Sabtu, 26 November 2016

Laporan Fisiologi Hewan Air





LAPORAN LENGKAPPRAKTIKUM
FISIOLOGI HEWAN AIR





OLEH :
LA ODE HENDRI
I1A7 13 009





PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRANKONSENTRASI PEMANFAATAN SUMBER DAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2014


I. PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Fisiologi dapat didefenisikan sebagai ilmu yang mempelajari fungsi mekanisme, dan cara kerja dari organ, jaringan, dan sel-sel organisme. Fisiologi mencoba menerangkan faktor-faktor fisika dan kimia yang mempengaruhi seluruh proses kehidupan. Organisme hewan air memiliki beberapa mekanisme fisiologis yang tidak dimiliki oleh hewan darat. Fisiologi ikan dapat didefenisikan sebagai ilmu yang mempelajari fungsi kegiatan kehidupan zat hidup (organ, jaringan, atau sel) dan fenomena fisika dan kimia yang mempengaruhi seluruh proses kehidupan ikan (Fujaya, 2004).
Difusi merupakan proses perpindahan atau pergerakan molekul zat atau gas dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Difusi melalui membran dapat berlangsung melalui tiga mekanisme, yaitu difusi sederhana (simple difusion),d ifusi melalui saluran yang terbentuk oleh protein transmembran (simple difusion by chanel formed), dan difusi difasilitasi (fasiliated difusion) (Sri, 2010)
Osmosis adalah proses perpindahan pelarut dari larutan yang memiliki konsentrasi rendah atau pelarut murni melalui membran semipermeabel menuju larutan yang memiliki konsentrasi lebih tinggi hingga tercapai kesetimbangan laju pelarut. Pada proses osmosis, molekul-molekul pelarut bermigrasi dari larutan encer ke larutan yang lebih pekat hingga dicapai keadaan kesetimbangan laju perpindahan pelarut di antara kedua medium itu. Osmosis adalah perpindahan air melalui membran permeabel selektif dari bagian yang lebih encer ke bagian yang lebih pekat. Osmosis merupakan suatu fenomena alami, tapi dapat dihambat secara buatan dengan meningkatkan tekanan pada bagian dengan konsentrasi pekat menjadi melebihi bagian dengan konsentrasi yang lebih encer (Yusnaini, 2013)
Cacing laut merupakan cacing yang hidup di laut, di dalam liang pasir dan hanya menyembulkan kepala di atas permukaan pasir atau berenang di dalam laut. Tubuhnya jelas mempunyai capuz dan alat-alat tambahan, terbagi menjadi banyak segmen. Segmen pertama disebut peristonium dan pada tiap nagian lateral terdapat 2 pasang tentakel. Termasuk dalam kelas polychaeta yang berarti berambut banyak. Pada bagian anterior terdapat kepala yang dilengkapi dengan mata, tentakel serta mulut berahang. Tubuh berwarna menarik yaitu merah kecoklatan (suwignyo dkk. 2015).
Berdasarkan uraian diatas maka penting untuk dilakukan pratikum mengenai difusi dan osmosis pada hewan air khususnya cacing laut (Nereis sp).
B.  Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari praktikum ini untuk mengamati proses secara fisik proses difusi dan osmosis dan pengaruhnya terhadap organisme  percobaan. Sedangkan kegunaannya adalahdiharapkan mahasiswa mampu mengetahui proses difusi dan osmosis.



II. TINJAUAN PUSTAKA
A.  Klasifikasi
Secara taksonomi menurut Suwignyo, dkk (2005), Nereis sp. dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
        Phylum : Annelida
                 Class : Polychaeta
                          Order : Nercidea
                                  Family : Nercidae
                                         Genus : Nereis
Species : Nereis sp
Gambar 1. Morfologi cacing laut (Nereis sp) (Suwignyo, dkk. 2005)
B.  Morfologi dan Anatomi
Clam worm (Nereis sp.) hidup didalam sedimen, tubuhnya terdiri dari segmen-segmen dan setiap segmennya terdapat sepasang parapodia, yang selain berfungsi sebagai alat gerak juga berfungsi sebagai alat pernafasan bantuan (Vandevelde, 2005).
Cacing laut merupakan cacing yang hidup di laut, di dalam liang pasir dan hanya menyembulkan kepala di atas permukaan pasir atau berenang di dalam laut. Tubuhnya jelas mempunyai capuz dan alat-alat tambahan, terbagi menjadi banyak segmen. Segmen pertama disebut peristonium dan pada tiap nagian lateral terdapat 2 pasang tentakel. Termasuk dalam kelas polychaeta yang berarti berambut banyak. Pada bagian anterior terdapat kepala yang dilengkapi dengan mata, tentakel serta mulut berahang. Tubuh berwarna menarik yaitu merah kecoklatan (suwignyo dkk. 2005).
Cacing jenis ini mempunyai lapisan otot memanjang maupun otot melingkar. Ususnya hampir lurus merentang dari depan ke belakang. Terdapat sistem pembuluh darah, di bagian anterior terdapat ganglion otak yang terletak di sebelah atas saluran pencernaan. Fertislisasi bersifat internal membentuk larva. Bergerak dengan menggunakan parapodia. Sudah memiliki coelom yang sebenarnya, yang sudah di batasi oleh epithelium mesodermal. Masing-masing ruas terdapat sepasang parapodia. Tubuh memiliki banyak rambut pada parapodia. Bersifat karnifora. Dapat dibedakan jantan dan betina(suwignyo dkk. 2005).
C.   Reproduksi dan Daur Hidup
Reproduksi pada Cacing laut (Nereis sp.), terjadi baik secara aseksul maupun seksual.  Reproduksi seksual terjadi dengan cara pertunasan dan pembelahan, namun kebanyakan hanya  melakukan reproduksi secara seksual  saja dan biasanya pada dioecious.  Pada dasarnya hampir semua menghasilkan gamit, namun pada beberapa jenis hanya beberapa ruas saja.  Pada beberapa jenis cacing dengan gamit yang telah matang akan berenang menjadi cacing pelagis, setelah tubuhnya koyok-koyok dan gamit berhamburan di air laut maka cacing tersebut mati, pembuahan terjadi di air laut (Suwignyo  dkk., 2005)
Reproduksi terjadi baik secara seksual maupun seksual. Reproduksi seksual terjadi dengan cara pertunasan (budding) dan pembelahan. Kebanyakan polychaeta melakukan reproduksi seksual saja, dan biasanya dioecious. Pada dasarnya hampir semua ruas menghasilkan gamit, namun pada beberapa jenis hanya pada ruas-ruas tertentu saja. Biasanya gamit dikeluarkan ke dalam rongga tubuh hingga mencapai kematangan. Pada spesies dengan dinding tubuh yang tipis atau agak transparan, telur dalam ruas tubuh bisa tampak jelas. Beberapa jenis cacing mempunyai gonaduct, tempat keluarnya gamit dari tubuh induknya, tetapi pada kebanyakan spesies gamet dikeluarkan dari tubuh melalui  metanephiridia atau dengan cara dehiscence, sobekan dinding. Secara relatif, polychaeta mempunyai kemampuan yang besar untuk melakukan regenersi. Tentakel, palp atau bagian tubuh yang kecil lainnya, apabila putus atau rusak akan segera tumbuh yang baru. Beberapa jenis cacing bahkan dapat melakukan autotomi, yaitu melepaskan sebagian tubuhnya apabila diganggu, bagian yang hilang kemudian akan tumbuh kembali (Anonimous, 2004).
D.Tingkah Laku
Cacing Laut ( Nereis sp.) bersifat omnivora dengan ruang lingkup pakan yang luas terdiri dari jaringan tanaman,  menggunakan gigi yang tajam untuk menangkap hewan hidup atau memotong alga.  Sedangkan yang merupakan hewan predator dari hewan adalah kepiting dan ikan.Tingkah laku dari cacing Nereis sp.untuk bertahan hidup yaitu meliputi : hewan-hewan alga dan detritus. Cacing laut ini memegang mangsa dengan sepasang taring yang tajam dimana taringnya tersebut dapat menjulur keluar. Selanjutnya sebagian besar pencernaan dan absorbsi terjadi pada organ pencernaan yang sangat banyak percabangannya dan tersebar pada seluruh bagian dalam tubuh, dimana hasil pencernaan diedarkan lewat intraselular (menjadi sari-sari makanan) ke seluruh jaringan tubuh dan dengan cara transport aktif dan difusi secara pasif (Fox, 2001).
Tingkah laku Cacing laut (Nereis sp.) bermacam-macam sesuai dengan kebiasaan hidupnya, karnivora, omnivora, herbivora dan adapula yang memakan detritus.  Pemakan endapan secra langsung maupun tidak  langsung, secara langsung dengan menelan pasir dan lumpur dalam lorongnya (sarangnya).  Mangsa terdiri dari berbagai  avertebrata kecil, yang ditangkap dengan pharynx atau probosis yang dijulurkan (Aslan  dkk. 2007).
E. Difusi dan Osmosis
Difusi adalah peristiwa di mana terjadi transfer materi melalui materi lain. Transfer materi ini berlangsung karena atomatau partikel selalu bergerak oleh agitasi thermal. Walaupun sesungguhnya gerak tersebut merupakan gerak acak tanpa arah tertentu, namun secara keseluruhan ada arah neto dimana entropi akan meningkat. Difusi merupakan proses irreversible. Pada fasa gas dan cair, peristiwa difusi mudah terjadi pada fase padat difusi juga terjadi walaupun memerlukan waktu lebih lama. Sedangkan menurut Ni’mah (2007), difusi dapat terjadi karena gerakan acak kontinu yang menjadi ciri khas semua molekul yang tidak terikat dalam suatu zat padat. Tiap molekul bergerak secara lurus sampai ia bertabrakan dengan molekul lainnya. Pada setiap tabrakan molekul terpental danmelaju ke arah lain. Inilah yang menyebabkan gerakan acak dari molekul tersebut. Kecepatan difusi zat melalui membran sel tidak hanya tergantung pada gradien konsentrasi, tetapi juga pada besar, muatan, dan daya larut dalam lipid dari partikel-partikel tersebut (Sri, 2010).
Osmosis adalah pergerakan air dari membrane semi permeable. Osmosis terjadi ketika dua larutan mempunyai perbedaan konsentrasi total larutan dan osmolaliti. Larutan yang diketahui osmolalitinya meerupakan isotonic. Osmosis tidak terjadi pada larutan isotonic, tetapi ketika osmolalit pada larutan yang berbeda, salah satu diantaranya harus mempunyai konsentrasi yang lebih tinggi (hypertonic), sementara yang lainnya disebut hypotonic. Air mengalir melalui membran dari larutan hypotonic ke larutan hypertonic. Hewan yang mampu memelihara keseimbangan antara cairan tubuh dengan keadaan lingkungan sekitar merupakan osmoconfermer, mereka adalah isotonic, sedangkan keadaan lingkungan sekitarnya adalah encer. Hewan yang tidak isotonic dengan keadaan lingkungan sekitar disebut osmoregulator (Yusnaini, 2013).
Kebanyakan invertebrata yang berhabitat di laut tidak secara aktif mengatur sistem osmosis mereka, dan dikenal sebagai osmoconformer. Osmoconformer memiliki osmolaritas internal yang sama dengan lingkungannya sehingga tidak ada tendensi untuk memperoleh atau kehilangan air. Karena kebanyakan osmoconformer hidup di lingkungan yang memiliki komposisi kimia yang sangat stabil (di laut), maka osmoconformer memiliki osmolaritas yang cenderung konstan. Osmoregulator adalah organisme yang menjadiosmolalitasnya tanpa tergantung lingkungan sekitar. Oleh karena itu kemampuan meregulasi ini maka osmoregulator dapat hidup di lingkungan air tawar, daratan, serta lautan. Di lingkungan dengan konsentrasi cairan yang rendah, osmoregulator akan melepaskan cairan berlebihan dan sebaliknya (Anonim, 2012).






















III. METODE PRAKTIKUM
A.  Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 13 Mei 2014, pada pukul 07.00 WITA sampai selesai.Tempat dilaksanakannya praktikum ini yaitu di Laboratorium Produksi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Halu Oleo.
B.  Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum difusi dan osmosis dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.
Tabel 1. Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum difusi  dan osmosis  beserta  kegunaannya.
No
Al at dan bahan
satuan
Kegunaan
1.
-

-

-
-
-
-
2
-
-
-
-

-
-
Alat
Toples

Botol minyak goso

Hand Refraktometer
Stopwatch
Timbangan digital
Alat tulis menulis
Bahan
Air laut
Air tawar
Tinta warna biru
Tissu

Garam
Cacing laut (Nereis sp)

2 buah

2 buah

Ppt
Detik
Gram


5 liter
5 liter

1 gulung

Gram
1 ekor

Tempat media dan hewan yang akan di amati.
Tempat media untuk mrnyimpan tinta.
Mengukur salinitas.
Menghitung waktu.
Menimbang sampel.
Mencatat hasil pengamatan

Media yang digunakan.
Media yang digunakan
Media yang diamati
Membersihkan alat dan tempat praktikum
Sebagai larutan salinitas
Organisme yang diamati



C.  Prosedur Kerja
a.  Pengamatan Secara Fisika
Prosedur kerja yang dilakuan pada pengamatan secara fisika pada Nereis sp. yaitu sebagai berikut :
1.      Menyiapkan medium air tawar (0 ppt) dan air laut dengan salinitas yang ekstrim (40  ppt), dimasukkan dalam ke dua wadah/toples.
2.        Menimbang barat masing-masing botol minyak goso yang masih kosong.
3.        Masukan dua tetes tinta biru kedalam botol minyal goso
4.        Memasukkan air tawar dan air laut yang telah diberi tinta kedalam dua botol minyak goso, isi air kedua botol minyak goso sampai penuh.
5.        Kemudian dikocok kedua botol minyak goso sampai tinta dengan air merata
6.        Mamasukkan ke dua botol minyak goso kedalam setiap wadah/media yang berbeda salinitasnya. Hitung waktu yang dibutuhkan sampai warna air dalam botol sampel sama dengan warna airmedia, dengan stop wach.
7.         Mengamati arah pergerakan air dari dalam botol minyak goso.
8.         Mengangkat botol sampel  setelah warna airnya sama dengan air media,  timbang botol sampel bersama isinya, sebagai Wakhir.
9.        Menghitung selisih berat botol sampel
b.  Pengamatan Secara Biologi
Prosedur kerja yang dilakuan pada pengamatan secara biologi pada Nereis sp. yaitu sebagai berikut :
1.        Menyiapkan medium air tawar (0 ppt) dan air laut dengan salinitas yang ekstrim (40 ppt), dimasukkan dalam toples yang berbeda.
2.        Mengambil bahan cacing sebanyak 1 ekor, laludi cuci dan di lap dengan tisssu.
3.        Menimbang berat cacing tersebut sampel dengan menggunakan timbangan digital, sebagai berat awal (W0).
4.        Memasukkan 1 ekor cacing pada setiap wadah yang berbeda salinitasnya.
5.        Mengangkat sampel dan ditimbang setiap 5 menit sampai 3 kali  penimbangan (15 menit), sebagai berrat 1, berat ke 2, dan berat ke 3 (W1, W2, W3).
6.        Menghitung selisih berat setiap sampel dan setiap waktu.









IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil Pengamatan
1.        Pengujian Uji Fisik
Hasil pengamatan pada uji fisik praktikum difusi dan osmosis ini dapat dilihat pada Tabel2 berikut.
Tabel 2.  Pengamatan uji fisik
Pengamatan
Wawal
Wakhir
W
Waktu (menit)
Botol air tawar
48.54
67.63
19.09
16.30
Botol  air asin
48.54
68.06
19.52
08.30

2.    Pengamatan Uji Biologi
Tabel 3. Hasil pengamatan secara biologi (Nereis sp.)  Pada  salinitas yang berbeda.
No
Medium
Jenis Organisme
Wₒ
W1
W2
W3
∆W
Kondisi
1.
Air tawar
Cacing laut
0.57
0.67
0.69
0.77
0.2
Osmosis
2.
Air laut
Cacing laut
0.57
0.57
0.57
0.57
0
Stabil
B.  Pembahasan
Difusi adalah proses pergerakan acak partikel-pertikel gas, cairan dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi yang lebih rendah. Osmosis adalah proses perpindahan pelarut dari larutan yang memiliki konsentrasi rendah atau pelarut murni melalui membran semipermeabel menuju larutan yang memiliki konsentrasi lebih tinggi hingga tercapai kesetimbangan laju pelarut.
Berdasarkan hasil pengamatan yang di lakukan secara fisik pertama yang dilakukan adalah menimbang botol minyak goso dimana menimbang botol sebelum diisi air dan sesudah berisi air. Pada botol kosong berat pertama yaitu 48.54 gram, dan berat botol ke dua yaitu 48.54 gram, artinya berat timbangan botol pertama dan botol ke dua sama berat. Selanjutnya ke dua botol tersebut diisi dengan air yang berbeda salinitasnya, untuk botol pertama diisi dengan air tawar (0 ppt) dan ditetesi dengan tinta berwarna biru sebanyak 2 tetes,kemudian botol tersebut di masukkan ke dalam toples yang berisi air laut, sedangkan botol kedua diisi air laut dengan salinitas 40 ppt dan ditesesi dengan tinta yang sama, kemudian botol tersebut dimasukkan ke dalam toples yang berisi air tawar. Dan di masukan secara bersamaan.
Setelah kedua botol tersebut diamati arah pergerakan airnya dan ditimbang kembali maka diperoleh berat botol yang berisi air laut yaitu 67.63 gram dan untuk berat botol yang berisi air tawar yaitu 68.06 gram, artinya botol yang berisi air laut lebih berat dibanding botol yang berisi air tawar, hal ini disebabkan karena massa jenis air laut lebih besar dari pada massa jenis air tawar. Pada medium air tawar yang diisi dengan botol air laut lebih cepat mengeluarkan tinta dimana terjadi proses osmosis. sedangkan botol yang berisi air tawar yang dimasukkan dalam medium air laut akan terjadi proses difusi dimana tinta dalam botol lebih lambat dikeluarkan bahkan tidak terjadi perubahan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Yusnaini (2013), bahwa proses difusi merupakan gerakan partikel dari tempat dengan potensial kimia lebih tinggi ke tempat potensial yang lebih rendah sampai terjadi keseimbangan dinamis. Sedangkan osmosis adalah pergerkan air melalui membrane selektif permeable.
Pada pengamatan yang dilakukan secara biologi diperoleh berat cacing awal 0.57 kemudian ke dua cacing tersebut di masukan kedalam toples atau wadah yang berisi air tawar dan air laut setelah dimasukan kedalam air tawar cacing tersebut bertambah berat yaitu 0.67 sedangkan cacing yang yang dimasukan kedalam air laut beratnya tidak betambah yaitu 0.57,dengan waktu 5 menit. Pada menit ke 10 berat untuk cacing pada medium air laut masih tetap yaitu 0.57, dan berat cacing pada medium air tawar  bertambah yaitu 0.69 gram. Pada menit ke 15 berat cacing pada medium air laut masih tetap yaitu 0.57 dan cacing pada air tawar bertambah yaitu 0.77. Hal ini sesui dengan pernyataanYusnaini(2013), yamng mengatakan bahwa cacing laut yang dimasukan kedalam medium air tawar tesebut akan berusaha menyeimbangkan kondisi tubuhunya dengan keadaan lingkungannya dengancara  banyak meminum air. sedangkan cacing laut yang di masukan kedalam air laut beratanya tetap karena cacing tersebut sudah terbiasa dengan keadaan tersebut.


V.PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari pembahasan diatas adalah sebagai berikut :
1.      Botol berisi air laut yang dimasukkan dalam medium air tawar lebih cepat mengeluarkan tinta dari pada botol air tawar yang dimasukkan dalam medium air laut.(proses osmosis)
2.      Pada pengamatan yang dilakukan secara biologi diperoleh berat cacing awal dengan waktu 5 menit maka diperoleh berat untuk cacing pada medium air laut yaitu 0.57 gram, dan berat cacing pada medium air tawar yaitu 0.67 gram. Pada menit ke 15 berat untuk cacing pada medium air laut yaitu 0.57 gram, dan berat cacing pada medium air tawar yaitu 0.77 gram. Karena cacing laut yang di masukan pada wadah air tawar dapat menyesuaikan dirinya dengan cara meminum air
B. Saran
Adapun saran saya dalam praktikum ini yaitu sebelum meninggalkan laboratorium praktikan terlebih dahulu membersihkan laboratorium.

























I.PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Fisiologi ikan mencakup proses osmoregulasi, sistem sirkulasi, sistem respirasi, bioenergetik dan metabolisme, pencernaan, organ-organ sensor, sistem saraf, sistem endokrin dan reproduksi. Fisiologi dapat di definisikan sebagai ilmu yang mempelajari fungsi, mekanisme dan cara kerja dari organ, jaringan dan sel-sel organisme. Fisiologi mencoba menerangkan faktor-faktor fisika dan kimia yang mempengaruhi seluruh proses kehidupan. Fisiologi ikan mencakup penginderaan, komunikasi antara sel/organ, osmoregulasi peredaran darah, pernafasan, pencernaan, pertumbuhan dan reproduksi ( Fujaya, 2004).
Salah satu faktor kimia yang mendukung yaitu  tinggi rendahnya salinitasdisuatu perairan baik itu air tawar, payau maupun perairan laut akan mempengaruhi keberadaan organisme yang ada di perairantersebut. Hal ini sangat terkait erat dengan pengaturan terhadap tekanan osmotik cairan tubuh yang relatif konstanadalah hal yang dibutuhkan ikan agar proses fisiologi di dalam tubuhnya berjalan normal.Pengaturan tersebut disebut dengan osmoregulasi(Purwakusuma, 2010).
Osmoregulasi adalah pengaturan tekanan osmotik cairan tubuh yang layak bagi kehidupan ikan sehingga proses-proses fisiologis berjalan normal. Ikan mempunyai tekanan osmotik yang berbeda dengan lingkungannya. Keanekaragaman salinitas dalam air laut akan mempengaruhi jasad-jasad hidup akuatik melalui pengendalian berat jenis dan keragaman tekanan osmotik. Pada umumnya kandungan garam dalam sel-sel biota laut cenderung mendekati kandungan garam dalam kebanyakan air laut. Jika sel-sel itu berada di lingkungan dengan salinitas lain maka suatu mekanisme osmoregulasi diperlukan untuk menjaga keseimbangan kepekatan antara sel dan lingkungannya. Pada kebanyakan binatang estuarin penurunan salinitas permulaan biasanya dibarengi dengan penurunan salinitas dalam sel, suatu mekanisme osmoregulasi baru terjadi setelah ada penurunan salinitas yang nyata (Mukayat, et al., 2000).
Oleh karena itu, penting untuk melakukan praktikum mengenai proses osmoregulasi pada organisme air benur ikan mas dan Udang Windu (Panaeus monodon) sehingga kita dapat mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi jika salinitasnya berbeda apakah organisme tersebut eurihaline atau stenohaline.
B. Tujuan dan Manfaat
Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah untuk mengamati pengaruh salinitas yang berbeda terhadap proses osmoregulasi pada organisme air (benih ikan mas dan benur udang).
Manfaat dari pratikum ini adalah sebagai bahanmasukanuntuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan mengenai proses osmoregulasi benih ikan mas dan benur udang pada salinitas yang berbeda.










II.  TINJAUAN PUSTAKA
A.  Klasifikasi
Ikan mas(C. carpio) adalah merupakan salah satu jenis ikan yang termasuk dalam famili Cyprinidae Ikan ini juga biasa disebut dengan nama ikan karper ataupun ikan tombro. Pada awalnya, ikan ini diketahui berasal dari Cina dan Eropa (Anonim, 2009).
Menurut Bachtiar dkk, (2002), klasifikasi ikan Mas (C. carpio) adalah sebagai berikut:
Kingdom         :  Chordata
             Phylum  :  Vertebrata
            Order   :  Cypniformes
                                    Family     :   Cyprinidae
                                    Genus     :  Cyprinus
                                                            Species  :     C.carpio
                        Gambar 2. Ikan Mas (C.carpio) (Perikanan, 2001)
Menurut Romimohtarto dan Juwana (2005). Klasifikasi Udang Windu (P. monodon) adalah  sebagai berikut :
        





Kingdom   :   Animalia
               Phylum   :   Crustacea
                         Class     :   Astracoda.
            Order  :   Decapoda
                                        Family   :   Penaeidae
                     Genus   :  Penaeus
Species   :  P. monodon
               Gambar 3. Udang Windu (P. monodon) (Bismacenter, 2003)


B.  Morfologi Dan Anatomi
Menurut Bachtiar dkk (2002), dilihat dari morfologi atau bentuk tubuhnya ikan mas memiliki ciri-ciri sebagai berikut bentuk badan memanjang dan sedikit pipih ke samping, mulut terletak di ujung tengah (terminal) dan dapat disembulkan (protektil) serta dihiasi dua pasang sungut. Selain itu di dalam mulut terdapat gigi kerongkongan, dua pasang sungut ikan mas terletak di bibir bagian atas tetapi kadang-kadang satu pasang sungut rudimentee atau tidak berfungsi, gigi kerongkongan (pharyngeal teeth) terdiri atas tiga baris yang berbentuk geraham, memiliki sirip punggung (dorsal) berbentuk memanjang dan terletak di bagian permukaan tubuh, berseberangan dengan permukaan sirip perut (ventral) bagian belakang sirip punggung memiliki jari-jari keras sedangkan bagian akhir berbentuk gerigi, sirip dubur (anal) bagian belakang juga memiliki jari-jari keras dengan bagian akhir bebrbentuk gerigi seperti halnya sirip punggung, sirip ekor berbentuk cagak dan berukuran cukup besar dengan tipe sisik berbentuk lingkaran (cycloid) yang terletak beraturan, gurat sisik atau garis rusuk (linea lateralis) ikan mas berada di pertengahan badan dengan posisi melintang dari tutup insang sampai keujung belakang pangkal ekor. Bila diamati, mata ras ikan mas ini berbentuk agak menonjol. Perbandingan antara panjang dan tinggi tubuh berkisar antara 3,5 : 1  (Rochdianto, 2002).
Udang windu adalah  sebagian besar hidup di laut dan bernafas dengan insang. Tubuhnya terbagi dalam kepala (cephalin), dada (thorax) dan abdomen. Kepala dan dada bergabung membentuk kepala-dada (cephalothorax). Kepalanya biasanya terdiri atas lima ruas yang tergabung menjadi satu. Mereka mempunyai dua pasang antena, sepasang mandibel (mandible) atau rahang dan dua pasang maksila (maxila). Dada mempunyai embelan dada yang bentuknya berbeda-beda. Beberapa diantaranya digunakan untuk berjalan. Ruas abdomen biasanya sempit dan lebih muda bergerak dari pada kepala dan dada. Ruas-ruas tersebut mempunyai embelan yang ukuranya sering mengecil (Romimohtarto dan Juwana, 2001).Udang mempunyai 2 pasang antena, 1 pasang mandibulata dan 2 pasang maksila, tubuhnya tertutup karapaks, dan ekor dengan telson. Udang juga mempunyai beberapa apendages, tubuh dapat dibedakan atas kepala, dada, dan perut. Respirasi udang menggunakan insang, eskresi dengan kelenjar antenal dan atau mandibular (Suhardi, 2007).
C.  Habitat Dan Penyebaran
Ikan Mas (C.carpio) hidup dan berkembangbiak pada daerah dengan ketinggian 50 sampai 600 meter di atas permukaan laut. Kualitas air yang baik untuk memeliharanya adalah suhu air 20 sampai 30oC, pH 7 – 8 dan kandungan oksigen terlarut lebih besar dari 5 ppt serta terhindar dari pengaruh pencemaran, baik pencemaran pada bahan organik maupun anorganik. Di dalam sungai, danau dan rawa. Ikan mas berpijah sepanjang tahun tanpa mengenal musim, namun demikian pemijahan ini biasanya terjadi pada awal musim penghujan. Perairan yang ditumbuhi tanaman air atau rerumputan merupakan habitat yang disukai ikan mas untuk berpijah, karena tanaman air merupakan tempat untuk penempelan telur ikan mas  (Hardirini, 2000).
Ikan Mas (C.carpio) yang berkembang di Indonesia diduga awalnya berasal dari Tiongkok Selatan. Disebutkan, budi daya ikan Mas diketahui sudah berkembang di daerah Galuh (Ciamis) Jawa Barat pada pertengahan abad ke-19. Masyarakat setempat disebutkan sudah menggunakan kakaban - subtrat untuk pelekatan telur ikan Mas yang terbuat dari ijuk – pada tahun 1860, sehingga budi daya ikan Mas di kolam di Galuh disimpulkan sudah berkembang berpuluh-puluh tahun sebelumnya. Sedangkan penyebaran ikan Mas (C.carpio) di daerah Jawa lainnya, dikemukakan terjadi pada permulaan abad ke-20, terutama sesudah terbentuk Jawatan Perikanan Darat dari “Kementrian Pertanian” (Kemakmuran) saat itu (Ardiwinata, 2004).
Udang windu adalah binatang yang hidup di perairan, khususnya sungai maupun laut atau danau. Udang windu dapat ditemukan di hampir semua genangan air yang berukuran besar baik air tawar, air payau, maupun air asin pada kedalaman bervariasi, dari dekat permukaan hingga beberapa ribu meter di bawah permukaan. Anonim
D.  Reproduksi dan Daur Hidup
Siklus hidup ikan mas (C.carpio) dimulai dari perkembangan di dalam gonad (ovarium pada ikan betina yang menghasilkan telur dan testis pada ikan jantan yang menghasilkan sperma). Sebenarnya pemijahan ikan mas dapat terjadi sepanjang tahun dan tidak tergantung pada musim. Namun, di habitat aslinya, ikan mas memijah pada awal musim hujan, karena adanya rangsangan dari aroma tanah kering yang tergenang air. Secara alami, pemijahan terjadi pada tengah malam sampai akhir fajar. Menjelang memijah, induk-induk ikan mas (C.carpio) aktif mencari tempat yang rimbun, seperti tanaman air atau rerumputan yang menutupi permukaan air. Substrat inilah yang nantinya akan digunakan sebagai tempat menempel telur sekaligus membantu perangsangan ketika terjadi pemijahan (Lestari, 2012).
Sifat telur ikan mas adalah menempel pada substrat. Telur ikan mas berbentuk bulat, berwarna bening, berdiameter 1,5-1,8 mm, dan berbobot 0,17-0,20 mg. Ukuran telur bervariasi, tergantung dari umur dan ukuran atau bobot induk. Embrio akan tumbuh di dalam telur yang telah dibuahi oleh spermatozoa.
Antara 2-3 hari kemudian, telur-telur akan menetas dan tumbuh menjadi larva. Larva ikan mas mempunyai kantong kuning telur yang berukuran relatif besar sebagai cadangan makanan bagi larva. Kantong kuning telur tersebut akan habis dalam waktu 2-4 hari. Larva ikan mas bersifat menempel dan bergerak vertikal. Ukuran larva antara 0,50,6 mm dan bobotnya antara 18-20 mg. Larva berubah menjadi kebul (larva stadia akhir) dalam waktu 4-5 hari. Pada stadia kebul ini, ikan mas memerlukan pasokan makanan dari luar untuk menunjang kehidupannya. Pakan alami kebul terutama berasal dari zooplankton, seperti rotifera, moina, dan daphnia. Setelah 2-3 minggu, kebul tumbuh menjadi burayak yang berukuran 1-3 cm dan bobotnya 0,1-0,5 gram. Antara 2-3 minggu kemudian burayak tumbuh menjadi putihan (benih yang siap untuk didederkan) yang berukuran 3-5 cm dan bobotnya 0,5-2,5 gram. Putihan tersebut akan tumbuh terus. Setelah tiga bulan berubah menjadi gelondongan yang bobot per ekornya sekitar 100 gram (Lestari, 2012).
Kebanyakan udang windu memiliki alat reproduksi yang terpisah (dioceous) atau terdapat individu jantan dan betina, namun pada udang windu tingkat rendah ada yang bersifat hermaphrodit. Alat kelamin betina terdapat pada pasangan kaki ketiga dan alat kelamin jantan terdapat pada pasangan kaki kelima. Namun pada spesies tertentu ada yang belum dapat diketahui perkembangbiakan dan perkelaminannya. Udang windu bereproduksi dengan mengadakan kopulasi (pembuahan). Pada proses kopulasi tersebut individu jantan biasanya memiliki apendiks yang dapat berfungsi untuk memegang betina. Individu jantan akan meletakan massa spermatoforik di bagian sternum udang betina. Peletakan massa spermatoforik tersebut berlangsung sebelum telur dikeluarkan. Pembuahan terjadi saat telur yang dikeluarkan dari celah genital ditarik ke arah abdomen oleh pasangan kaki kelima betina. Pada waktu telur tertarik ke abdomen, sperma keluar dari massa spermatoforik yang tersobek sehingga terjadi pembuahan. Anonim



E.  Tingkah Laku
Ikan mas (C. carpio) termasuk ikan yang memiliki kebiasaan makan diberbagai bagian perairan, di permukaan air, di tengah perairan, dan juga di dasar perairan. Namun ikan mas (C.carpio) lebih cenderung pemakan dasar (bottom feeder) dengan mengaduk-ngaduk dasar perairan. Tak heran bila setelah selesai masa pemeliharaan, pematang kolam menjadi rusak, sehingga apabila akan digunakan, pematang kolam harus diperbaiki terlebih dahulu (Arie, 2008).
Sekalipun ikan mas (C.carpio) menyukai makanan alami berupa plankton namun kebiasaan ini berubah secara berangsur-angsur dengan perkembangan dan pertumbuhannya. Ikan mas (C.carpio) dikenal sebagai hewan air pemakan segala (omnivora). Ikan mas (C.carpio) dewasa relative sangat rakus menelan semua jenis makanan alami ataupun pakan buatan (Budi,2002).
G.  Osmoregulasi
Osmoregulasi adalah upaya mengontrol keseimbangan air dan ion-ion antara tubuh dan lingkungannya atau suatu proses pengaturan tekanan osmose. Hal ini penting dilakukukan terutama oleh organisme perairan karena harus terjadi keseimbangan antara substansi tubuh dan lingkungan, membran sel yang permeabel merupakan tempat lewatnya beberapa subtansi yang bergerak cepat dan perbedaan tekanan osmose antara cairan tubuh dan lingkungan (Fujaya, 2004).
            Osmoregulasi ini berfungsi untuk mengatur tekanan osmoses dan keseimbangan konsentrasi cairan dalam tubuh serta mengaturkeseimbangan ion antara cairan dalam tubuhnya dengan medium/lingkungannya. Organisme perairan laut apabila dimasukan ke daerah yang bersalinitas rendah dapat mengalami kehilangan ion melalui permukaan tubuh dan urin, kandungan ion seluler akan terganggu dan sel-sel tubuhnya akan menyerap air secara osmosis dari darah. Bila ketiga hal ini berlangsung secara intensif dan kontinyu, akan mengakibatkan pecahnya sel-sel tubuh (turgor) dan dehidrasi atau kekurangan air yang akhirnya akan menyebabkan kematian organisme (Yusnaini, dkk, 2012).
Salinitas atau kadar garam adalah jumlah kandungan bahan padat dalam satu kilogram airlaut, seluruh karbonat telah diubah menjadi oksida, brom dan yodium telah disetarakan dengan klor dan bahan organik telah dioksidasi. Secara langsung, salinitas media akan mempengaruhi tekanan osmotik cairan tubuh ikan. Apabila osmotik lingkungan (salinitas) berbeda jauh dengan tekanan osmotik cairan tubuh (kondisi tidak ideal) maka osmotikmedia akan menjadi beban bagi ikan sehingga dibutuhkan energi yang relatif besar untuk mempertahankan osmotik tubuhnya agar tetap berada pada keadaan yang ideal (Sharaf, et al., 2004dalam Sinaga, 2011).
Hewan jika dilihat dari kemampuan dalam menyesuaikan diri dengan salinitas lingkungan eksternalnya dibagi menjadi dua yaitu osmoregulator dan osmoconformer. Hewan osmoconformer adalah hewan yang kadar garam lingkungan internalnya menyesuaikan dengan keadaan lingkungan luar sekelilingnya. Sedangkan hewan osmoregulator adalah hewan yang kadar garam lingkungan internalnya cenderung tidak berubah, walaupun kadar garam lingkungan eksternalnya berubah (Sinaga, 2001).


III.METODE PRAKTIKUM
A.  Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari selasa tanggal 20 Mei 2014, pukul 07.00 WITA sampai selesai dan bertempat di Laboratorium produksi Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas HaluOleo Kendari.

B.  Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum proses osmoregulasi dapat dilihat pada Tabel 4 sebagai berikut :
Tabel 4.  Alat dan Bahan beserta Kegunaannya
No
Al at dan bahan
Satuan
Kegunaan
1.
-

-
-
-
2
-
-
-
-


-
Alat
Toples

Hand Refraktometer
Stopwatch
Alat tulis menulis
Bahan
Air laut
Air tawar
Benih ikan mas
Benur udang windu
Tissu

Garam

3 buah

Ppt
Detik


5 liter
5 liter
10 ekor
10 ekor
1 gulung

Gram

Tempat media dan hewan yang akan di amati.
Mengukur salinitas.
Menghitung waktu.
Mencatat hasil pengamatan

Media yang digunakan.
Media yang digunakan
Media yang diamati
Media yang diamati
Membersihkan alat dan tempat praktikum
Sebagai larutan salinitas






C.  Prosedur Kerja
Prosedur kerja pada praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.      Menyiapkan 3 Buah Wadah (toples) yang bersih air dan beri label masing-masing salinitas : 0, 20,  dan 40 ppt.
2.      Masing-masing wadah diisi dengan air dengan salinitas sesuai dengan konsentrasi label pada wadah.
3.      Mengukur salinitas air/media asal organisme yang dijadikan hewan percobaan.
4.      Memasukan secara perlahan  3ekor hewan uji ke dalam tiap wadah dan diamati tingkah lakunya.
5.      Melakukan pengamatan selanjutnya setiap 15 menit dan mencatat tingkah lakunya tiap 5 menit
6.      Mencatat hasil pengamatan dalam tabel pengamatan osmoregulasi.


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.  Hasil pengamatan
Hasil pengamatan pada praktikum osmoregulasi ini dapat dilihat pada Tabel 5 berikut :
Tabel 5.  Hasil pengamatan pengaruh salinitas padabenur udang windu (P.monodon) dan benih  ikan mas (C. carpio)
Jenis organisme
t (menit)
Kondisi/Tingkah Laku
0 ppt

20 ppt
40 ppt
Benur udang windu
5-15



Ikan mas
5-15



Keterangan :
            : Normal
            : Melambat/menyebabkan kematian
      : Mati

B.  Pembahasan
Pengamatan yang dilakukan pada praktikum ini yaitu mengenai osmoregulasi. Osmoregulasi adalah proses dimana suatu organisme air dapat menyeimbangkan tekanan yang ada di dalamtubuhnya dengan medium lingkungannya.Hal ini sesuai dengan pernyatan Sartjen (2012), bahwa Osmoregulasi terjadi pada hewan perairan, karena adanya perbedaan tekanan osmosis antara larutan di dalam tubuh dan di luar tubuh. Sehingga osmoregulsi merupakan upaya hewan air untuk mengontrol kesimbangan air dan ion-ion yang terdapat di dalam tubuhnya dengan lingkungan melalui sel permeable . pengaturan osmosis ini sangat mempengaruhi metabolisme tubuh hewan perairan dalam menghasilkan energy. Regulasi ion dan air pada hewan akuatikn dapat terjadi secara hypertonic, hypotonic atau isotonic.
Untuk organisme yang diuji dalam praktikum ini yaitu benur udang windu (P. monodon) dan benih ikan mas (C .carpio) dalam medium yang sama, tetapi dengan konsentrasi yang berbeda-beda yaitu 0, 20, dan 40 ppt dengan waktu yang digunakan selama 15 menit.
Pada pengamatan benur udang windu (P. monodon) dan benih ikan mas (C. carpio) dengan menggunakan toples yang berisi air dengan salinitas yang berbeda yaitu 0, 20, dan 40 ppt. Pada  pengamatan benur udang windu (P. monodon), 5  menit pergerakannya masih terlihat normal, pada salinitas 0, 20, dan 40 ppt. Pada 10 menit pergerakan benur udang windu (P. monodon) pada konsentrasi salinitas 0 dan 20, pergerakan udang windu masih stabil diakibatkan karena udang windu merupakan hewan eurihalin yang mampu bertahan hidup dalam salinitas rendah maupun tinggi, sama halnya dalam konsentrasi salinitas  40 ppt pergerakannya masih stabil. Pada 15 menit pergerakan benur udang windu (P. monodon) pada konsentrasi salinitas 0 dan 20, pergerakannya masih stabil, karena udang windu hidup pada perairan payau dan dapat mentolerin salintas yang tinggi dan rendah, dan untuk konsentrasi salinitas 40 ppt pergerakannya tetap stabil. Hal ini sesuai dengan pendapat Sinaga. (2001), yang menyatakan bahwa udang merupakan organisme eurihaline yang mampu bertahan hidup dalam salinitas tinggi maupun rendah. Eurihalin adalah sifat suatu organime yang mampu bertahan dalam lingkungan berkkadar garam atau bersalinitas tinggi.
Sedangkan pada  benih ikan mas (C. carpio), terlihat bahwa pada 5 menit pergerakan benih ikan mas (C. carpio) masih dalam keadaan normal dan sangat aktif bergerak begitupun dengan konsentrasi salinitas 0, 20 dan 40 ppt. Pada 10 menit pergerkan benih ikan mas (C. carpio), pada salinitas 0 dan 20 ppt pergerkannya masih stabil diakibatkan karena  ikan mas (C. carpio) hidup pada perairan tawar, sedangkan untuk salinitas 40 ppt pergerakannya sudah mulai melambat karena tidak mampu untuk mentolerin salinitas tersebut. Pada 15 menit pergerakan benih ikan mas (C. carpio), pada salinitas 0 dan 20 ppt pergerkannya tetap stabil diakibatkan karena  ikan mas (C. carpio) hidup pada perairan tawar, sedangkan untuk salinitas 40 ppt benih ikan mas sudah mati. Hal sesuai dengan pendapat Yusnaini, dkk. 2012 yang menyatakan bahwa Ikan mas mempunyai toleransi salinitas yang sedikit atau yang biasa di sebut stenohalin artinya ikan ikan ini tidak mampu hidup pada salinitas yang tinggi.
Fungsi tubuh organisme perairan dapat berjalan secara normal bila konsentrasi cairan dalam sel-sel tubuhnya sesuai dengan konsentrasi medium lingkungannya.. Fungsi osmoregulasi pada organisme perairan adalah untuk mengatur tekanan osmose, untuk mengatur keseimbangan konsentrasi cairan dalam tubuh dan mengatur keseimbangan ion antara cairan dalam tubuh dengan lingkungannya.







V. PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan pada proses osmoregulasi maka dapat di kesimpulan bahwa :
1.    Osmoregulasi adalah proses pengaturan keseimbangan antara ion-ion didalam sel tubuh dengan keadaan lingkungannya.
2.     Benur udang merupakan hewan eurihaline karena benur udang windu mampu bertahan dalam salinitas tinggi mapupun rendah.
3.    benih ikan mas merukan hewan stenohaine karena benih ikan mas tidak mampu hidup dalam salinitas tinggi
B.Saran
Saran yang dapat saya sampaikan pada praktikum kali ini, sebaiknya untuk praktikum, proses osmoregulasi selanjutnya organisme yang menjdi bahan uji lebih dari dua organisme sehingga mampu membedakan terutama  proses osmorgulasi pada masing – masing organisme tersebut.
























I.       PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Fisiologi dapat didefenisikan sebagai ilmu yang mempelajari fungsi mekanisme, dan cara kerja dari organ, jaringan, dan sel-sel organisme. Fisiologi mencoba menerangkan faktor-faktor fisika dan kimia yang mempengaruhi seluruh proses kehidupan. Ikan sebagai hewan air memiliki beberapa mekanisme fisiologis yang tidak dimiliki oleh hewan darat. Fisiologi ikan dapat didefenisikan sebagai ilmu yang mempelajari fungsi kegiatan kehidupan zat hidup (organ, jaringan, atau sel) dan fenomena fisika dan kimia yang mempengaruhi seluruh proses kehidupan ikan (Fujaya, 2004).
Oksigen merupakan salah satu variabel lingkungan yang sangat dibutuhkan oleh organisme akuatik. Oksigen yang terlarut di dalam perairan masuk ke dalam tubuh organisme melalui proses pernapasan (respirasi). Kandungan oksigen terlarut di perairan sangat menentukan keberhasilan proses pernapasan. Hewan air membutuhkan  oksigen dengan jumlah yang berbeda-beda tergantung pada jenis, ukuran, kondisi fisiologis dan variabel lingkungan seperti suhu, kadar oksigen terlarut, kadar CO2, salinitas, dan lain-lain. Dengan adanya batas minimal oksigen terlarut yang dapat ditolelir oleh hewan akuatik dan adanya variasi kebutuhan oksigen pada berbagai hewan akuatik maka perlu dikaji tentang batas minimal kadar oksigen terlarut dan tingkat konsumsi oksigen untuk hewan akuatik (Darma, 2011).
Oksigen dibutuhkan oleh organisme untuk membantu proses metabolisme yang terjadi di dalam tubuh. Oksigen yang masuk tersebut melalui proses respirasi insang dengan cara difusi pada permukaan tubuh (khusus untuk krustasea yang berukuran kecel). Kapasitas oksigen yang dibawa oleh darah berisi Hc (krustasea) dan Hb (ikan) dipengaruhi oleh laju metabolismenya. Laju metabolisme organisme dipengaruhi oleh faktor biotik seperti aktifitas, ukuran/berat, umur, seks/jenis kelamin dan moulting sedangkan faktor abiotik seperti temperatur, salinitas, oksigen, karbondioksida, pasang surut, siklus pergerakan air dan musim (Yusnaini dkk, 2012).
Oksigen terlarut adalah oksigen dalam bentuk terlarut di dalam air karena ikan tidak dapat mengambil oksigen dalam perairan dari difusi langsung dengan udara. Satuan pengukuran oksigen terlarut adalah mg/l yang berarti jumlah mg/l gas oksigen yang terlarut dalam air atau dalam satuan internasional dinyatakan ppm (part per million). Air mengandung oksigen dalam jumlah yang tertentu, tergantung dari kondisi air itu sendiri (Adnan, 2010).
Mengingat betapa pentingnya untuk mengetahui hal-hal tersebut diatas, maka praktikum mengenai konsumsi oksigen pada ikan perlu dilakukan.
B.  Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui konsumsi oksigen yang dibutuhkan oleh organisme air dalam membantu proses metabolisme yang tejadi didalam tubuh dan untuk mengetahui konsumsi oksigen berdasarkan ukuran (berat).
Manfaat dari praktikum ini adalah  sebagai bahan masukan bagi mahasiswa dan untuk menambah ilmu pengetahuan serta wawasan mengenai konsumsi oksigen yang dibutuhkan oleh organisme.
II.  TINJAUAN PUSTAKA
A.  Klasifikasi
Menurut (Moyle dan Chech, 2000), klasifikasi dan morfologi ikan Mas (C.carpio) adalah sebagai berikut :
Kingdom         :  Chordata
             Phylum  :  Vertebrata
            Order   :  Cypniformes
                                    Family     :   Cyprinidae
                                    Genus     :  Cyprinus
                                                            Species  :     Cyprinuscarpio

 Gambar 4. Ikan Mas (C.carpio)

B.  Morfologi dan Anatomi
IkanC.carpiomasmemiliki bentuk tubuh yang pipih ke arah vertikal (kompress) dengan profil empat persegi panjang ke arah antero posterior. Posisi mulut terletak di ujung hidung (terminal) dan dapat disembulkan. Pada sirip ekor tampak jelas garis-garis vertikal dan pada sirip punggungnya garis tersebut kelihatan condong letaknya. Ciri khas ikan mas adalah garis-garis vertikal berwarna hitam pada sirip ekor, punggung dan dubur. Pada bagian sirip caudal (ekor) dengan bentuk membulat terdapat warna kemerahan dan bisa digunakan sebagai indikasi kematangan gonad. Pada rahang terdapat bercak kehitaman. Sisik ikan mas adalah type ctenoid. Ikan mas juga ditandai dengan jari-jari dorsal yang keras, beitu pula pada bagian analnya. Dengan posisi sirip anal sibelakang sirip dada (abdominal) (Musida, 2007).
Ikan mas C.carpiomemilki lima buah sirip, yakni sirip punggung (dorsal fin), sirip dada (pectoral fin), sirip perut (ventral fin), sirip anus (anal fin) dan sirip ekor (caudal fin). Sirip punggunya memanjang dari bagian atas tutup ingsang hingga bagian atas sirip ekor, terdapat juga sepasang sirip dada dan sirip perut yang berukuran kecil. Sirip anusnya hanya satu buah dan berbentuk agak panjang, sedangkan sirip ekornya berbentuk bulat dan hanya berjumlah satu buah (Malyno, 2012).


C.  Habitat dan Penyebaran
Menurut Suyanto, (2004) dalam Anonim, (2011) ikan nila dapat hidup di perairan yang dalam dan luas maupun di kolam yang sempit dan dangkal. Mas juga dapat hidup di sungai yang tidak terlalu deras alirannya, di waduk, rawa, sawah, tambak air payau, atau di dalam jaring terapung dilaut.
Ikan mas merupakan genus ikan yang dapat hidup dalam kondisi lingkungan yang ekstrim, sering kali ditemukan hidup normal pada habitat-habitat yang ikan dari jenis lain tidak dapat hidup. Ikan Mas (C.carpio) memiliki toleransi yang tinggi terhadap lingkungan hidupnya, sehingga dapat dipelihara di dataran rendah yang berair payau hingga di daratan tinggi yang berair rawa. Habitat hidup ikan ini cukup beragam, bisa disungai, danau, waduk, rawa, sawah, kolam ataupun tambak. Ikan ini dapat tumbuh secara normal pada kisaran suhu 14-38 oC akan tetapi pada suhu 6 atau 42 oC ikan ini akan mengalami kematian. Selain suhu, faktor lain yang bisa mempengaruhi kehidupan ikan ini adalah salinitas atau kadar garam. Ikan mas (C.carpio) bisa tumbuh dan berkembang biak diperairan dengan salinitas 0-29 ppt,  ikan ini masih bisa tumbuh, tetapi tidak dapat bereproduksi di perairan dengan salinitas 29-35 ppt. Ikan yang masih kecil biasanya lebih cepat menyesuaikan diri terhadap kenaikan salinitas dibandingkan dengan Ikan Mas yang berukuran besar (Ahmad, 2010).  

D.  Reproduksi dan Daur Hidup
Reproduksi alami spesies ikan mas (C.carpio) terjadi dalam salah satu dari dua cara. Spesies O.aureus, O.mossambicus dan O.niloticus disebut mouth-brooders (telur dalam mulut). Betina mengeram dan menetaskan telur-telur dalam mulutnya setelah mereka diletakkan dan dibuahi oleh ikan mas jantan mereka. Kemudahan menghasilkan telur dan larva membuat mereka menghasilkan keturunan yang banyak dan tentu menguntungkan untuk di budidayakan. Namun, sifat ini juga menimbulkan masalah. Tingkat kelangsungan hidup dan tumbuh ikan kecil sangat tinggi menjadikan kolam ramai dan sesak. Ikan menjadi terhambat pertumbuhannya karena pasokan makanan alami organisme di kolam habis. Hampir 75% atau lebih dari populasi berat ikan mas mungkin kurang dari 100 gram. Hal ini mungkin tidak ada masalah serius di Timur, di mana bahkan ikan-ikan kecil dimakan. Namun, jika ikan yang lebih besar dari 150 gram lebih disukai oleh pasar, teknik budidaya khusus mungkin diperlukan untuk pertumbuhan ikan. Teknologi ini berbeda, membutuhkan tingkat keahlian dan manajemen dan menghasilkan berbagai tingkat keberhasilan besar dalam memproduksi ikan mas. Beberapa dapat dikombinasikan untuk efisiensi dalam penggunaan sumberdaya (Bayu, 2011).
Induk Mengeram Telur dalam Mulutnya (mouth brooders) dengan suhu optimum 23-28 derajat Celcius. Bertelur 3 kali atau lebih per tahun dengan jumlah 1.500-4.300 telur yang dihasilkan per tahun. Telur menetas dalam 3 sampai 5 hari dan betina penjaga anak-anaknya selama 8-10 hari setelah menetas. Anak ikan mas memakan zooplankton dan setelah Ikan dewasa memakan zooplankton dan fitoplankton, dan memakan rumput dan organisme. Juga makan makanan yang diproduksi (pellet) (Aditya, 2011).

E.  Tingkah Laku
Ikan masmemakan plankton, detritus, organisme dasar (benthos) seperti cacing, larva, seranga air, kijing, siput, dan lain-lain. Jenis plakton yang sering dimakan ikan masadalah jenis fltoplakton yaitu protococcus. Waktu-waktu aktif ikan mas lebih banyak pada waktu siang hari. Faktor yang menentukan apakah suatu jenis ikan akan memakan suatu organisme makanan adalah ukuran makanan, ketersediaan makanan, warna makanan dan selera ikan terhadap makanan (Tholifin, 2011).
          Ikan mas merupakan ikan yang bersifat omnivora (pemakan segala), tetapi cenderung sebagai herbivora, karena ikan mas lebih suka memakan fitoplankton dan berbagai jenis tumbuhan air, oleh karena itu ikan mas seringkali dimanfaatkan untuk mengendalikan gulma air (Harry, 2012).

F.  Konsumsi Oksigen
Oksigen dibutuhkan oleh organisme untuk membantu proses metabolisme yang terjadi didalam tubuh. Oksigen yang masuk tersebut melalui proses respirasi insang dengan cara difusi pada permukaan tubuh (khusus untuk krustecea yang berukuran kecil). Kapasitas oksigen yang dibawa oleh darah yang berisi Hc (krustacea) dan Hb (ikan) dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti tekanan oksigen dan suhu. Jumlah oksigen yang dibutuhkan organisme dipengaruhi oleh laju metabolismenya. Laju metabolisme organisme dipengaruhi oleh faktor abiotik dan faktor biotik. Faktor biotik seperti aktivitas (organisme aktif memiliki laju metabolisme tinggi dibandingkan organisme yang lambat), ukuran (organisme yang berukuran kecil mempunyai laju metabolisme yang lebih tinggi dibandingkan ikan besar karena tempat rasio insangnya terhadap keseluruhan tubuhnya lebih besar. Namun sebaliknya semakin besar suatu organisme maka konsumsi oksigennya semakin besar pula karena semua anggota tubuhnya bergerak memerlukan energy yang berasal dari oksigen dan makanan), umur(semakin tua suatu organisme, semakin rendah laju metabolismenya, tetapi konsumsi oksigennya lebih besar, karena ukurannya lebih besar), seks (organisme jantan biasanya lebih aktif sehingga laju metabolismenya tinggi), moulting (khusus krustasea yang mempunyai siklus moulting, pada fase intermoult dan ecdysis, konsumsi oksigen tinggi karena terjadi pertumbuhan aktif maksimum sehingga metabolismenya tinggi. Sebaliknya pada pre moulting dan pos moulting, konsumsi oksigennya rendah (Yusnaini, dkk., 2012).
            Bernafas artinya melaksanakan pertukaran gas, yaitu: mengambil oksigen (O2) dan mengeluarkan karbondioksida (CO2). Pertukaran gas O2 dengan CO2 dapat berlangsung melalui proses difusi. Pada hewan berukuran kecil terdapat perbandingan antara luas permukaan dengan volume tubuh yang cukup besar sehingga dapat melaksanakan pertukaran gas dan cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Hal ini dapat dilakukan melalui cara difusi melalui pertukaran tubuhnya. Tetapi pada hewan berukuran besar, terutama pada hewan yang aktif, perbandingan antara luas dengan volume tubuh terlalu kecil untuk melakukan hal yang serupa, karenanya diperlukan suatu permukaan tubuh yang khusus untuk pernafasan, untuk menangkap O2 dan melepaska CO2 (Lisnawati, 2009).
            Konsumsi oksigen sebanding dengan produksi panas tubuh (kkal/hari). Konsumsi oksigen berbanding lurus dengan berat dan bila dituliskan dalam rumus maka T= α.Wy dimana α dapat berbeda-beda tergantung kondisi air (dingin, sejuk, panas) dan y = 0,8. Berat tubuh ikan berpengaruh terhadap konsumsi oksigen, semakin ringan berat ikan maka nilai KO2nya semakin besar (Yuwono, 2001).
            Kebutuhan konsumsi oksigen ikan mempunyai spesifitas yaitu kebutuhan lingkungan bagi spesies tertentu dan kebutuhan konsumtif yang bergantung pada kebutuhan dan keadaan metabolisme ikan. Perbedaan kebutuhan oksigen dalam suatu lingkungan bagi ikan dari spesies tertentu disebabkan oleh adanya perbedaan struktural molekul darah yang mempengaruhi hubungan antara tekanan parsial oksigen dalam air dan derajat kejenuhan dalam sel darah. Ketersediaan oksigen bagi ikan menentukan aktifitas ikan. Faktor yang mempengaruhi konsumsi oksigen pada ikan antara lain (1). Aktifitas , ikan dengan aktifitas tinggi misalnya ikan yang aktif berenang akan mengkonsumsi oksigen jauh lebih banyak dari pada ikan yang tidak aktif. (2). Ukuran, Ikan dengan ukuran lebih kecil, kecepatan metabolismenya lebih tinggi daripada ikan yang berukuran besar namun oksigen yang dikonsumsi lebih sedikit. (3). Umur, ikanyang berumur masih muda akan mengkonsumsi oksigen lebih banyak dari pada ikan yang lebih tua. (4). Temperatur, ikan yang berada pada temperatur tinggi laju metabolismenya juga tinggi sehingga konsumsi oksigen lebih banyak (Mirza, 2008).











III.  METODE PRAAKTIKUM
A.  Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jum’at tanggal 27 Mei 2014, pukul 07.00 WITA sampai selesai. Bertempat di Laboratorium produksi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Halu Oleo, Kendari.

B.  Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini dapat dilihat pada Tabel 6berikut ini.
Tabel 6.Alat dan Bahan beserta Kegunaannya
No.
Alat dan Bahan

Kegunaan
1.   
-
-

-
-
-
2
-
-
-
Alat
Toples/wadah
Kertas label

Alat tulis menulis
DO meter
Stopwatch
Bahan
BenihIkan mas
Tongkolan Ikan mas
Air tawar
-      
3 buah



Mg/l
detik

2 ekor
2 ekor
5 ltr

Untuk menyimpan objek yang diamati
Untuk penandaan besarnya salinitas pada  tiap-tiap toples/wadah
Untuk mencatat hasil pengamatan
Untuk mengukur suhu
Untuk menghitung waktu

Objek yang di amati
Objek yang di amati
Media larutan uji

C.  Prosedur Kerja
Prosedur kerja yang dilakukan pada praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.    Mengisi toples dengan media (air tawar)sesuai dengan organismenya.
2.    Mengukur temperatur air dengan menggunakan termometer dan kemudian mengukur oksigen yang terlarut dalam air dengan menggunakan DO meter.
3.    Menutup toples dengan rapat agar tidak ada lagi oksigen yang dapat berdifusi ke dalam air.
4.    Menimbang Benih ikan mas dan Tongkolan ikan mas dan mencatat beratnya sebagai DO awal.
5.    Memasukan ikan secara perlahan-lahan kedalam toples.Usahakan jangan sampai timbul gelembung udara dalam toples,kemudian tutup rapat dan beri isolasi disekeliling tutup toples.
6.    Menginkubasi selama 24 jam.
7.    Nenimbang  ikan mas sebagai DO akhir
8.    Mencatat hasil pengamatan.

 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.  Hasil Pengamatan
Hasil pengamatan pada praktikum konsumsi oksigen ini dapat dilihat pada Tabel 7 berikut :
Tabel 7.  Laju Metabolisme IkanMas
Organisme
Berat (g)
DOawal(mg/l)
DOakhir(mg/l)
X (jumlah kebutuhan (oksigen) (mg/l)
 Benih Ikan Mas
0,65
0,87
5,74
4,51
1,23
Tongkolan Ikan Mas
0,2,67
4,28
5,56
4,28
1,28


B.  Pembahasan
Oksigen sangat dibutuhkan oleh organisme untuk proses metabolisme. Laju metabolisme adalah tingkat kecepatan suatu organisme untuk mengkonsumsi oksigen dalam setiap pergerakannya. Proses laju metabolisme pada organisme perairan sangat penting artinya terutama dalam upaya mempertahankan hidupnya dari kondisi lingkungan yang selalu berubah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Yusnainidkk. (2013), bahwa oksigen dibutuhkan oleh organisme untuk membantu proses metabolisme yang terjadi di dalam tubuhnya, dimana oksigen yang masuk ke dalam tubuhnya melalui proses respirasi insang dengan cara berdifusi pada permukaan tubuh.
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan diperoleh nilai konsumsi oksigen Ikan Massebelum diinkubasi dan setelah diinkubasi memiliki hasil yang berbeda. Hal ini dapat dilihat pada tabel 2, bahwa DO awal air ikan kecil mencapai 5,74 mg/l, setelah diinkubasi selama 24 jam dengan keadaan air terisi dengan Ikan Mas, maka DO akhir berkurang mencapai 4,51 mg/l, setelah DO awal dkurangi dengan DO akhir maka total DOnya adalah 1,23 mg/l. Hal ini menunjukan bahwa selama proses inkubasi oksigen yang dibutuhkan oleh Ikan Mas lebih banyak, karena pada saat proses inkubasi ikan ditutup rapat sehingga tidak ada udara yang masuk berdifusi dengan air. Sedangkan pengamatan pada ikan Mas yang berukuran besar, DOawalsebesar 5,56 mg/L dan setelah 24 jam yaitu sebesar atau DOakhir4,28 mg/L. Berarti ikan mas mengkonsumsi oksigen sebesar biasa di sebut DOakhir 1,28 mg/L. Ini menunjukan bahwa ikan mas berukuran besar lebih sedikit mengkonsumsi oksigen,ketimbang ikan mas yang berukuran keci hal ini dikarenakan ikan yang berukuran besar memiliki laju metabolisme yang rendah. ikan mas yang berukuran kecil banyak membutuhkan oksigen untuk factor perkembangan. Hal ini sesuai dengan pendapat Yusnaini, dkk. (2012) bahwa semakin besar suatu organisme maka konsumsi oksigen semakin besar pula karena semua anggota tubuhnya bergerak memerlukan energi yang berasal dari oksigen dan makanan.



V. PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil pembahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.        Ikan mas berukuran kecil laju metabolismenya tinggi sedangkan ikan mas berukuran besar laju metabolismenya rendah.
2.        Ikan mas berukuran besar mengkonsumsi oksigen lebih banyak dari pada ikan mas berukuran kecil.
B. Saran
Adapun saran saya dalam praktikum kali ini yaitu untuk Organime pengamatan yang akan di praktekan di sediakan dari laboratorium, sehingga praktikun tidak lagi sediakan bahan dan praktikum berjalan dengan lancar





































I. PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Suhu merupakan salah satu pembatas penyerapan hewan dan menentukan aktivitas hewan. Banyak hewan yang suhu tubuhnya disesuaikan dengan suhu lingkungan yang disebut dalam kelompok hewan poikilitermik. Poikilotermik berarti suhu berubah (labil) sesuai dengan perubahan suhu lingkungan. Jadi suhu tubuh hewan poikilotermik mengikuti atau bergantung pada suhu lingkungan (Alfanisti, 2009).
Perubahan suhu memiliki pengaruh terhadap berbagai proses fisiologi. Dalam batas-batas tertentu, peningkatan suhu akan mempercepat banyak proses fisiologi. Misalnya pengaruh suhu terhadap frekuensi denyut jantung. Rentangan toleransi suhu pada berbagai hewan berbeda-beda, ada yang luas dan ada yang sempit. Selanjutnya toleransi suhu dapat berubah karena waktu dan derajat adaptasi. Beberapa organisme lebih sensitif terhadap suhu ekstrim selama periode tertentu dalam hidupnya. Suhu mempengaruhi proses fisiologis organisme termasuk frekuensi denyut jantung. Penaikan ataupun penurunan tersebut dapat mencapai dua kali aktivitas normal. Perubahan aktivitas akibat pengaruh suhu. Aktivitas akan naik seiring dengan naiknya suhu sampai pada titik dimana terjadi kerusakan jaringan, kemudian diikuti aktivitas yang menurun dan akhirnya terjadi kematian (Alfanisti, 2009).
Daphnia sp. sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan pada suhu 22 – 31 oC dan pH 6,5 – 7,4 yang mana organisme ini perkembangan larva menjadi dewasa dalam waktu empat hari. Pada lingkungan dengan suhu tinggi akan meningkatkan metabolisme dalam tubuh sehingga laju respirasi meningkat dan berdampak pada peningkatan denyut jantung Daphnia sp. (Djarijah, 1995 dalam Nurdiani, 2009).
 Untuk itu diadakanlah praktikum ini melihat perubahan denyut jantung pada Daphnia sp.
B.  Tujuan dan Manfaat
Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah untuk mengetahui pengaruh temperatur terhadap frekuensi denyut jantung Daphnia sp.
Manfaat dari pratikum ini adalah sebagai bahanmasukanuntuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan mengenai mengetahui pengaruh temperatur terhadap frekuensi denyut jantung Daphnia sp.












II.TINJAUAN PUSTAKA
A.  Klasifikasi
Daphnia sp. termasuk ke dalam filum Arthropoda yang hidup secara umum di perairan tawar. Dari lima puluh spesies genus ini di seluruh dunia, hanya enam spesies yang secara normal dapat ditemukan di daerah tropika. Salah satunya adalah spesies Daphnia sp. (Delbaere dan Dhert, 2000).
Menurut Delbaere dan Dhert (2000) klasifikasi Daphnia sp. adalah sebagai berik1ut:
Phylum : Arthropoda
             Class : Branchiopoda
                Order: Cladocera
                          Family : Daphnidae
                                      Genus : Daphnia
                                           Species : Daphnia sp.

                                 Gambar 5 : Daphnia sp.

B.  Morfologi
Daphnia sp. termasuk filum Arthropoda atau hewan beruas-ruas. Mempunyai tubuh yang bersegmen yang terbungkus dalam suatu eksoskeleton (rangka luar) bersegmen yang kuat terdiri atas kitin, suatu polimer dari N-Asetiglukoamin (NAG). Daphnia termasuk subfilum mandibulata yang memiliki mandibula yaitu sepasang bagian mulut yang digunakan untuk makan dan mempunyai antenna. Daphnia sp. termasuk dalam kelas Crustaceae berupa plankton yang memiliki ciri-ciri kaliserata, kepala dan thoraks yang melebur menjadi cephalothoraks. Daphnia sp. bernapas dengan insang (Anonim, 2012).
C.  Habitat dan Penyebaran
Hewan ini hidup di air tawar dan mudah ditemukan dikolam. Tubuhnya transparan dan tidak berwarna, apabila air sebagai tempat hidupnya teraerasi dengan baik. Daphnia sp. selalu ditemukan ditempat hidupnya dengan posisi kepala diatas (Afanisti, 2009).
Daphnia sp. dapat hidup dalam air yang kandungan oksigen terlarutnya sangat bervariasi yaitu dari hampir nol sampai lewat jenuh. Ketahanan Daphnia sp. pada perairan yang miskin oksigen mungkin disebabkan  oleh kemampuannya dalam mensintesis haemoglobin. Dalam kenyataannya, laju pembentukan haemoglobin berhubungan dengan kandungan oksigen lingkungannya. Naiknya kandungan hemoglobin dalam darah Daphnia sp. dapat juga diakibatkan oleh naiknyatemperatur, atau tingginya kepadatan populasi. Untuk dapat hidup dengan baik Daphnia sp. memerlukan oksigen terlarut yang cukup besar yaitu di atas 3,5 ppm (Mokoginta, 2003).
D.  Reproduksi dan Daur Hidup
Pada habitat aslinya, Daphnia sp. berkembang biak secara parthenogenesis. Perbandingan jenis kelamin atau “sex ratio” pada Daphnidaemenunjukkan keragaman dan tergantung pada kondisi lingkungannya. Pada lingkungan yang baik, hanya terbentuk individu betina tanpa individu jantan. Pada kondisi ini, telur dierami di dalam kantong pengeraman hingga menetas dan anak Daphnia sp. dikeluarkan pada waktu pergantian kulit. Didalam kondisi yang mulai memburuk, disamping individu betina dihasilkan individu jantan yang dapat mendominasi populasi dengan perbandingan 1 : 27. Dengan munculnya individu jantan, populasi yang bereproduksi secara seksual akan membentuk efipia atau “resting egg” disebut juga siste yang akan menetas jika kondisi perairan baik kembali (Aluss, 2009).
E.  Tingkah Laku
Daphnia sp. merupakan filter feeder yang berarti mendapat pakan melalui cara menyaring organisme yang lebih kecil atau bersel tunggal seperti algae dan jenis protozoa lainnya. Selain itu membutuhkan vitamin dan mineral dari air. Mineral yang harus ada dalam air adalah kalsium. Unsur ini sangat dibutuhkan untuk pembentukan cangkangnya. Oleh karena itu, dalam wadah pembiakan akan lebih baik jika ditambahkan potongan batu kapur, batu apung dan sejenisnya. Selain meningkatkan pH, bahan tersebut dapat mensuplai kalsium untuk Daphnia sp. (Alfanisti, 2009).
Daphnia sp. memakan berbagai macam bakteri, ragi, alga bersel tunggal, dan detritus. Bakteri dan fungi menduduki urutan teratas dari nilai nutrisi baginya. Sedangkan makanan utama bagi Daphnia adalah alga dan protozoa. Gerakan yang kompleks dari kaki-kaki toraks menghasilkan arus air yang konstan. Gerakan kaki-kaki tersebut berperan penting dalam proses pengambilan makanan. Pasangan kaki ketiga dan ke empat dipakai untuk menyaring makanan, sedang kaki pertama dan kedua digunakan untuk menimbulkan arus air sehingga partikel-partikel tersuspensi bergerak ke arah mulut. Partikel-partikel makanan yang tertahan kemudian tersaring oleh setae,selanjutnya digerakan ke bagian mulut dan ditelan oleh Daphnia (Aluss, 2009).
F.  Pengaruh Temperatur Suhu Terhadap Aktivitas Organisme
Pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), pengaturan cairan tubuh, dan ekskresi adalah elemen-elemen dari homeostasis. Dalam termoregulasi dikenal adanya hewan berdarah dingin (cold-blood animals) dan hewan berdarah panas (warm-blood animals). Namun, ahli-ahli Biologi lebih suka menggunakan istilah ektoterm dan endoterm yang berhubungan dengan sumber panas utama tubuh hewan. Ektoterm adalah hewan yang panas tubuhnya berasal dari lingkungan (menyerap panas lingkungan). Suhu tubuh hewan ektoterm cenderung berfluktuasi, tergantung pada suhu lingkungan. Hewan dalam kelompok ini adalah anggota invertebrata, ikan, amphibia, dan reptilia. Sedangkan endoterm adalah hewan yang panas tubuhnya berasal dari hasil metabolisme. Suhu tubuh hewan ini lebih konstan. Endoterm umum dijumpai pada kelompok burung (Aves), dan mamalia (Anonim, 2009).
Termoregulasi manusia berpusat pada hypothalamus anterior terdapat tiga komponen pengatur atau penyusun sistem pengaturan panas, yaitu termoreseptor, hypothalamus, dan saraf eferen serta termoregulasi (Swenson, 1997). Pengaruh suhu pada lingkungan, hewan dibagi menjadi dua golongan, yaitu poikiloterm dan homoiterm. Poikiloterm suhu tubuhnya dipengaruhi oleh lingkungan. Suhu tubuh bagian dalam lebih tinggi dibandingkan dengan suhu tubuh luar. Hewan seperti ini juga disebut hewan berdarah dingin. Dan hewan homoiterm sering disebut hewan berdarah panas (Duke’s, 1985).
Pada hewan homoiterm suhunya lebih stabil, hal ini dikarenakan adanya reseptor dalam otaknya sehingga dapat mengatur suhu tubuh. Hewan homoiterm dapat melakukan aktifitas pada suhu lingkungan yang berbeda akibat dari kemampuan mengatur suhu tubuh. Hewan homoiterm mempunyai variasi temperatur normal yang dipengaruhi oleh faktor umur, faktor kelamin, faktor lingkungan, faktor panjang waktu siang dan malam, faktor makanan yang dikonsumsi dan faktor jenuh pencernaan air (Swenson, 1997).
Hewan berdarah panas adalah hewan yang dapat menjaga suhu tubuhnya, pada suhu-suhu tertentu yang konstan biasanya lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya. Sebagian panas hilang melalui proses radiasi, berkeringat yang menyejukkan badan. Melalui evaporasi berfungsi menjaga suhu tubuh agar tetap konstan. Suhu tubuh tergantung pada neraca keseimbangan antara panas yang diproduksi atau diabsorbsi dengan panas yang hilang. Panas yang hilang dapat berlangsung secara radiasi, konveksi, konduksi dan evaporasi. Radiasi adalah transfer energi secara elektromagnetik, tidak memerlukan medium untuk merambat dengan kecepatan cahaya. Konduksi merupakan transfer panas secara langsung antara dua materi padat yang berhubungan langsung tanpa ada transfer panas molekul. Panas menjalar dari yang suhunya tinggi kebagian yang memiliki suhu yang lebih rendah. Konveksi adalah suatu perambatan panas melalui aliran cairan atau gas. Besarnya konveksi tergantung pada luas kontak dan perbedaan suhu. Evaporasi merupakan konveksi dari zat cair menjadi uap air, besarnya laju konveksi kehilangan panas karena evaporasi (Feylana, 2008).














III.METODE PRAKTIKUM
A.  Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jum,at, tanggal 27 Mei 2014, pukul 07.00 WITA sampai selesai dan bertempat di Laboratorium Produksi Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Haluoleo Kendari.

B.  Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum pengaruh temperatur terhadap aktivitas organisme dapat dilihat pada Tabel 8 berikut :
Tabel 8.  Alat dan Bahan beserta Kegunaannya
No.
Alat dan Bahan                   
Satuan
Kegunaaan
I.
Alat



-  Mikroskop

Untuk melihat organisme mikro

-  Pipet tetes

Untuk mengambil objek yang diamati

-  Wadah/toples
3 buah
Untuk menyimpan bahan.   

-   Kertas label                              

Untuk menandai masing-masing perlakuan

-  Stopwatch
Detik
Untuk menghitung waktu          

-  Termometer
oC
Untuk mengukur suhu
2.
Bahan



-Air tawar
5 ltr
Sebagai objek yang diamati

- Es batu

Untuk menurunkan suhu

-   Air panas                     

Untuk menaikan suhu

-Daphnia sp.
3 ekor
Sebagai objek yang diamati.



C. Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja pada praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.        Menyiapkan media pemeliharaan kultur Daphnia pada suhu awal 10, 20, 30 .
2.        Daphnia sp. diletakan di dalam gelas arloji yang berada pada suhu yang telah ditentukan (diatas es batu atau air dengan suhu yng dikehendaki).
3.        Dengan pipet pindahkanlah secara hati-hati beberapa ekor Daphnia sp.pada toples yang sudah disiapkan.
4.        Setelah tampak denyut jantungnya hitunglah jumlah denyut setiap 15 detik dengan menggunakan stopwatch
5.        Kemudian diamati denyut jantungnya di mikroskop.
6.        Hitung frekuensi denyut jantung Daphnia sp. pada suhu yang baru.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.  Hasil Pengamatan
Hasil pengamatan pada praktikum pengamatan detak jantung Daphniasp. ini dapat dilihat pada Tabel 9 berikut :
Tabel 9.  Hasil pengamatan detak jantung Daphniasp.
Organisme
t (detik)
Denyut Jntung
10°C

20°C
30°C
Daphnia sp
15






Keterangan :
            : 45 denyut jantung
            : 39 denyut jantung
      : 49 denyut jantung

Grafik frekuensi denyut jantung Daphnia sp. dapat dilihat pada gambar 2 berikut.
Gambar 7. Grafik Frekuensi Denyut Jantung Daphnia sp.


B.  Pembahasan
Pada praktikum ini mengenai pengaruh temperatur terhadap aktivitas organisme. Kami mengambil Daphnia sp. sebagai objek yang kami amati. Menurut Alfanisti. (2009) Daphnia sp. adalah salah satu spesies krustacea yang tubuhnya transparent dan tidak berwarna.
Berdasarkan hasil pengamatan pada Suhu 10ºC  melalui mikroskop terlihat bahwa detakan jantung Daphnia sp. yaitu sebesar 45 detakan, dan pada suhu 20ºC detakan jantung daphnia mengalami penurunan yaitu sebesar39 dan detakan pada suhu 30ºC detakan jantung daphnia spmengalami peningkatan kembali yaitu sebesar49 detakan. Banyak hewan yang suhu tubuhnya disesuaikan dengan kondisi suhu lingkungannya yang disebut dalam kelompok hewan poikiletermik. Poikiletermik adalah perubahan suhu yang tidak labil dan sesuai dengan perubahan suhu lingkungannya dan berdampak pada peningkatan denyut jantung Daphnia sp. Hal ini sesuai dengan pernyataan Alfanisti (2009), yang menyatakan bahwa peningkatakan denyut jantung daphnia sp bergantung pada suhu lingkunnya. Pada suhu sekitar 10 oC di bawah atau di atas suhu normal, suatu jasad hidup dapat mengakibatkan penurunan atau kenaikan aktivitas jasad hidup tersebut menjadi kurang lebih dua kali pada suhu normalnya.

V. PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulkan dari hasil pembahasan adalah sebagai berikut :
1.      Pengaruh temperatur terhadap aktifitas organisme adalah lengkapnya keadaan, ketiadaan atau kegagalan suatu organisme dapat dikendalikan oleh kekurangan maupun kelebihan baik secar kualitatif maupun secara kuantitatif dari salah satu dari beberapa faktor yang mungkin mendekati batas-batas toleransi organisme tersebut.
2.      Pengukuran denyut jantung Daphnia sp. selama 15 detik pada temperatur yang berbeda, pada 10oC denyut jantungnya yaitu sebanyak45 kali detakan, pada suhu 20 oC detakan jantung daphnia mengalami peningkatan yaitu 39 dan detakan pada suhu 30 oC  detakan jantung daphnia mengalami peningkatan yaitu 49 detakan.
3.      Lingkungan dengan suhu tinggi akan meningkatkan metabolisme dalam tubuh sehingga laju respirasi meningkat dan berdampak pada peningkatan denyut jantung Daphnia sp
B. Saran
Saran yang dapat saya sampaikan pada praktikum kali ini, sebaiknya untuk praktikum, respon organisme terhadap perubahan suhu selanjutnya organisme yang menjdi bahan uji lebih dari dua organisme sehingga mampu membedakan detak jantung organime yang satu dengan yang oraganisme yang satunya.