analisis
produktivitas dan kerentanan atau Productivity
and Susceptibility Analysis (PSA) merupakan analisis semi kuantitatif untuk
mengetahui kerentanan sumberdaya sebagai resiko yang ditimbulkan akibat
aktivitas penangkapan. PSA menilai berdasarkan pada dua karteristik, yaitu: a) kerentanan,
dimana dampak ekologi ditentukan oleh kerentanan dari akibat aktivitas
penangkapan dan b) produktivitas, yang ditentukan berdasarkan tingkat dimana unit
stok dapat kembali pulih setelah potensial deplesi atau kerusakan akibat
kegiatan penangkapan yang terjadi (Triharyuni, 2013).
PSA awalnya dikembangkan untuk
mengklasifikasikan perbedaan pada keberlanjutan bycatch dalam perikanan udang Australia dengan melakukan evaluasi
produktivitas sumber daya dan kerentanan dalam perikanan. Produktivitas
dianggap sebagai kemampuan atau ketahanan spesies untuk memulihkan dan atau
mempertahankan populasinya yang dalam keadaan terancam akibat dari penangkapan
yang berlebihan (over fishing) sedangkan
kerentanan merupakan kemungkinan atau kecenderungan spesies untuk ditangkap dan
merupakan akibat dari kegiatan penangkapan (Stobutzki, et al., 2001). Analisis produktivitas dan kerentanan (PSA)
adalah sebuah cara yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kerentanan stok
dengan dasar produktivitas biologi dan kerentanan perikanan yang
mengeksploitasinya. PSA dapat digunakan sebagai upaya penelitian yang
difokuskan pada jenis sumberdaya dengan kerentanan yang tinggi dan informasi
biologi yang sedikit (Cortes, et al., 2009).
Americas MRAG (2014), menyatakan bahwa analisis
kerentanan yang berorientasi pada pendeteksian secara cepat terhadap
keberlanjutan risiko, akan memberikan evaluasi pencegahan pada kerentanan sumber
daya ikan yang di eksploitasi secara berlebihan. Penilaian ini mengidentifikasi
kesenjangan dan ketidakpastian terhadap tindakan pengelolaan yang mengarah pada
ketidakmampuan untuk memperkirakan secara akurat terhadap Maksimum Yield (MSY). Sumber daya lebih rentan jika
produktivitasnya rendah karena lambatnya tingkat reproduksi atau faktor-faktor
lain yang mempengaruhi kehidupan spesies, dan/atau memiliki kerentanan tinggi
akibat dari dampak aktivitas penangkapan serta faktor-faktor lain seperti, dampak
dari alat tangkap terhadap habitat dan ukuran populasi yang sudah berkurang.
Memahami kerentanan sumber daya bisa menjadi bagian kunci dari informasi untuk
melakukan pengelolaan. Salah satu alat yang tersedia untuk penilaian kerentanan
adalah Analisis Produktivitas dan Kerentanan (PSA) sebagai metode untuk
memberikan peringkat dari hubungan kerentanan populasi ikan yang berbeda dengan
memetakan populasi dalam grafik yang mencerminkan kerentanan dan skor
produktivitas seperti pada Gambar 1.
Gambar 1. Skor Atribut produktivitas dan
Kerentanan
Struktur dari PSA tersebut diatur oleh
keputusan yang dibuat oleh para ahli yang relevan, dengan mempertimbangkan
faktor-faktor seperti bagaimana pencegahan model keinginan pengguna, jenis
informasi secara luas tersedia deretan untuk penilaian sumber daya, dan jenis
interpretasi yang akan diambil dari hasil. Sebagai contoh, NOAA PSA mencakup
komponen tambahan untuk mengevaluasi ketidakpastian data, yang memungkinkan
pengguna untuk menyelidiki lebih lanjut atribut dimana data yang lebih baik.
PSA bersifat sebagai pencegahan, terutama bila atribut data yang tidak dapat
diandalkan atau informasi yang didapatkan dari spesies yang sama, dalam
beberapa kasus, memperoleh data yang lebih spesifik, dapat mengubah skor risiko
secara keseluruhan untuk spesies tertentu (Americas, 2014).
Metode PSA adalah perangkat yang baik yang
memungkinkan para pemangku kepentingan dan regulator untuk mendapatkan
perspektif tentang risiko yang melekat dari sumber daya perikanan terhadap
suatu kegiatan penangkapan. Hal ini juga memungkinkan para ilmuwan untuk
memperjelas dimana informasi khusus masih kurang dan bagaimana memfokuskan
sumber daya untuk mengumpulkan informasi lebih lanjut, karena memperhitungkan
atribut yang berbeda pada risiko. PSA adalah metode penilaian yang memungkinkan
semua unit dalam salah satu komponen ekologi secara efektif dan komprehensif
disaring untuk risiko yang berdampak pada manusia. Oleh karena itu metode PSA
diterapkan sebagai sarana untuk menilai sumber daya berdasarkan pendeteksian
dini terhadap keberlanjutan risiko untuk satu set yang telah ditentukan oleh
atribut terukur. Metodologi PSA juga telah digunakan dan diadaptasi oleh Marine Stewardship Council (MSC) (Hobday,
et al., 2007).
Kerentanan didefinisikan sebagai potensi spesis
atau sumber daya yang akan dipengaruhi oleh suatu aktivitas penangkapan.
aplikasi sebelumnya telah difokuskan pada catchability dan mortalitas spesis,
dan ditujukan pada atribut lain seperti efektivitas manajemen dan efek dari
kualitas alat tangkap pada suatu habitat. Indeks kerentanan ini mencakup semua
atribut dalam upaya untuk membuat hasil analisis yang lebih transparan dan
dimengerti. Namun, karena sifat-sifat ini membahas berbagai aspek kerentanan,
telah dibedakan catchability dan
manajemen atribut sebagai sub kategori di bawah faktor kerentanan. Atribut
manajemen mempertimbangkan bagaimana perikanan dikelola dengan langkah-langkah
manajemen konservatif di tempat yang secara efektif mengontrol aktivitas
penangkapan yang cenderung menyebabkan terjadinya overfishing. (Hobday, et al.,
2007).
B.
Klasifikasi
Rajungan
Menurut Mirzads
(2009), klasifikasi kepiting rajungan (Portunus
pelagicus) adalah sebagai berikut.
Kingdom : Animalia
Filum : Athropoda
Kelas : Crustasea
Ordo : Decapoda
Famili :
Portunidae
Genus : Portunus
Species
: Portunus pelagicus
Gambar 2. Kepiting Rajungan (P. Pelagitus)
Menurut Nontji
(1986), ciri morfologi rajungan mempunyai karapaks berbentuk bulat pipih dengan
warna yang sangat menarik kiri kanan dari karapas terdiri atas duri besar,
jumlah duri-duri sisi belakang matanya 9 buah. Rajungan dapat dibedakan dengan
adanya beberapa tanda-tanda khusus, diantaranya adalah pinggiran depan di
belakang mata, rajungan mempunyai 5 pasang kaki, yang terdiri atas 1 pasang kaki
(capit) berfungsi sebagai pemegang dan memasukkan makanan kedalam mulutnya, 3
pasang kaki sebagai kaki jalan dan sepasang kaki terakhir mengalami modifikasi
menjadi alat renang yang ujungnya menjadi pipih dan membundar seperti dayung.
Oleh sebab itu, rajungan dimasukan kedalam golongan kepiting berenang (swimming
crab). Ukuran rajungan antara yang jantan dan betina berbeda pada umur yang
sama. Yang jantan lebih besar dan berwarna lebih cerah serta berpigmen biru
terang. Sedang yang betina berwarna sedikit lebih coklat (Mirzads 2009).
Rajungan jantan mempunyai ukuran tubuh lebih besar dan capitnya lebih panjang
daripada betina. Perbedaan lainnya adalah warna dasar, rajungan jantan berwarna
kebiru-biruan dengan bercak-bercak putih terang, sedangkan betina berwarna
dasar kehijau-hijauan dengan bercak-bercak putih agak suram. Perbedaan warna
ini jelas pada individu yang agak besar walaupun belum dewasa (Moosa, 1980).
C.
Habitat Rajungan
Menurut Moosa
(1980) Habitat rajungan adalah pada pantai bersubstrat pasir, pasir berlumpur
dan di pulau berkarang, juga berenang dari dekat permukaan laut (sekitar 1 m)
sampai kedalaman 65 meter. Rajungan hidup di daerah estuaria kemudian
bermigrasi ke perairan yang bersalinitas lebih tinggi untuk menetaskan
telurnya, dan setelah mencapai rajungan muda akan kembali ke estuaria (Nybakken
1986).
Menurut Nontji
(1986), rajungan merupakan salah satu jenis dari famili Portunidae yang
habitatnya dapat ditemukan hampir di seluruh perairan pantai Indonesia, bahkan
ditemukan pula pada daerah-daerah subtropis. Nyabakken (1986) mengemukakan
bahwa rajungan hidup sebagai binatang dewasa di daerah estuaria dan di teluk
pantai. Rajungan betina bermigrasi ke perairan yang bersalinitas lebih tinggi
untuk menetaskan telurnya dan begitu stadium larvanya dilewati rajungan muda
tersebut bermigrasi kembali ke muara estuaria.
Rajungan
banyak menghabiskan hidupnya dengan membenamkan tubuhnya di permukaan pasir dan
hanya menonjolkan matanya untuk menunggu ikan dan jenis invertebrata lainnya
yang mencoba mendekati untuk diserang atau dimangsa. Perkawinan rajungan
terjadi pada musim panas, dan terlihat yang jantan melekatkan diri pada betina
kemudian menghabiskan beberapa waktu perkawinan dengan berenang (Susanto 2010).
D.
Armada Penangkapan Rajungan
Armada penangkapan
rajungan adalah sekumpulan unit penangkapan sumberdaya yang melakukan sejumlah
upaya untuk memperoleh sejumlah ikan. Sejumlah ikan atau produksi tangkapan
sangat bergantung pada upaya penangkapan dan sediaan ikan yang menjadi tujuan
penangkapan. Untuk memaksimalkan produksi tangkapan, nelayan melakukan
introduksi dengan mengefisienkan waktu penangkapan dan penggunaan teknologi
penangkapan. Introduksi tersebut menyebabkan adanya interaksi antara dinamika
populasi ikan dengan dinamika armada penangkapan (Hilborn, 1985).
Upaya
penangkapan merupakan ukuran dari jumlah alat tangkap yang beroperasi untuk
mendapatkan sejumlah hasil tangkapan atau juga merupakan gambaran dari
intensitas armada penangkapan sumberdaya yang beroperasi. Dengan kata lain,
upaya penangkapan ikan adalah waktu dan frekuensi operasi penangkapan yang
dikerahkan oleh berbagai unit penangkapan ikan untuk mendapatkan sejumlah
sumber daya ikan. Keadaan ini menunjukkan bahwa alat tangkap adalah suatu
kekuatan (fishing power) atau kemampuan untuk menangkap (catchability)
sumber daya ikan, sehingga dapat menyebabkan terjadinya perubahan kepadatan
stok ikan dimana dilakukan kegiatan penangkapan. Dengan demikian upaya
penangkapan dalam biologi perikanan merupakan gambaran tentang kelimpahan ikan (Cardinale,
et al., 2009).
Efisiensi dalam
penangkapan ikan dilakukan nelayan dengan menggunakan berbagai teknologi
penangkapan ikan, antara lain memperbesar ukuran perahu atau kapal, menggunakan
berbagai alat bantu untuk mendeteksi ikan maupun membuat atraktor untuk memikat
ikan pada areal tangkap dari suatu jenis alat tangkap. Tindakan efisiensi
menyebabkan terjadi perubahan upaya penangkapan dari tahun ke tahun dan
kompetisi diantara armada penangkapan menyebabkan terjadi perubahan keadaan
stok perikanan. Informasi upaya penangkapan dibutuhkan untuk menginterpretasi
perubahan produksi ikan guna menentukan seberapa besar efisiensi penangkapan
ikan yang dapat menguntungkan dan mengurangi overfishing (Branch, et
al., 2006).
III. METODE PENALITIAN
A.
Waktu dan Tempat
Pengambilan data
hasil tangkapan dilakukan di Pulau Bungkutoko Kota Kendari sedangkan pengamatan
aspek biologi rajungan dilakukan di Laboratorium Dasar Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan Universitas Halu Oleo Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara.
Penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan pada tahun 2017.
B.
Alat dan Bahan
Alat bahan yang digunakan dalam
praktikum ini dapat dilihat pada Tabel 1 berikut :
Tabel 1. Alat dan Bahan Beserta Kegunaannya
|
No.
|
Alat dan
Bahan
|
Kegunaan
|
|
1.
|
Komputer/laptop
|
Pengoperasian
PSA
|
|
2.
|
Alat ukur
(meteran)
|
Pengukuran
panjang rajungan
|
|
3.
|
Timbangan
|
Pengukuran
bobot rajungan
|
|
4.
|
Kamera
|
Dokumentasi
|
|
5.
|
Software PSA
|
Menganalisis
produktivitas dan kerentanan
|
|
6.
|
Kuesioner
|
Melakukan
wawancara
|
|
7.
|
Alat tulis
|
Pencatatan
data
|
|
8.
|
Kepiting
rajungan
|
Pengamatan
aspek biologi
|
C.
Tahapan Penelitian
Tahapan pelaksanaan
penelitian tentang analisis kerentanan penangkapan rajungan di pulau Bungkutoko
tersebut disajikan dalam diagram alir seperti pada Gambar 2.
Gambar 2. Diagram
alir tahapan pelaksanaan penelitian
D.
Teknik pengumpulan data
Pengambilan
sampel rajungan dilakukan dengan metode pengambilan acak sederhana. Data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder untuk
mengumpulkan informasi tentang parameter-parameter yang berhubungan dengan
produktivitas dan kerentanan rajungan.
1.
Pengumpulan
data Primer
Data
primer dalam penelitian ini dilakukan dengan wawancara, pengamatan laboratorium
dan pengkuran secara langsung pada sumberdaya rajungan di Pulau Bungkutoko.
Parameter
pertumbuhan t0 dapat
dihitung dari persamaan Pauly (1980) adalah sebagai berikut:
Log(– t0) = – 0,3922 –
0,2752*Log(L∞) – 1,038*Log(K)
Keterangan :
t0
= Usia saat 0 mm.
L∞ = panjang
asimptotik ikan
K = koefisien
laju pertumbuhan
t = umur ikan.
Menurut Pauly (1984), pendugaan
umur maksimum (tmax) dapat diperoleh menggunakan rumus sebagai
berikut:
Pendugaan
terhadap koefisien kematian alami (M) menggunakan persamaan empiris Pauly
(1980) :
Log (M) = –0,0066 –
0,279 Log L∞ + 0,6543 Log K + 0,463 Log T
Keterangan :
M = Mortalitas alami
T
= Suhu rata–rata tahunan.
Nilai
mortalitas total (Z) dihitung menggunakan kurva hasil tangkapan yang dikonversi
ke lebar karapas (width–converted catch curve) (Sparre dan Venema, 1999). Nilai
koefisien dari mortalitas penangkapan (F) diperoleh dengan menggunakan rumus:
F = Z – M
Keterangan :
Z
= Mortalitas total
M
= Mortalitas alami.
Perhitungan fekunditas dilakukan
dengan mengambil telur yang sudah dibuahi dan dibawa pada abdomennya (Sukumaran
et al., 1986). Jumlah total telur rajungan betina dihitung dengan
formula sebagai berikut :
N =W× n/w
Keterangan : N = jumlah keseluruhan
telur,W= berat total telur betina,
n = jumlah telur sampel dan w = berat
sampel gonad.
Pola rekrutmen didapatkan
menggunakan program FISAT II pada sub program recruitmen pattern dengan
memasukkan nilai L∞, K, dan t0 yang telah dihitung sebelumnya
(Bakhtiar dkk., 2013).
2.
Pengumpulan
Data Sekunder
Pengambilan
data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari studi literatur yang relevan
untuk mendapatkan informasi tentang parameter produktivitas dan kerentanan
sumberdaya rajungan.
E.
Analisis Data
Analisis data
dilakukan dengan menggunakan software
PSA (Productivity and Susceptibility
Analysis) versi 1.3 yang
diproduksi oleh koalisi instansi pemerintah dan organisasi swasta yang
dikeluarkan pada tahun 2009. Saat ini PSA terus dikembangkan dan di adopsi oleh
salah satu badan di Amerika Serikat yaitu National
Oceanik and Atmospheric Administration (NOAA).
Produktivitas
dan kerentanan dari ikan cakalang dan madidihang ditentukan dengan memberikan
nilai mulai dari 1 (rendah) sampai 3 (tinggi) untuk satu set standar atribut
terkait dengan setiap indeks. Nilai untuk indeks produktivitas dan kerentanan
yang dihasilkan kemudian diilustrasikan dalam
bentuk grafik yang ditampilkan pada scatter
plot XY. Stok dengan produktivitas rendah dan kerentanan tinggi dianggap
beresiko tinggi dan stok dengan nilai produktivitas tinggi dan kerentanan
rendah dianggap berisiko rendah
(Patrick, et al., 2009).
Penilaian
terhadap atribut produktivitas sumberdaya rajungan yang ditentukan dengan
sepuluh (10) parameter yang ditentukan berdasarkan standar yang telah
ditetapkan dalam software Productivity
and Susceptibility Analysis (PSA). Atribut produktivitas dan penilaiannya
disajikan pada Tabel 3.
Tabel 2. Atribut dan nilai produktivitas untuk penentuan analisis
resiko
|
No.
|
Atribut
Produktivitas
|
Peringkat
|
||
|
Tinggi
(3)
|
Sedang
(2)
|
Rendah
(1)
|
||
|
1.
|
Pertumbuhan intrinsik (r)
|
> 0,5
|
0,16 - 0,5
|
< 0,16
|
|
2.
|
Umur maksimal
|
< 10 Tahun
|
10 - 30 Tahun
|
> 30 Tahun
|
|
3.
|
Ukuran maksimal
|
< 60 cm
|
60 cm - 150 cm
|
> 150 cm
|
|
4.
|
Koefisien pertumbuhan (k)
|
> 0,25
|
0,15 - 0,25
|
< 0,15
|
|
5.
|
Mortalitas alami
|
> 0,40
|
0,20 - 0,40
|
< 0,20
|
|
6.
|
Fekunditas
|
> 10e4
|
10e2 - 10e4
|
< 10e2
|
|
7.
|
Strategi reproduksi
|
0
|
Antara 1 dan 3
|
≥ 4
|
|
8.
|
Pola rekrutmen
|
Sangat sering perekrutan terjadi (>
75%)
|
Cukup sering perekrutan terjadi (antara
10% dan 75%)
|
Perekrutan jarang terjadi (< 10%)
|
|
9.
|
Umur pertama matang gonad
|
< 2 Tahun
|
2 - 4 Tahun
|
> 4 Tahun
|
|
10.
|
Trovic level
|
< 2,5
|
Antara 2,5 dan 3,5
|
> 3,5
|
Sumber
: (Patrick, et al., 2009).
Penilaian
terhadap atribut kerentanan sumber daya ikan ditentukan dengan dua belas (12)
parameter yang ditentukan berdasarkan standar yang telah ditetapkan dalam software Productivity and Susceptibility
Analysis (PSA). Atribut kerentanan dan penilaiannya disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Atribut dan nilai Kerentanan untuk penentuan analisis
resiko
|
No.
|
Atribut Kerentanan
|
Ranking
|
||
|
Rendah (1)
|
Sedang (2)
|
Tinggi (3)
|
||
|
1.
|
Strategi manajemen
|
Stok terbatas
penangkapannya dengan tindakan akuntabilitas yang proaktif serta pemantauan
non-target secara ketat
|
Stok
ditargetkan memiliki batas penangkapan dan tindakan akuntabilitas yang
relatif
|
Stok tidak
memiliki batas penangkapan atau langkah-langkah akuntabilitas dan non-target
tidak diawasi secara ketat
|
|
2.
|
Area overlap
|
<
25% dari stok yang terjadi
|
Antara
25% dan 50% dari stok yang terjadi
|
>
50% dari stok yang terjadi
|
|
3.
|
Konsentrasi geografis
|
Stok
didistribusikan > 50% dari total
jangkauan
|
Stok
didistribusikan antara 25% sampai 50% dari total jangkauan
|
Stok
didistribusikan < 25% dari total
jangkauan
|
|
4.
|
Tumpang tindih vertikal
|
<
25% dari stok yang terjadi di dalam penangkapan
|
Antara
25% dan 50% dari stok yang terjadi di dalam penangkapan
|
>
50% dari stok yang terjadi di dalam penangkapan
|
|
5.
|
Kematian akibat penangkapan
|
< 0,5
|
0,5 – 1,0
|
> 1
|
|
6.
|
Biomasa petelur
|
B > 40%
dari B0
|
B antara 25%
dan 40% dari B0
|
B < 25%
dari B0
|
|
7.
|
Migrasi musiman
|
Migrasi
musiman menurunkan tumpang tindih dengan penangkapan
|
Migrasi
musiman tidak substansial mempengaruhi tumpang tindih dengan penangkapan
|
Migrasi
musiman meningkatkan tumpang tindih dengan penangkapan
|
|
8.
|
Gerombol, agregasi dan tanggapan perilaku lainnya
|
Respon
mampu menghindari kemampuan alat tangkap
|
Respon tidak
mempengaruhi kemampuan alat tangkap
|
Respon
meningkatkan kemampuan alat tangkap
|
|
9.
|
Morfologi mempengaruhi capture
|
Spesies
menunjukkan selektivitas yang rendah terhadap alat tangkap
|
Spesies
menunjukkan selektivitas yang sedang terhadap alat tangkap
|
Spesies
menunjukkan selektivitas yang tinggi terhadap alat tangkap
|
|
10.
|
Kelangsungan hidup setelah tertangkap dan dilepaskan
|
Terjadinya
kelangsungan hidup > 67%
|
terjadinya
kelangsungan hidup antara 33% dan 67%
|
Terjadinya
kelangsungan hidup < 33%
|
|
11.
|
Nilai dalam penangkapan
|
Stok sangat tidak
diinginkan dalam penangkapan
|
Stok cukup
diinginkan dalam penangkapan
|
Stok sangat
diinginkan dalam penangkapan
|
|
12.
|
Dampak penangkapan terhadap habitat secara umum
|
Tidak
memiliki efek samping atau minimal dan bersifat sementara
|
Efek samping
lebih dari minimal atau bersifat sementara
|
Efek samping
lebih dari minimal dan tidak dimitigasi
|
Sumber : (Patrick, et al., 2009).
Penilaian atribut produktivitas
dan kerentanan digambarkan melalui grafik dalam bentuk scatter plot xy.
Sumbu x menunjukkan produktivitas sedangkan sumbu y menunjukkan kerentanan.
Kedudukan angka pada sumbu x terbalik, dimulai pada 3 dan berakhir pada 1,
artinya plot yang dekat dengan asal (3,1) memiliki makna bahwa stok dengan
produktivitas tinggi dan kerentanan rendah. Nilai dari atribut produktivitas
dan kerentanan ikan digunakan untuk mengetahui indeks kerentanan stok secara
keseluruhan. Patrick , et al (2009),
menyatakan bahwa nilai indeks
kerentanan stok secara keseluruhan didapatkan dari hasil formula :
Keterangan :
Ikan
yang memiliki nilai kerentanan (v) lebih dari 1,8 menunjukkan bahwa ikan
memiliki resiko kerentanan yang tinggi terhadap aktivitas penangkapan. Indeks
kerentanan memiliki tiga kategori yaitu :
1.
kurang rentan (v < 1,6).
2.
rentan sedang (1,6 ≤ v < 1,8).
3.
rentan tinggi (v ≥ 1,8).
Semua
nilai atribut juga dievaluasi dengan kualitas data yang digunakan dalam
perhitungan. Nilai kualitas data dikategorikan dalam lima kategori, yaitu:
a. Nilai
1 (data terbaik), dimana informasi didasarkan pada data yang ada misalnya :
data penilaian sumber daya yang terpercaya atau literatur yang diterbitkan.
b. Nilai
2 (data memadai), dimana informasi dengan cakupan dan pembuktian terbatas
misalnya : data temporal atau spasial yang terbatas dan informasi yang relatif
lama.
c. Nilai
3 (data terbatas), dimana kepercayaan terbatas ; didasarkan pada kemiripan
misalnya : genus atau famili yang sama.
d. Nilai
4 (data sangat terbatas), dimana data didasarkan dari pendapat ahli atau
berdasarkan studi literatur umum
misalnya : data umum atau famili yang lain.
e. Nilai
5 (tidak ada data), dimana tidak ada informasi yang dapat digunakan sebagai
nilai dasar.
Nilai
rata-rata kualitas data produktivitas dan kerentanan ini digunakan untuk
menentukan kategori kualitas data yaitu :
1. tinggi
(V<2).
2. menengah
(V=2 dan V<3).
3. rendah
(V 3).
IV. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN
A.
Anggaran Biaya
Adapun rincian anggaran biaya dalam
penelitian ini disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Rincian Anggaran Biaya (RAB) Penelitian.
|
No.
|
Uraian
Kegiatan
|
Jumlah
|
Satuan
|
Satuan
Harga (Rp)
|
Jumlah
(Rp)
|
|
A.
|
Biaya habis pakai
|
|
|||
|
1.
|
Kertas kwarto
|
2
|
Rim
|
35.000
|
70.000
|
|
2.
|
Papan nama
|
4
|
Paket
|
35.000
|
140.000
|
|
3.
|
Spanduk
|
1
|
Paket
|
125.000
|
125.000
|
|
4.
|
Tinta printer warna
|
2
|
Dos
|
50.000
|
100.000
|
|
5.
|
Tinta printer
|
1
|
Botol
|
65.000
|
65.000
|
|
6.
|
Map
|
1
|
Paket
|
50.000
|
50.000
|
|
7.
|
Catrig printer black
|
1
|
Buah
|
150.000
|
150.000
|
|
8.
|
Catrig printer colors
|
1
|
Buah
|
285.000
|
285.000
|
|
9.
|
Alat tulis
|
1
|
Paket
|
150.000
|
150.000
|
|
10.
|
Plastik sampel
|
5
|
Bungkus
|
20.000
|
100.000
|
|
11.
|
Alkohol
|
1
|
Botol
|
50.000
|
50.000
|
|
12.
|
Kepiting rajungan
|
200
|
Ekor
|
20.000
|
4.000.000
|
|
13.
|
Laboratorium
|
7
|
Hari
|
60.000
|
420.000
|
|
Sub Total A
|
5.705.000
|
||||
|
B.
|
Peralatan Penunjang Kegiatan
|
|
|||
|
1.
|
Mistar
|
3
|
Paket
|
35.0000
|
105.000
|
|
2.
|
Timbangan duduk
|
1
|
Set
|
350.000
|
350.000
|
|
3.
|
Timbangan analitik
|
1
|
Set
|
400.000
|
400.000
|
|
4.
|
Wadah sampel
|
2
|
Buah
|
100.000
|
200.000
|
|
5.
|
Alat bedah
|
2
|
Set
|
200.000
|
400.000
|
|
6.
|
Sewa mikroskop
|
15
|
Kali
|
60.000
|
900.000
|
|
7.
|
Sterofom
|
3
|
Buah
|
15.000
|
45.000
|
|
8.
|
Glove/sarung tangan
|
4
|
Pasang
|
50.000
|
200.000
|
|
9.
|
Sewa kamera
|
4
|
Kali
|
50.000
|
200.000
|
|
Sub
Total B
|
2.800.000
|
||||
|
C.
|
Transportasi dan
Konsumsi
|
||||
|
9.
|
Transportasi tim
|
4
|
Kali
|
500.000
|
2.000.000
|
|
10.
|
Konsumsi tim
|
4
|
Orang
|
500.000
|
2.000.000
|
|
Sub Total C.
|
4.000.000
|
||||
|
D.
|
Dokumentasi
dan Publikasi
|
||||
|
11.
|
Dokumentasi
|
1
|
Paket
|
100.000
|
100.000
|
|
12.
|
Pelaporan
|
1
|
Paket
|
400.000
|
400.000
|
|
Sub Total D
|
500.000
|
||||
|
Total Akhir (A + B + C + D)
|
13.000.005
|
||||
|
Terbilang
: Tiga Belas Juta Empat Ratus Sepuluh Ribu Rupiah
|
|||||
B.
Jadwal Kegiatan
Adapun jadwal pelaksanaan
penelitian ini disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5. Jadwal Pelaksanaan
Kegiatan
No.
|
Uraian Kegiatan
|
Bulan Ke-
|
|||||||||||
I
|
II
|
III
|
|||||||||||
1.
|
Pembekalan Tim
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2.
|
Survei Lokasi Kegiatan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3.
|
Persiapan alat yang dibutuhkan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4.
|
Pengambilan data
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5.
|
Pengolahan dan analisis data
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6.
|
Evaluasi Kegiatan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7.
|
Pelaporan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
DAFTAR PUSTAKA
Adam, I. Jaya, dan M. F. Sondita. 2006. Model Numerik Difusi
Populasi Rajungan di Perairan Selat Makassar. (Diffusion Numerical Model for
Swimming Crab Fisheries in the Makassar Strait). Jurnal Ilmu-Ilmu
Perairan dan Perikanan Indonesia. Desember 2006 Jilid 13 Nomor 2: 83–88.
Americas MRAG. 2014. Productivity and Susceptibility Analysis
with Next Step Recommendations Test Cases for Selected California Fisheries.
Report to California Ocean Science Trust.
Bakhtiar, N. M., Anhar S., dan Suradi W. S. 2013.
Pertumbuhan dan Laju Mortalitas Lobster Batu Hijau (Panulirus homarus)
di Perairan Cilacap Jawa Tengah. Diponegoro Journal of Maquares. 2(4):
1-10.
Branch TA, Hilborn R,
Haynie AC, Fay G, Flynn N, Griffiths J, Marshal KN, Rhandal K, Scheurell CM,
Ward EJ,Young M. 2006. Fleet Dynamics and
Fishermen Behavior: Lessons For Fisheries Managers. Canadian Journal of
Fisheries and Aquatic Sciences. Vol 63:1647-1668.
Cardinale, B. J., H.
Hillebrand, W. S. Harpole, K. Gross, and R. Ptacnik. 2009. Separating the Influence of Resource „Availability‟ From Resource
„Imbalance‟ on Productivity-diversity Relationships. J Ecology Letters. Vol 12:475-487.
Cortes E., F. Arocha,
L. Beerkircher, F. Carvalho, A. Domingo, M. Heupel, H. Holtzhausen, M. N.
Santos, M. Ribera & C. Simpfendorfer. 2009. Ecological Risk Assessment of Pelagic Sharks Caught in Atlantic Pelagic
Longline Fisheries. Aquat. Living Resour. 23, 25–34.
[FAO] Food and Agricultural Organization. 2012. The state of
world fisheries and aquaculture. FAO Fisheries and Aquaculture Department. 209
pp.
FAO (1995). Code of Conduct for Responsible Fisheries.
FAO, Rome.
Hilborn, R. 1985. Fleet dynamics and individual variation –
why some people catch more fish than others.Canadian Journal of Fisheries and
Aquatic Sciences 42, 2–13.
Hobday, A. J. Smith,
A.D.M. Webb, H. Daley, R. Wayte, S. Bulman, C. Dowdney, J. Williams, A.
Sporcic, M. Dambacher, J. Fuller, M. Walker, T. 2007. Ecological Risk Assessment for the Effects of Fishing: Methodology.
Report R04/ 1072 for the Australian Fisheries Management Authority,
Canberra. 174 p.
Kangas, M.I. 2000. Synopsis of The Biology and Exploitation
of The Blue Swimming Crab, Portunus pelagicus Linnaeus, in Western
Australia. Fish. Res. Rep. Fish. West. Aust. No.121:1-22.
KKP,
2010. Statistik Perikanan Tangkap indonesia. Kementrian Kelautan dan Perikanan.
Mirzads. 2009. Pengemasan Daging Rajungan
Pasteurisasi dalam Kaleng. http://mirzads.wordpress.com/2009/02/12/ pengemasan daging
rajungan pasteurisasi -dalam-kaleng/. (Akses 11 Juni 2010).
Moosa, MK. 1980. Beberapa Catatan Mengenai
Rajungan dari Teluk Jakarta dan Pulau-Pulau Seribu. Sumberdaya Hayati Bahari,
Rangkuman Beberapa Hasil Penelitian Pelita II. LON-LIPI, Jakarta. Hal 57-79.
Nontji, A. 1986. Laut Nusantara. Djambatan,
Jakarta. 105 hlm. Nyabekken, J.W. 1986. Biologi Laut: Suatu Pendekatan Biologi.
Penerbit Gramedia, Jakarta.
Nyabekken, J.W. 1986. Biologi Laut: Suatu
Pendekatan Biologi. Penerbit Gramedia, Jakarta.
Patrick, W.S.,
Spencer, P., Ormseth, O., Cope, J., Field, J., Kobayashi, D., Gedamke, T.,
Cortes, E., Bigelow, K., Overholtz, W., Link, J dan Lawson, P. 2009. Use of Productivity and Susceptibility
Indices to Determine Stock Vulnerability, with Example Applications to Six U.S.
Fisheries. Dep. Commer., NOAA Tech. Memo. NMFS-F/SPO-101, 90 p.
Pauly D. 1984. Fish population dynamics in tropical
waters : a manual for use with programmable calculator. Manila (PH) :
ICLARM.
Sparre, P, E. Ursin and S. C. Venema. 1999. Introduction to tropical fish stock
assessment. FAO. Rome part 1.
Stobutzki, I., M.
Miller, and D. Brewer. 2001. Sustainability
of fishery bycatch: a process for assessing highly diverse and numerous
bycatch. Environmental Conservation 28:167-181.
Sukumaran, K. K, K.Y. Telang dan O. Thippeswamy. 1986. On
the fishery and biology of the crab Portunus sanguinolentus (Herbst)
along the South Kanara coast. Indian J. Fish., 33(2). 188-200.
Susanto, N. 2010. Perbedaan antara Rajungan
dan Kepiting. http://blog.unila. ac.id/gnugroho/category/bahan-ajar/karsinologi/(Akses
11 Desember 2010).
Triharyuni, S., Turni,
S., Hartati dan Anggawangsa, R.F. 2013. Produktivitas dan Kerentanan Ikan
Kurisi (Nemipterus spp.) Hasil Tangkapan Cantrang di Laut Jawa. Pusat
Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumberdaya Ikan. J. Lit.
Perikan. Vol.19 : (4). Hal : 213-220.
Wiadnya, D.G.R., P.J. Mous, R. Djohani, M.V. Erdmann, A.
Halim, M. Knight, L. PetSoede & J.S. Pet 2005. Marine Capture Fisheries
Policy Formulation and The Role of Marine Protected Areas as Tool for Fisheries
Management in Indonesia. Marine Research. Indonesia 30: 33 - 45.
Zhou, S., and S. P.
Griffiths. 2008. Sustainability
assessments for fishing effects (SAFE): a new quantitative ecological risk
assessment method and its application to elasmobranch bycatch in an Australian
trawl fishery. Fisheries Research 91: 56-68.