LAPORAN LENGKAPPRAKTIKUM
FISIOLOGI HEWAN AIR
OLEH
:
LA
ODE HENDRI
I1A7
13 009
FAKULTAS
PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS
HALU OLEO
KENDARI
2014
I. PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Fisiologi
dapat didefenisikan sebagai ilmu yang mempelajari fungsi mekanisme, dan cara
kerja dari organ, jaringan, dan sel-sel organisme. Fisiologi mencoba
menerangkan faktor-faktor fisika dan kimia yang mempengaruhi seluruh proses
kehidupan. Organisme hewan air memiliki beberapa mekanisme fisiologis yang
tidak dimiliki oleh hewan darat. Fisiologi ikan dapat didefenisikan sebagai ilmu
yang mempelajari fungsi kegiatan kehidupan zat hidup (organ, jaringan, atau
sel) dan fenomena fisika dan kimia yang mempengaruhi seluruh proses kehidupan
ikan (Fujaya, 2004).
Difusi merupakan proses perpindahan atau pergerakan
molekul zat atau gas dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Difusi
melalui membran dapat berlangsung melalui tiga mekanisme, yaitu difusi
sederhana (simple difusion),d ifusi
melalui saluran yang terbentuk oleh protein transmembran (simple difusion by chanel formed), dan difusi difasilitasi (fasiliated difusion) (Sri, 2010)
Osmosis adalah proses
perpindahan pelarut dari larutan yang memiliki konsentrasi rendah atau pelarut
murni melalui membran semipermeabel menuju larutan yang memiliki konsentrasi
lebih tinggi hingga tercapai kesetimbangan laju pelarut. Pada proses osmosis, molekul-molekul pelarut
bermigrasi dari larutan encer ke larutan yang lebih pekat hingga dicapai
keadaan kesetimbangan laju perpindahan pelarut di antara kedua
medium itu. Osmosis
adalah perpindahan air melalui membran permeabel selektif dari bagian yang
lebih encer ke bagian yang lebih pekat. Osmosis
merupakan suatu fenomena alami, tapi dapat dihambat secara buatan dengan
meningkatkan tekanan pada bagian dengan konsentrasi pekat menjadi melebihi
bagian dengan konsentrasi yang lebih encer (Yusnaini, 2013)
Cacing
laut merupakan cacing yang hidup di laut, di dalam liang pasir dan hanya
menyembulkan kepala di atas permukaan pasir atau berenang di dalam laut.
Tubuhnya jelas mempunyai capuz dan alat-alat tambahan, terbagi menjadi banyak
segmen. Segmen pertama disebut peristonium dan pada tiap nagian lateral
terdapat 2 pasang tentakel. Termasuk dalam kelas polychaeta yang berarti
berambut banyak. Pada bagian anterior terdapat kepala yang dilengkapi dengan
mata, tentakel serta mulut berahang. Tubuh berwarna menarik yaitu merah
kecoklatan (suwignyo dkk. 2015).
Berdasarkan
uraian diatas maka penting untuk dilakukan pratikum mengenai difusi dan osmosis
pada hewan air khususnya cacing laut (Nereis sp).
Tujuan dari praktikum ini untuk mengamati proses secara
fisik proses difusi dan osmosis dan pengaruhnya terhadap organisme percobaan. Sedangkan kegunaannya adalahdiharapkan mahasiswa mampu mengetahui proses
difusi dan osmosis.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Klasifikasi
Secara taksonomi menurut Suwignyo, dkk (2005), Nereis sp. dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Annelida
Class : Polychaeta
Order : Nercidea
Family : Nercidae
Genus
: Nereis
Species : Nereis sp
Gambar 1. Morfologi cacing laut
(Nereis sp) (Suwignyo, dkk. 2005)
B.
Morfologi dan Anatomi
Clam worm (Nereis sp.) hidup didalam
sedimen, tubuhnya terdiri dari segmen-segmen dan setiap segmennya terdapat
sepasang parapodia, yang selain berfungsi sebagai alat gerak juga berfungsi
sebagai alat pernafasan bantuan (Vandevelde, 2005).
Cacing
laut merupakan cacing yang hidup di laut, di dalam liang pasir dan hanya
menyembulkan kepala di atas permukaan pasir atau berenang di dalam laut.
Tubuhnya jelas mempunyai capuz dan alat-alat tambahan, terbagi menjadi banyak
segmen. Segmen pertama disebut peristonium dan pada tiap nagian lateral
terdapat 2 pasang tentakel. Termasuk dalam kelas polychaeta yang berarti
berambut banyak. Pada bagian anterior terdapat kepala yang dilengkapi dengan
mata, tentakel serta mulut berahang. Tubuh berwarna menarik yaitu merah
kecoklatan (suwignyo dkk. 2005).
Cacing
jenis ini mempunyai lapisan otot memanjang maupun otot melingkar. Ususnya
hampir lurus merentang dari depan ke belakang. Terdapat sistem pembuluh darah,
di bagian anterior terdapat ganglion otak yang terletak di sebelah atas saluran
pencernaan. Fertislisasi bersifat internal membentuk larva. Bergerak dengan
menggunakan parapodia. Sudah memiliki coelom yang sebenarnya, yang sudah di
batasi oleh epithelium mesodermal. Masing-masing ruas terdapat sepasang
parapodia. Tubuh memiliki banyak rambut pada parapodia. Bersifat karnifora.
Dapat dibedakan jantan dan betina(suwignyo dkk. 2005).
C. Reproduksi dan Daur Hidup
Reproduksi pada Cacing
laut (Nereis sp.), terjadi baik secara aseksul maupun seksual.
Reproduksi seksual terjadi dengan cara pertunasan dan pembelahan, namun
kebanyakan hanya melakukan reproduksi secara seksual saja dan
biasanya pada dioecious. Pada dasarnya hampir semua menghasilkan gamit,
namun pada beberapa jenis hanya beberapa ruas saja. Pada beberapa jenis
cacing dengan gamit yang telah matang akan berenang menjadi cacing pelagis,
setelah tubuhnya koyok-koyok dan gamit berhamburan di air laut maka cacing
tersebut mati, pembuahan terjadi di air laut (Suwignyo dkk., 2005)
Reproduksi
terjadi baik secara seksual maupun seksual. Reproduksi
seksual terjadi dengan cara pertunasan (budding) dan pembelahan. Kebanyakan
polychaeta melakukan reproduksi seksual saja, dan biasanya dioecious. Pada
dasarnya hampir semua ruas menghasilkan gamit, namun pada beberapa jenis hanya
pada ruas-ruas tertentu saja. Biasanya gamit dikeluarkan ke dalam rongga tubuh
hingga mencapai kematangan. Pada spesies dengan dinding tubuh yang tipis atau
agak transparan, telur dalam ruas tubuh bisa tampak jelas. Beberapa jenis
cacing mempunyai gonaduct, tempat keluarnya gamit dari tubuh induknya, tetapi
pada kebanyakan spesies gamet dikeluarkan dari tubuh melalui metanephiridia atau dengan cara dehiscence,
sobekan dinding. Secara relatif, polychaeta mempunyai kemampuan yang besar
untuk melakukan regenersi. Tentakel, palp atau bagian tubuh yang kecil lainnya,
apabila putus atau rusak akan segera tumbuh yang baru. Beberapa jenis cacing
bahkan dapat melakukan autotomi, yaitu melepaskan sebagian tubuhnya apabila
diganggu, bagian yang hilang kemudian akan tumbuh kembali (Anonimous, 2004).
D.Tingkah
Laku
Cacing
Laut ( Nereis sp.) bersifat omnivora
dengan ruang lingkup pakan yang luas terdiri dari jaringan tanaman, menggunakan gigi yang tajam untuk menangkap
hewan hidup atau memotong alga. Sedangkan
yang merupakan hewan predator dari hewan adalah kepiting dan ikan.Tingkah laku
dari cacing Nereis sp.untuk bertahan hidup yaitu meliputi :
hewan-hewan alga dan detritus. Cacing laut ini memegang mangsa dengan sepasang
taring yang tajam dimana taringnya tersebut dapat menjulur keluar. Selanjutnya
sebagian besar pencernaan dan absorbsi terjadi pada organ pencernaan yang
sangat banyak percabangannya dan tersebar pada seluruh bagian dalam tubuh,
dimana hasil pencernaan diedarkan lewat intraselular (menjadi sari-sari
makanan) ke seluruh jaringan tubuh dan dengan cara transport aktif dan difusi
secara pasif (Fox, 2001).
Tingkah
laku Cacing laut (Nereis sp.) bermacam-macam sesuai dengan kebiasaan
hidupnya, karnivora, omnivora, herbivora dan adapula yang memakan
detritus. Pemakan endapan secra langsung maupun tidak langsung,
secara langsung dengan menelan pasir dan lumpur dalam lorongnya
(sarangnya). Mangsa terdiri dari berbagai avertebrata kecil, yang
ditangkap dengan pharynx atau probosis yang dijulurkan (Aslan dkk. 2007).
E. Difusi dan Osmosis
Difusi adalah peristiwa di mana terjadi transfer materi
melalui materi lain. Transfer materi ini berlangsung karena atomatau partikel
selalu bergerak oleh agitasi thermal. Walaupun sesungguhnya gerak tersebut
merupakan gerak acak tanpa arah tertentu, namun secara keseluruhan ada arah
neto dimana entropi akan meningkat. Difusi merupakan proses irreversible. Pada
fasa gas dan cair, peristiwa difusi mudah terjadi pada fase padat difusi juga
terjadi walaupun memerlukan waktu lebih lama. Sedangkan menurut Ni’mah (2007),
difusi dapat terjadi karena gerakan acak kontinu yang menjadi ciri khas semua
molekul yang tidak terikat dalam suatu zat padat. Tiap molekul bergerak secara
lurus sampai ia bertabrakan dengan molekul lainnya. Pada setiap tabrakan
molekul terpental danmelaju ke arah lain. Inilah yang menyebabkan gerakan acak
dari molekul tersebut. Kecepatan difusi zat melalui membran sel tidak hanya
tergantung pada gradien konsentrasi, tetapi juga pada besar, muatan, dan daya
larut dalam lipid dari partikel-partikel tersebut (Sri, 2010).
Osmosis adalah pergerakan air dari membrane semi permeable.
Osmosis terjadi ketika dua larutan mempunyai perbedaan konsentrasi total
larutan dan osmolaliti. Larutan yang diketahui osmolalitinya meerupakan
isotonic. Osmosis tidak terjadi pada larutan isotonic, tetapi ketika osmolalit
pada larutan yang berbeda, salah satu diantaranya harus mempunyai konsentrasi
yang lebih tinggi (hypertonic), sementara yang lainnya disebut hypotonic. Air
mengalir melalui membran dari larutan hypotonic ke larutan hypertonic. Hewan
yang mampu memelihara keseimbangan antara cairan tubuh dengan keadaan
lingkungan sekitar merupakan osmoconfermer,
mereka adalah isotonic, sedangkan keadaan lingkungan sekitarnya adalah encer.
Hewan yang tidak isotonic dengan keadaan lingkungan sekitar disebut osmoregulator
(Yusnaini, 2013).
Kebanyakan invertebrata yang
berhabitat di laut tidak secara aktif mengatur sistem osmosis mereka, dan
dikenal sebagai osmoconformer. Osmoconformer memiliki osmolaritas internal yang
sama dengan lingkungannya sehingga tidak ada tendensi untuk memperoleh atau
kehilangan air. Karena kebanyakan osmoconformer hidup di lingkungan yang
memiliki komposisi kimia yang sangat stabil (di laut), maka
osmoconformer memiliki osmolaritas yang cenderung konstan. Osmoregulator
adalah organisme yang menjadiosmolalitasnya tanpa tergantung lingkungan
sekitar. Oleh karena itu kemampuan meregulasi ini maka osmoregulator dapat
hidup di lingkungan air tawar, daratan, serta lautan. Di lingkungan dengan
konsentrasi cairan yang rendah, osmoregulator akan melepaskan cairan berlebihan
dan sebaliknya (Anonim, 2012).
III. METODE PRAKTIKUM
A.
Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 13 Mei
2014, pada pukul 07.00 WITA sampai selesai.Tempat dilaksanakannya praktikum ini
yaitu di Laboratorium Produksi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas
Halu Oleo.
B.
Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum difusi dan
osmosis dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.
Tabel 1. Alat dan bahan yang
digunakan pada praktikum difusi dan
osmosis beserta kegunaannya.
|
No
|
Al at dan bahan
|
satuan
|
Kegunaan
|
|
1.
-
-
-
-
-
-
2
-
-
-
-
-
-
|
Alat
Toples
Botol minyak goso
Hand Refraktometer
Stopwatch
Timbangan digital
Alat tulis menulis
Bahan
Air laut
Air tawar
Tinta warna biru
Tissu
Garam
Cacing laut (Nereis sp)
|
2 buah
2 buah
Ppt
Detik
Gram
5 liter
5 liter
1 gulung
Gram
1 ekor
|
Tempat media dan hewan yang akan
di amati.
Tempat media untuk mrnyimpan
tinta.
Mengukur salinitas.
Menghitung waktu.
Menimbang sampel.
Mencatat hasil pengamatan
Media yang digunakan.
Media yang digunakan
Media yang diamati
Membersihkan alat dan tempat
praktikum
Sebagai larutan salinitas
Organisme yang diamati
|
C.
Prosedur Kerja
a.
Pengamatan Secara Fisika
Prosedur kerja yang dilakuan pada pengamatan secara fisika
pada Nereis sp. yaitu sebagai berikut :
1. Menyiapkan medium air tawar (0 ppt)
dan air laut dengan salinitas yang ekstrim (40
ppt), dimasukkan dalam ke dua wadah/toples.
2.
Menimbang
barat masing-masing botol minyak goso yang masih kosong.
3.
Masukan
dua tetes tinta biru kedalam botol minyal goso
4.
Memasukkan air tawar dan air laut yang
telah diberi tinta kedalam dua botol minyak goso, isi air kedua botol minyak
goso sampai penuh.
5.
Kemudian dikocok kedua botol minyak
goso sampai tinta dengan air merata
6.
Mamasukkan ke dua botol minyak goso
kedalam setiap wadah/media yang berbeda salinitasnya. Hitung waktu yang
dibutuhkan sampai warna air dalam botol sampel sama dengan warna airmedia,
dengan stop wach.
7.
Mengamati arah pergerakan air dari
dalam botol minyak goso.
8.
Mengangkat botol sampel setelah warna airnya sama dengan air
media, timbang botol sampel bersama
isinya, sebagai Wakhir.
9.
Menghitung selisih berat botol sampel
b.
Pengamatan Secara Biologi
Prosedur kerja yang dilakuan pada pengamatan secara biologi
pada Nereis sp. yaitu sebagai berikut :
1.
Menyiapkan
medium air tawar (0 ppt) dan air laut dengan salinitas yang ekstrim (40 ppt),
dimasukkan dalam toples yang berbeda.
2.
Mengambil
bahan cacing sebanyak 1 ekor, laludi cuci dan di lap dengan tisssu.
3.
Menimbang
berat cacing tersebut sampel dengan menggunakan timbangan digital, sebagai
berat awal (W0).
4.
Memasukkan
1 ekor cacing pada setiap wadah yang berbeda salinitasnya.
5.
Mengangkat
sampel dan ditimbang setiap 5 menit sampai 3 kali penimbangan (15 menit), sebagai berrat 1, berat
ke 2, dan berat ke 3 (W1, W2,
W3).
6.
Menghitung
selisih berat setiap sampel dan setiap waktu.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil Pengamatan
1.
Pengujian
Uji Fisik
Hasil pengamatan
pada uji fisik praktikum difusi dan osmosis ini dapat
dilihat pada Tabel2
berikut.
Tabel 2. Pengamatan uji
fisik
|
Pengamatan
|
Wawal
|
Wakhir
|
∆W
|
Waktu (menit)
|
|
Botol air tawar
|
48.54
|
67.63
|
19.09
|
16.30
|
|
Botol air asin
|
48.54
|
68.06
|
19.52
|
08.30
|
2. Pengamatan Uji Biologi
Tabel 3.
Hasil pengamatan secara biologi (Nereis sp.) Pada
salinitas yang berbeda.
|
No
|
Medium
|
Jenis
Organisme
|
Wₒ
|
W1
|
W2
|
W3
|
∆W
|
Kondisi
|
|
1.
|
Air tawar
|
Cacing laut
|
0.57
|
0.67
|
0.69
|
0.77
|
0.2
|
Osmosis
|
|
2.
|
Air laut
|
Cacing laut
|
0.57
|
0.57
|
0.57
|
0.57
|
0
|
Stabil
|
B. Pembahasan
Difusi adalah
proses pergerakan acak
partikel-pertikel gas, cairan dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi yang lebih
rendah. Osmosis adalah proses perpindahan pelarut dari larutan yang memiliki
konsentrasi rendah atau pelarut murni melalui membran semipermeabel menuju
larutan yang memiliki konsentrasi lebih tinggi hingga tercapai kesetimbangan
laju pelarut.
Berdasarkan hasil pengamatan yang di lakukan secara fisik
pertama yang dilakukan adalah menimbang botol minyak goso dimana menimbang
botol sebelum diisi air dan sesudah berisi air. Pada botol kosong berat pertama
yaitu 48.54 gram, dan berat botol ke dua yaitu 48.54 gram, artinya berat
timbangan botol pertama dan botol ke dua sama berat. Selanjutnya ke dua botol
tersebut diisi dengan air yang berbeda salinitasnya, untuk botol pertama diisi
dengan air tawar (0 ppt) dan ditetesi dengan tinta berwarna biru sebanyak 2
tetes,kemudian botol tersebut di masukkan ke dalam toples yang berisi air laut,
sedangkan botol kedua diisi air laut dengan salinitas 40 ppt dan ditesesi
dengan tinta yang sama, kemudian botol tersebut dimasukkan ke dalam toples yang
berisi air tawar. Dan di masukan secara bersamaan.
Setelah kedua botol tersebut diamati arah pergerakan airnya
dan ditimbang kembali maka diperoleh berat botol yang berisi air laut yaitu 67.63
gram dan untuk berat botol yang berisi air tawar yaitu 68.06 gram, artinya
botol yang berisi air laut lebih berat dibanding botol yang berisi air tawar,
hal ini disebabkan karena massa jenis air laut lebih besar dari pada massa
jenis air tawar. Pada medium air tawar yang diisi dengan botol air laut lebih
cepat mengeluarkan tinta dimana terjadi proses osmosis. sedangkan botol yang
berisi air tawar yang dimasukkan dalam medium air laut akan terjadi proses
difusi dimana tinta dalam botol lebih lambat dikeluarkan bahkan tidak terjadi
perubahan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Yusnaini (2013), bahwa proses
difusi merupakan gerakan partikel dari tempat dengan potensial kimia lebih
tinggi ke tempat potensial yang lebih rendah sampai terjadi keseimbangan
dinamis. Sedangkan osmosis adalah pergerkan air melalui membrane selektif
permeable.
Pada pengamatan yang dilakukan
secara biologi diperoleh berat cacing awal 0.57 kemudian ke dua cacing tersebut
di masukan kedalam toples atau wadah yang berisi air tawar dan air laut setelah
dimasukan kedalam air tawar cacing tersebut bertambah berat yaitu 0.67
sedangkan cacing yang yang dimasukan kedalam air laut beratnya tidak betambah
yaitu 0.57,dengan waktu 5 menit. Pada menit ke 10 berat untuk cacing pada
medium air laut masih tetap yaitu 0.57, dan berat cacing pada medium air tawar bertambah yaitu 0.69 gram. Pada menit ke 15
berat cacing pada medium air laut masih tetap yaitu 0.57 dan cacing pada air tawar
bertambah yaitu 0.77. Hal ini sesui dengan pernyataanYusnaini(2013), yamng
mengatakan bahwa cacing laut yang dimasukan kedalam medium air tawar tesebut
akan berusaha menyeimbangkan kondisi tubuhunya dengan keadaan lingkungannya
dengancara banyak meminum air. sedangkan
cacing laut yang di masukan kedalam air laut beratanya tetap karena cacing
tersebut sudah terbiasa dengan keadaan tersebut.
V.PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari pembahasan diatas
adalah sebagai berikut :
1.
Botol berisi air laut yang
dimasukkan dalam medium air tawar lebih cepat mengeluarkan tinta dari pada
botol air tawar yang dimasukkan dalam medium air laut.(proses osmosis)
2.
Pada pengamatan yang dilakukan
secara biologi diperoleh berat cacing awal dengan waktu 5 menit maka diperoleh
berat untuk cacing pada medium air laut yaitu 0.57 gram, dan berat cacing pada
medium air tawar yaitu 0.67 gram. Pada menit ke 15 berat untuk cacing pada
medium air laut yaitu 0.57 gram, dan berat cacing pada medium air tawar yaitu 0.77
gram. Karena cacing laut yang di masukan pada wadah air tawar dapat
menyesuaikan dirinya dengan cara meminum air
B.
Saran
Adapun saran saya dalam praktikum ini yaitu sebelum
meninggalkan laboratorium praktikan terlebih dahulu membersihkan laboratorium.
I.PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Fisiologi ikan mencakup proses osmoregulasi, sistem
sirkulasi, sistem respirasi, bioenergetik dan metabolisme, pencernaan,
organ-organ sensor, sistem saraf, sistem endokrin dan reproduksi. Fisiologi dapat di definisikan sebagai ilmu yang
mempelajari fungsi, mekanisme dan cara kerja dari organ, jaringan dan sel-sel
organisme. Fisiologi mencoba menerangkan faktor-faktor fisika dan kimia yang
mempengaruhi seluruh proses kehidupan. Fisiologi ikan mencakup penginderaan, komunikasi antara sel/organ, osmoregulasi peredaran darah, pernafasan,
pencernaan, pertumbuhan dan reproduksi (
Fujaya, 2004).
Salah satu faktor kimia yang mendukung yaitu
tinggi rendahnya salinitasdisuatu
perairan baik itu air tawar, payau maupun perairan laut akan mempengaruhi keberadaan
organisme yang ada di perairantersebut. Hal ini sangat terkait erat dengan pengaturan terhadap tekanan osmotik
cairan tubuh yang relatif konstanadalah hal yang dibutuhkan ikan agar proses
fisiologi di dalam tubuhnya berjalan normal.Pengaturan tersebut
disebut dengan osmoregulasi(Purwakusuma, 2010).
Osmoregulasi adalah pengaturan
tekanan osmotik cairan tubuh yang layak bagi kehidupan ikan sehingga
proses-proses fisiologis berjalan normal. Ikan
mempunyai tekanan osmotik yang berbeda dengan lingkungannya. Keanekaragaman
salinitas dalam air laut akan mempengaruhi jasad-jasad hidup akuatik melalui
pengendalian berat jenis dan keragaman tekanan osmotik. Pada umumnya kandungan
garam dalam sel-sel biota laut cenderung mendekati kandungan garam dalam
kebanyakan air laut. Jika sel-sel itu berada di lingkungan dengan salinitas
lain maka suatu mekanisme osmoregulasi diperlukan untuk menjaga keseimbangan
kepekatan antara sel dan lingkungannya. Pada kebanyakan binatang estuarin
penurunan salinitas permulaan biasanya dibarengi dengan penurunan salinitas
dalam sel, suatu mekanisme osmoregulasi baru terjadi setelah ada penurunan salinitas
yang nyata (Mukayat, et al., 2000).
Oleh karena
itu, penting untuk melakukan praktikum mengenai proses osmoregulasi pada organisme
air benur ikan mas dan Udang Windu (Panaeus monodon) sehingga kita
dapat mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi jika salinitasnya berbeda
apakah organisme tersebut eurihaline atau stenohaline.
B. Tujuan dan
Manfaat
Tujuan dilakukannya praktikum ini
adalah untuk mengamati pengaruh salinitas yang
berbeda terhadap proses osmoregulasi pada organisme air (benih ikan mas dan
benur udang).
Manfaat dari pratikum ini adalah
sebagai bahanmasukanuntuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan mengenai proses osmoregulasi benih ikan mas dan
benur udang pada salinitas yang berbeda.
II.
TINJAUAN PUSTAKA
A. Klasifikasi
Ikan mas(C.
carpio) adalah merupakan salah satu jenis ikan yang termasuk dalam famili
Cyprinidae Ikan ini juga biasa disebut dengan nama ikan karper ataupun ikan
tombro. Pada awalnya, ikan ini diketahui berasal dari Cina dan Eropa (Anonim,
2009).
Menurut Bachtiar dkk, (2002), klasifikasi
ikan Mas (C. carpio) adalah sebagai
berikut:
Kingdom : Chordata
Phylum
: Vertebrata
Order :
Cypniformes
Family :
Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Species : C.carpio
Gambar 2. Ikan Mas (C.carpio) (Perikanan, 2001)
Menurut
Romimohtarto dan Juwana (2005). Klasifikasi Udang Windu (P. monodon) adalah sebagai
berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum :
Crustacea
Class :
Astracoda.
Order :
Decapoda
Family :
Penaeidae
Genus : Penaeus
Species : P. monodon
Gambar 3. Udang Windu (P. monodon) (Bismacenter,
2003)
B. Morfologi Dan Anatomi
Menurut Bachtiar dkk
(2002), dilihat dari morfologi atau bentuk tubuhnya ikan mas memiliki ciri-ciri
sebagai berikut bentuk badan memanjang dan sedikit pipih ke samping, mulut
terletak di ujung tengah (terminal) dan dapat disembulkan (protektil) serta
dihiasi dua pasang sungut. Selain itu di dalam mulut terdapat gigi
kerongkongan, dua pasang sungut ikan mas terletak di bibir bagian atas tetapi
kadang-kadang satu pasang sungut rudimentee atau tidak berfungsi, gigi
kerongkongan (pharyngeal teeth) terdiri atas tiga baris yang berbentuk
geraham, memiliki sirip punggung (dorsal) berbentuk memanjang dan terletak di
bagian permukaan tubuh, berseberangan dengan permukaan sirip perut (ventral)
bagian belakang sirip punggung memiliki jari-jari keras sedangkan bagian akhir
berbentuk gerigi, sirip dubur (anal) bagian belakang juga memiliki jari-jari
keras dengan bagian akhir bebrbentuk gerigi seperti halnya sirip punggung,
sirip ekor berbentuk cagak dan berukuran cukup besar dengan tipe sisik
berbentuk lingkaran (cycloid) yang terletak beraturan, gurat sisik atau
garis rusuk (linea lateralis) ikan mas berada di pertengahan badan dengan
posisi melintang dari tutup insang sampai keujung belakang pangkal ekor. Bila diamati,
mata ras ikan mas ini berbentuk agak menonjol. Perbandingan antara panjang dan
tinggi tubuh berkisar antara 3,5 : 1
(Rochdianto, 2002).
Udang
windu adalah sebagian
besar hidup di laut dan bernafas dengan insang. Tubuhnya terbagi dalam kepala (cephalin),
dada (thorax) dan abdomen. Kepala dan dada bergabung membentuk
kepala-dada (cephalothorax). Kepalanya biasanya terdiri atas lima ruas
yang tergabung menjadi satu. Mereka mempunyai dua pasang antena, sepasang
mandibel (mandible) atau rahang dan dua pasang maksila (maxila).
Dada mempunyai embelan dada yang bentuknya berbeda-beda. Beberapa diantaranya
digunakan untuk berjalan. Ruas abdomen biasanya sempit dan lebih muda bergerak
dari pada kepala dan dada. Ruas-ruas tersebut mempunyai embelan yang ukuranya
sering mengecil (Romimohtarto dan Juwana, 2001).Udang
mempunyai 2 pasang antena, 1 pasang mandibulata dan 2 pasang maksila, tubuhnya
tertutup karapaks, dan ekor dengan telson. Udang
juga mempunyai beberapa apendages, tubuh dapat dibedakan atas kepala,
dada, dan perut. Respirasi udang
menggunakan insang, eskresi dengan kelenjar antenal dan atau mandibular
(Suhardi, 2007).
C.
Habitat Dan Penyebaran
Ikan Mas (C.carpio) hidup dan berkembangbiak pada daerah dengan ketinggian 50
sampai 600 meter di atas permukaan laut. Kualitas air yang baik untuk
memeliharanya adalah suhu air 20 sampai 30oC, pH 7 – 8 dan kandungan
oksigen terlarut lebih besar dari 5 ppt serta terhindar dari pengaruh pencemaran, baik
pencemaran pada bahan organik maupun anorganik. Di dalam sungai, danau dan
rawa. Ikan mas berpijah sepanjang tahun tanpa mengenal musim, namun demikian
pemijahan ini biasanya terjadi pada awal musim penghujan. Perairan yang
ditumbuhi tanaman air atau rerumputan merupakan habitat yang disukai ikan mas
untuk berpijah, karena tanaman air merupakan tempat untuk penempelan telur ikan
mas (Hardirini, 2000).
Ikan Mas (C.carpio)
yang berkembang di Indonesia diduga
awalnya berasal dari Tiongkok Selatan. Disebutkan, budi daya ikan Mas diketahui
sudah berkembang di daerah Galuh (Ciamis) Jawa Barat pada pertengahan abad
ke-19. Masyarakat setempat disebutkan sudah menggunakan kakaban - subtrat untuk
pelekatan telur ikan Mas yang terbuat dari ijuk – pada tahun 1860, sehingga
budi daya ikan Mas di kolam di Galuh disimpulkan sudah berkembang
berpuluh-puluh tahun sebelumnya. Sedangkan penyebaran ikan Mas (C.carpio) di daerah Jawa lainnya, dikemukakan terjadi pada permulaan
abad ke-20, terutama sesudah terbentuk Jawatan Perikanan Darat dari “Kementrian
Pertanian” (Kemakmuran) saat itu (Ardiwinata, 2004).
Udang windu
adalah binatang yang hidup di perairan, khususnya sungai maupun laut atau danau.
Udang windu dapat ditemukan di hampir semua genangan air yang berukuran besar
baik air tawar, air payau, maupun air asin pada kedalaman bervariasi, dari
dekat permukaan hingga beberapa ribu meter di bawah permukaan. Anonim
D. Reproduksi
dan Daur Hidup
Siklus hidup ikan mas (C.carpio) dimulai dari perkembangan di dalam gonad (ovarium pada ikan
betina yang menghasilkan telur dan testis pada ikan jantan yang menghasilkan
sperma). Sebenarnya pemijahan ikan mas dapat terjadi sepanjang tahun dan tidak
tergantung pada musim. Namun, di habitat aslinya, ikan mas memijah pada awal
musim hujan, karena adanya rangsangan dari aroma tanah kering yang tergenang
air. Secara alami, pemijahan terjadi pada tengah malam sampai akhir fajar.
Menjelang memijah, induk-induk ikan mas (C.carpio)
aktif mencari tempat yang rimbun,
seperti tanaman air atau rerumputan yang menutupi permukaan air. Substrat
inilah yang nantinya akan digunakan sebagai tempat menempel telur sekaligus
membantu perangsangan ketika terjadi pemijahan (Lestari, 2012).
Sifat telur ikan mas adalah menempel
pada substrat. Telur ikan mas berbentuk bulat, berwarna bening, berdiameter
1,5-1,8 mm, dan berbobot 0,17-0,20 mg. Ukuran telur bervariasi, tergantung dari
umur dan ukuran atau bobot induk. Embrio akan tumbuh di dalam telur yang telah
dibuahi oleh spermatozoa.
Antara 2-3 hari kemudian, telur-telur akan menetas dan
tumbuh menjadi larva. Larva ikan mas mempunyai kantong kuning telur yang
berukuran relatif besar sebagai cadangan makanan bagi larva. Kantong kuning
telur tersebut akan habis dalam waktu 2-4 hari. Larva ikan mas bersifat
menempel dan bergerak vertikal. Ukuran larva antara 0,50,6 mm dan bobotnya
antara 18-20 mg. Larva berubah menjadi kebul (larva stadia akhir) dalam waktu
4-5 hari. Pada stadia kebul ini, ikan mas memerlukan pasokan makanan dari luar
untuk menunjang kehidupannya. Pakan alami kebul terutama berasal dari
zooplankton, seperti rotifera, moina, dan daphnia. Setelah 2-3 minggu, kebul tumbuh menjadi burayak yang
berukuran 1-3 cm dan bobotnya 0,1-0,5 gram. Antara 2-3 minggu kemudian burayak
tumbuh menjadi putihan (benih yang siap untuk didederkan) yang berukuran 3-5 cm
dan bobotnya 0,5-2,5 gram. Putihan tersebut akan tumbuh terus. Setelah tiga
bulan berubah menjadi gelondongan yang bobot per ekornya sekitar 100 gram
(Lestari, 2012).
Kebanyakan
udang windu memiliki alat reproduksi yang terpisah (dioceous) atau terdapat individu
jantan dan betina, namun pada udang windu tingkat rendah ada
yang bersifat hermaphrodit. Alat kelamin betina terdapat pada pasangan kaki
ketiga dan alat kelamin jantan terdapat pada pasangan kaki kelima. Namun pada
spesies tertentu ada yang belum dapat diketahui perkembangbiakan dan
perkelaminannya. Udang windu bereproduksi
dengan mengadakan kopulasi (pembuahan). Pada proses kopulasi tersebut individu
jantan biasanya memiliki apendiks yang dapat berfungsi untuk memegang betina.
Individu jantan akan meletakan massa spermatoforik di bagian sternum udang
betina. Peletakan massa spermatoforik tersebut berlangsung sebelum telur
dikeluarkan. Pembuahan terjadi saat telur yang dikeluarkan dari celah genital
ditarik ke arah abdomen oleh pasangan kaki kelima betina. Pada waktu telur
tertarik ke abdomen, sperma keluar dari massa spermatoforik yang tersobek
sehingga terjadi pembuahan. Anonim
E.
Tingkah Laku
Ikan mas (C. carpio)
termasuk ikan yang memiliki kebiasaan makan diberbagai bagian perairan, di
permukaan air, di tengah perairan, dan juga di dasar perairan. Namun ikan mas (C.carpio) lebih cenderung pemakan dasar (bottom feeder) dengan mengaduk-ngaduk dasar perairan. Tak heran
bila setelah selesai masa pemeliharaan, pematang kolam menjadi rusak, sehingga
apabila akan digunakan, pematang kolam harus diperbaiki terlebih dahulu (Arie,
2008).
Sekalipun ikan mas (C.carpio)
menyukai makanan alami berupa
plankton namun kebiasaan ini berubah secara berangsur-angsur dengan
perkembangan dan pertumbuhannya. Ikan mas (C.carpio) dikenal sebagai hewan air pemakan segala (omnivora). Ikan
mas (C.carpio) dewasa relative sangat rakus menelan
semua jenis makanan alami ataupun pakan buatan (Budi,2002).
G. Osmoregulasi
Osmoregulasi
adalah upaya mengontrol keseimbangan air dan ion-ion antara tubuh dan
lingkungannya atau suatu proses pengaturan tekanan osmose. Hal ini penting
dilakukukan terutama oleh organisme perairan karena harus terjadi
keseimbangan antara substansi tubuh dan lingkungan, membran sel yang
permeabel merupakan tempat lewatnya beberapa subtansi yang bergerak cepat dan perbedaan
tekanan osmose antara cairan tubuh dan lingkungan (Fujaya, 2004).
Osmoregulasi ini berfungsi untuk
mengatur tekanan osmoses dan keseimbangan konsentrasi cairan dalam tubuh serta
mengaturkeseimbangan ion antara cairan dalam tubuhnya dengan
medium/lingkungannya. Organisme perairan laut apabila dimasukan ke daerah yang
bersalinitas rendah dapat mengalami kehilangan ion melalui permukaan tubuh dan urin, kandungan ion
seluler akan terganggu
dan sel-sel tubuhnya akan menyerap air secara osmosis dari darah. Bila ketiga
hal ini berlangsung secara intensif dan kontinyu, akan mengakibatkan pecahnya
sel-sel tubuh (turgor) dan dehidrasi atau kekurangan air yang akhirnya akan
menyebabkan kematian organisme (Yusnaini, dkk,
2012).
Salinitas atau kadar garam adalah
jumlah kandungan bahan padat dalam satu kilogram airlaut, seluruh karbonat
telah diubah menjadi oksida, brom dan yodium telah disetarakan dengan klor dan
bahan organik telah dioksidasi. Secara langsung, salinitas media akan
mempengaruhi tekanan osmotik cairan tubuh ikan. Apabila osmotik lingkungan
(salinitas) berbeda jauh dengan tekanan osmotik cairan tubuh (kondisi tidak
ideal) maka osmotikmedia akan menjadi beban bagi ikan sehingga dibutuhkan
energi yang relatif besar untuk mempertahankan osmotik tubuhnya agar tetap
berada pada keadaan yang ideal (Sharaf, et
al., 2004dalam Sinaga, 2011).
Hewan jika dilihat dari kemampuan dalam menyesuaikan diri
dengan salinitas lingkungan eksternalnya dibagi menjadi dua yaitu osmoregulator
dan osmoconformer. Hewan osmoconformer adalah hewan yang kadar garam lingkungan
internalnya menyesuaikan dengan
keadaan lingkungan luar sekelilingnya. Sedangkan hewan osmoregulator adalah hewan
yang kadar garam lingkungan internalnya cenderung tidak berubah, walaupun kadar
garam lingkungan eksternalnya berubah (Sinaga, 2001).
III.METODE
PRAKTIKUM
A. Waktu dan
Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari
selasa tanggal 20 Mei 2014, pukul
07.00 WITA sampai selesai dan bertempat di Laboratorium
produksi Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas HaluOleo
Kendari.
B. Alat dan
Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum proses
osmoregulasi dapat
dilihat pada Tabel 4 sebagai berikut :
Tabel 4. Alat dan Bahan beserta Kegunaannya
|
No
|
Al at
dan bahan
|
Satuan
|
Kegunaan
|
|
1.
-
-
-
-
2
-
-
-
-
-
|
Alat
Toples
Hand Refraktometer
Stopwatch
Alat tulis menulis
Bahan
Air laut
Air tawar
Benih ikan mas
Benur udang windu
Tissu
Garam
|
3 buah
Ppt
Detik
5 liter
5 liter
10 ekor
10 ekor
1 gulung
Gram
|
Tempat media dan hewan yang akan
di amati.
Mengukur salinitas.
Menghitung waktu.
Mencatat hasil pengamatan
Media yang digunakan.
Media yang digunakan
Media yang diamati
Media yang diamati
Membersihkan alat dan tempat
praktikum
Sebagai larutan salinitas
|
C.
Prosedur Kerja
Prosedur kerja pada praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Menyiapkan 3 Buah Wadah
(toples) yang bersih
air dan beri label masing-masing salinitas : 0, 20, dan 40 ppt.
2. Masing-masing wadah
diisi dengan air dengan salinitas sesuai dengan konsentrasi label pada wadah.
3. Mengukur
salinitas air/media asal organisme yang dijadikan hewan percobaan.
4. Memasukan
secara perlahan 3ekor hewan uji ke dalam
tiap wadah dan diamati tingkah lakunya.
5. Melakukan
pengamatan selanjutnya setiap 15 menit dan mencatat tingkah lakunya tiap 5 menit
6. Mencatat hasil
pengamatan dalam tabel pengamatan osmoregulasi.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil pengamatan
Hasil pengamatan pada praktikum osmoregulasi ini dapat
dilihat pada Tabel 5 berikut :
Tabel 5. Hasil pengamatan pengaruh salinitas
padabenur udang windu (P.monodon) dan benih ikan mas (C. carpio)
|
Jenis organisme
|
t (menit)
|
Kondisi/Tingkah Laku
|
||||
|
0 ppt
|
|
20 ppt
|
40 ppt
|
|||
|
Benur udang windu
|
5-15
|
|
|
|
|
|
|
Ikan mas
|
5-15
|
|
|
|
|
|
Keterangan
:
: Normal
: Melambat/menyebabkan kematian
: Mati
B. Pembahasan
Pengamatan yang dilakukan pada praktikum ini yaitu mengenai
osmoregulasi. Osmoregulasi
adalah proses dimana suatu organisme air dapat menyeimbangkan tekanan yang ada
di dalamtubuhnya dengan medium lingkungannya.Hal ini sesuai dengan
pernyatan Sartjen (2012), bahwa Osmoregulasi terjadi pada hewan perairan, karena adanya
perbedaan tekanan osmosis antara larutan di dalam tubuh dan di luar tubuh.
Sehingga osmoregulsi merupakan upaya hewan air untuk mengontrol kesimbangan air
dan ion-ion yang terdapat di dalam tubuhnya dengan lingkungan melalui sel
permeable . pengaturan osmosis ini sangat mempengaruhi metabolisme tubuh hewan
perairan dalam menghasilkan energy. Regulasi ion dan air pada hewan akuatikn
dapat terjadi secara hypertonic, hypotonic atau isotonic.
Untuk organisme yang diuji dalam praktikum ini yaitu benur
udang windu (P. monodon) dan benih
ikan mas (C .carpio) dalam medium yang sama, tetapi
dengan konsentrasi yang berbeda-beda yaitu 0, 20, dan 40 ppt dengan waktu yang
digunakan selama 15 menit.
Pada pengamatan benur udang windu (P. monodon) dan benih ikan mas (C.
carpio) dengan
menggunakan toples yang berisi air dengan salinitas yang berbeda yaitu 0, 20,
dan 40 ppt. Pada pengamatan benur udang
windu (P. monodon), 5 menit pergerakannya masih terlihat normal,
pada salinitas 0, 20, dan 40 ppt. Pada 10 menit pergerakan benur udang windu (P. monodon) pada konsentrasi salinitas 0
dan 20, pergerakan udang windu masih stabil diakibatkan karena udang windu
merupakan hewan eurihalin yang mampu bertahan hidup dalam salinitas rendah
maupun tinggi, sama halnya dalam konsentrasi salinitas 40 ppt pergerakannya masih stabil. Pada 15
menit pergerakan benur udang windu (P.
monodon) pada konsentrasi salinitas 0 dan 20, pergerakannya masih stabil,
karena udang windu hidup pada perairan payau dan dapat mentolerin salintas yang
tinggi dan rendah, dan untuk konsentrasi salinitas 40 ppt pergerakannya tetap stabil.
Hal ini sesuai
dengan pendapat Sinaga. (2001), yang menyatakan bahwa udang merupakan organisme
eurihaline yang mampu bertahan hidup dalam salinitas tinggi maupun rendah.
Eurihalin adalah sifat suatu organime yang mampu bertahan dalam lingkungan berkkadar
garam atau bersalinitas tinggi.
Sedangkan pada benih
ikan mas (C. carpio), terlihat bahwa pada 5
menit pergerakan benih ikan mas (C. carpio) masih dalam keadaan
normal dan sangat aktif bergerak begitupun dengan konsentrasi salinitas 0, 20
dan 40 ppt. Pada 10 menit pergerkan benih ikan mas (C.
carpio), pada
salinitas 0 dan 20 ppt pergerkannya masih stabil diakibatkan karena ikan mas (C.
carpio) hidup
pada perairan tawar, sedangkan untuk salinitas 40 ppt pergerakannya sudah mulai
melambat karena tidak mampu untuk mentolerin salinitas tersebut. Pada 15
menit pergerakan benih ikan mas (C. carpio), pada salinitas 0 dan 20 ppt
pergerkannya tetap stabil diakibatkan karena
ikan mas (C. carpio) hidup pada perairan tawar,
sedangkan untuk salinitas 40 ppt benih ikan mas sudah mati. Hal sesuai dengan
pendapat Yusnaini, dkk. 2012 yang menyatakan bahwa Ikan mas mempunyai
toleransi salinitas yang sedikit atau yang biasa di sebut stenohalin artinya
ikan ikan ini tidak mampu hidup pada salinitas yang tinggi.
Fungsi tubuh organisme perairan dapat
berjalan secara normal bila konsentrasi cairan dalam sel-sel tubuhnya sesuai
dengan konsentrasi medium lingkungannya.. Fungsi osmoregulasi pada organisme
perairan adalah untuk mengatur tekanan osmose, untuk mengatur keseimbangan
konsentrasi cairan dalam tubuh dan mengatur keseimbangan ion antara cairan
dalam tubuh dengan lingkungannya.
V. PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil pengamatan yang telah
dilakukan pada proses osmoregulasi maka dapat di kesimpulan bahwa :
1. Osmoregulasi adalah proses pengaturan
keseimbangan antara ion-ion didalam sel tubuh dengan keadaan lingkungannya.
2. Benur udang merupakan hewan eurihaline karena benur udang
windu mampu bertahan dalam salinitas tinggi mapupun rendah.
3. benih ikan mas merukan hewan stenohaine karena benih ikan
mas tidak mampu hidup dalam salinitas tinggi
B.Saran
Saran yang dapat saya sampaikan pada
praktikum kali ini, sebaiknya untuk praktikum, proses osmoregulasi selanjutnya
organisme yang menjdi bahan uji lebih dari dua organisme sehingga mampu
membedakan terutama proses osmorgulasi
pada masing – masing organisme tersebut.
I.
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Fisiologi
dapat didefenisikan sebagai ilmu yang mempelajari fungsi mekanisme, dan cara
kerja dari organ, jaringan, dan sel-sel organisme. Fisiologi mencoba
menerangkan faktor-faktor fisika dan kimia yang mempengaruhi seluruh proses
kehidupan. Ikan sebagai hewan air memiliki beberapa mekanisme fisiologis yang
tidak dimiliki oleh hewan darat. Fisiologi ikan dapat didefenisikan sebagai
ilmu yang mempelajari fungsi kegiatan kehidupan zat hidup (organ, jaringan,
atau sel) dan fenomena fisika dan kimia yang mempengaruhi seluruh proses
kehidupan ikan (Fujaya, 2004).
Oksigen
merupakan salah satu variabel lingkungan yang sangat dibutuhkan oleh organisme
akuatik. Oksigen yang terlarut di dalam perairan masuk ke dalam tubuh organisme
melalui proses pernapasan (respirasi). Kandungan oksigen terlarut di perairan
sangat menentukan keberhasilan proses pernapasan. Hewan air membutuhkan oksigen dengan jumlah yang berbeda-beda
tergantung pada jenis, ukuran, kondisi fisiologis dan variabel lingkungan
seperti suhu, kadar oksigen terlarut, kadar CO2, salinitas, dan lain-lain.
Dengan adanya batas minimal oksigen terlarut yang dapat ditolelir oleh hewan
akuatik dan adanya variasi kebutuhan oksigen pada berbagai hewan akuatik maka
perlu dikaji tentang batas minimal kadar oksigen terlarut dan tingkat konsumsi
oksigen untuk hewan akuatik (Darma, 2011).
Oksigen
dibutuhkan oleh organisme untuk membantu proses metabolisme yang terjadi di
dalam tubuh. Oksigen yang masuk tersebut melalui proses respirasi insang dengan
cara difusi pada permukaan tubuh (khusus untuk krustasea yang berukuran kecel).
Kapasitas oksigen yang dibawa oleh darah berisi Hc (krustasea) dan Hb (ikan)
dipengaruhi oleh laju metabolismenya. Laju metabolisme organisme dipengaruhi
oleh faktor biotik seperti aktifitas, ukuran/berat, umur, seks/jenis kelamin
dan moulting sedangkan faktor abiotik seperti temperatur, salinitas, oksigen,
karbondioksida, pasang surut, siklus pergerakan air dan musim (Yusnaini dkk, 2012).
Oksigen
terlarut adalah oksigen dalam bentuk terlarut di dalam air karena ikan tidak
dapat mengambil oksigen dalam perairan dari difusi langsung dengan udara.
Satuan pengukuran oksigen terlarut adalah mg/l yang berarti jumlah mg/l gas
oksigen yang terlarut dalam air atau dalam satuan internasional dinyatakan ppm
(part per million). Air mengandung oksigen dalam jumlah yang tertentu,
tergantung dari kondisi air itu sendiri (Adnan, 2010).
Mengingat
betapa pentingnya untuk mengetahui hal-hal tersebut diatas, maka praktikum
mengenai konsumsi oksigen pada ikan perlu dilakukan.
B. Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari praktikum ini adalah
untuk mengetahui konsumsi oksigen yang dibutuhkan oleh organisme air dalam
membantu proses metabolisme yang tejadi didalam tubuh dan untuk mengetahui
konsumsi oksigen berdasarkan ukuran (berat).
Manfaat dari praktikum ini
adalah sebagai bahan masukan bagi
mahasiswa dan untuk menambah ilmu pengetahuan serta wawasan mengenai konsumsi
oksigen yang dibutuhkan oleh organisme.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Klasifikasi
Menurut (Moyle dan
Chech, 2000), klasifikasi dan morfologi ikan Mas (C.carpio) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Chordata
Phylum
: Vertebrata
Order :
Cypniformes
Family :
Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Species : Cyprinuscarpio
Gambar 4. Ikan Mas (C.carpio)
B. Morfologi dan Anatomi
IkanC.carpiomasmemiliki
bentuk tubuh yang pipih ke arah vertikal (kompress) dengan profil empat persegi
panjang ke arah antero posterior. Posisi mulut terletak di ujung hidung
(terminal) dan dapat disembulkan. Pada sirip ekor tampak jelas garis-garis
vertikal dan pada sirip punggungnya garis tersebut kelihatan condong letaknya.
Ciri khas ikan mas adalah garis-garis vertikal berwarna hitam pada sirip ekor,
punggung dan dubur. Pada bagian sirip caudal (ekor) dengan bentuk membulat
terdapat warna kemerahan dan bisa digunakan sebagai indikasi kematangan gonad.
Pada rahang terdapat bercak kehitaman. Sisik ikan mas adalah type ctenoid. Ikan
mas juga ditandai dengan jari-jari dorsal yang keras, beitu pula pada bagian
analnya. Dengan posisi sirip anal sibelakang sirip dada (abdominal) (Musida,
2007).
Ikan mas C.carpiomemilki lima buah sirip, yakni
sirip punggung (dorsal fin), sirip dada (pectoral fin), sirip perut (ventral
fin), sirip anus (anal fin) dan sirip ekor (caudal fin). Sirip punggunya
memanjang dari bagian atas tutup ingsang hingga bagian atas sirip ekor,
terdapat juga sepasang sirip dada dan sirip perut yang berukuran kecil. Sirip
anusnya hanya satu buah dan berbentuk agak panjang, sedangkan sirip ekornya
berbentuk bulat dan hanya berjumlah satu buah (Malyno, 2012).
C. Habitat dan
Penyebaran
Menurut
Suyanto, (2004) dalam Anonim, (2011)
ikan nila dapat hidup di perairan yang dalam dan luas maupun di kolam yang
sempit dan dangkal. Mas juga dapat hidup di sungai yang tidak terlalu deras
alirannya, di waduk, rawa, sawah, tambak air payau, atau di dalam jaring
terapung dilaut.
Ikan mas
merupakan genus ikan yang dapat hidup dalam kondisi lingkungan yang ekstrim,
sering kali ditemukan hidup normal pada habitat-habitat yang ikan dari jenis
lain tidak dapat hidup. Ikan Mas (C.carpio) memiliki
toleransi yang tinggi terhadap lingkungan hidupnya, sehingga dapat dipelihara
di dataran rendah yang berair payau hingga di daratan tinggi yang berair rawa.
Habitat hidup ikan ini cukup beragam, bisa disungai, danau, waduk, rawa, sawah,
kolam ataupun tambak. Ikan ini dapat tumbuh secara normal pada kisaran suhu
14-38 oC akan tetapi pada suhu 6 atau 42 oC ikan ini akan
mengalami kematian. Selain suhu, faktor lain yang bisa mempengaruhi kehidupan
ikan ini adalah salinitas atau kadar garam. Ikan mas (C.carpio) bisa
tumbuh dan berkembang biak diperairan dengan salinitas 0-29 ppt, ikan ini masih bisa tumbuh, tetapi tidak
dapat bereproduksi di perairan dengan salinitas 29-35 ppt. Ikan yang masih
kecil biasanya lebih cepat menyesuaikan diri terhadap kenaikan salinitas
dibandingkan dengan Ikan Mas yang berukuran besar (Ahmad, 2010).
D. Reproduksi dan
Daur Hidup
Reproduksi alami spesies ikan mas (C.carpio) terjadi dalam salah satu dari dua cara. Spesies O.aureus, O.mossambicus dan O.niloticus
disebut mouth-brooders (telur dalam mulut). Betina mengeram dan menetaskan
telur-telur dalam mulutnya setelah mereka diletakkan dan dibuahi oleh ikan mas
jantan mereka. Kemudahan menghasilkan telur dan larva membuat mereka
menghasilkan keturunan yang banyak dan tentu menguntungkan untuk di
budidayakan. Namun, sifat ini juga menimbulkan masalah. Tingkat kelangsungan
hidup dan tumbuh ikan kecil sangat tinggi menjadikan kolam ramai dan sesak.
Ikan menjadi terhambat pertumbuhannya karena pasokan makanan alami organisme di
kolam habis. Hampir 75% atau lebih dari populasi berat ikan mas mungkin kurang
dari 100 gram. Hal ini mungkin tidak ada masalah serius di Timur, di mana
bahkan ikan-ikan kecil dimakan. Namun, jika ikan yang lebih besar dari 150 gram
lebih disukai oleh pasar, teknik budidaya khusus mungkin diperlukan untuk
pertumbuhan ikan. Teknologi ini berbeda, membutuhkan tingkat keahlian dan
manajemen dan menghasilkan berbagai tingkat keberhasilan besar dalam
memproduksi ikan mas. Beberapa dapat dikombinasikan untuk efisiensi dalam
penggunaan sumberdaya (Bayu, 2011).
Induk Mengeram Telur dalam Mulutnya (mouth brooders) dengan suhu optimum 23-28 derajat Celcius.
Bertelur 3 kali atau lebih per tahun dengan jumlah 1.500-4.300 telur yang
dihasilkan per tahun. Telur menetas dalam 3 sampai 5 hari dan betina penjaga
anak-anaknya selama 8-10 hari setelah menetas. Anak ikan mas memakan
zooplankton dan setelah Ikan dewasa memakan zooplankton dan fitoplankton, dan
memakan rumput dan organisme. Juga makan makanan yang diproduksi (pellet)
(Aditya, 2011).
E. Tingkah Laku
Ikan masmemakan plankton, detritus,
organisme dasar (benthos) seperti cacing, larva, seranga air, kijing, siput,
dan lain-lain. Jenis plakton yang sering dimakan ikan masadalah jenis
fltoplakton yaitu protococcus. Waktu-waktu aktif ikan mas lebih banyak pada
waktu siang hari. Faktor yang menentukan apakah suatu jenis ikan akan memakan
suatu organisme makanan adalah ukuran makanan, ketersediaan makanan, warna
makanan dan selera ikan terhadap makanan (Tholifin, 2011).
Ikan mas
merupakan ikan yang bersifat omnivora (pemakan segala), tetapi cenderung
sebagai herbivora, karena ikan mas lebih suka memakan fitoplankton dan berbagai
jenis tumbuhan air, oleh karena itu ikan mas seringkali dimanfaatkan untuk
mengendalikan gulma air (Harry, 2012).
F.
Konsumsi Oksigen
Oksigen dibutuhkan oleh organisme untuk membantu proses
metabolisme yang terjadi didalam tubuh. Oksigen yang masuk tersebut melalui
proses respirasi insang dengan cara difusi pada permukaan tubuh (khusus untuk
krustecea yang berukuran kecil). Kapasitas oksigen yang dibawa oleh darah yang
berisi Hc (krustacea) dan Hb (ikan) dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti
tekanan oksigen dan suhu. Jumlah oksigen yang dibutuhkan organisme dipengaruhi
oleh laju metabolismenya. Laju metabolisme organisme dipengaruhi oleh faktor
abiotik dan faktor biotik. Faktor biotik seperti aktivitas (organisme aktif memiliki laju metabolisme tinggi
dibandingkan organisme yang lambat), ukuran
(organisme yang berukuran kecil mempunyai laju metabolisme yang lebih tinggi
dibandingkan ikan besar karena tempat rasio insangnya terhadap keseluruhan
tubuhnya lebih besar. Namun sebaliknya semakin besar suatu organisme maka
konsumsi oksigennya semakin besar pula karena semua anggota tubuhnya bergerak
memerlukan energy yang berasal dari oksigen dan makanan), umur(semakin tua
suatu organisme, semakin rendah laju metabolismenya, tetapi konsumsi oksigennya
lebih besar, karena ukurannya lebih besar), seks
(organisme jantan biasanya lebih aktif sehingga laju metabolismenya tinggi), moulting (khusus krustasea yang
mempunyai siklus moulting, pada fase intermoult dan ecdysis, konsumsi oksigen tinggi karena terjadi pertumbuhan aktif
maksimum sehingga metabolismenya tinggi. Sebaliknya pada pre moulting dan pos moulting,
konsumsi oksigennya rendah (Yusnaini, dkk.,
2012).
Bernafas artinya melaksanakan
pertukaran gas, yaitu: mengambil oksigen (O2) dan mengeluarkan karbondioksida
(CO2). Pertukaran gas O2 dengan CO2 dapat berlangsung melalui proses difusi.
Pada hewan berukuran kecil terdapat perbandingan antara luas permukaan dengan
volume tubuh yang cukup besar sehingga dapat melaksanakan pertukaran gas dan
cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Hal ini dapat dilakukan melalui cara difusi
melalui pertukaran tubuhnya. Tetapi pada hewan berukuran besar, terutama pada
hewan yang aktif, perbandingan antara luas dengan volume tubuh terlalu kecil
untuk melakukan hal yang serupa, karenanya diperlukan suatu permukaan tubuh
yang khusus untuk pernafasan, untuk menangkap O2 dan melepaska CO2 (Lisnawati,
2009).
Konsumsi oksigen sebanding dengan
produksi panas tubuh (kkal/hari). Konsumsi oksigen berbanding lurus dengan
berat dan bila dituliskan dalam rumus maka T= α.Wy dimana α dapat berbeda-beda
tergantung kondisi air (dingin, sejuk, panas) dan y = 0,8. Berat tubuh ikan
berpengaruh terhadap konsumsi oksigen, semakin ringan berat ikan maka nilai
KO2nya semakin besar (Yuwono, 2001).
Kebutuhan
konsumsi oksigen ikan mempunyai spesifitas yaitu kebutuhan lingkungan bagi
spesies tertentu dan kebutuhan konsumtif yang bergantung pada kebutuhan dan
keadaan metabolisme ikan. Perbedaan kebutuhan oksigen dalam suatu lingkungan
bagi ikan dari spesies tertentu disebabkan oleh adanya perbedaan struktural
molekul darah yang mempengaruhi hubungan antara tekanan parsial oksigen dalam
air dan derajat kejenuhan dalam sel darah. Ketersediaan oksigen bagi ikan
menentukan aktifitas ikan. Faktor yang mempengaruhi konsumsi oksigen pada ikan
antara lain (1). Aktifitas , ikan dengan aktifitas tinggi misalnya ikan yang
aktif berenang akan mengkonsumsi oksigen jauh lebih banyak dari pada ikan yang
tidak aktif. (2). Ukuran, Ikan dengan ukuran lebih kecil, kecepatan
metabolismenya lebih tinggi daripada ikan yang berukuran besar namun oksigen
yang dikonsumsi lebih sedikit. (3). Umur, ikanyang berumur masih muda akan
mengkonsumsi oksigen lebih banyak dari pada ikan yang lebih tua. (4).
Temperatur, ikan yang berada pada temperatur tinggi laju metabolismenya juga
tinggi sehingga konsumsi oksigen lebih banyak (Mirza, 2008).
III.
METODE PRAAKTIKUM
A.
Waktu dan Tempat
Praktikum ini
dilaksanakan pada hari Jum’at tanggal 27 Mei 2014,
pukul 07.00 WITA
sampai selesai. Bertempat di Laboratorium produksi Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan,
Universitas Halu Oleo, Kendari.
B.
Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang
digunakan dalam praktikum ini dapat dilihat pada Tabel 6berikut
ini.
Tabel 6.Alat dan Bahan beserta Kegunaannya
|
No.
|
Alat dan
Bahan
|
|
Kegunaan
|
|
1.
-
-
-
-
-
2
-
-
-
|
Alat
Toples/wadah
Kertas label
Alat tulis menulis
DO meter
Stopwatch
Bahan
BenihIkan mas
Tongkolan Ikan mas
Air tawar
|
-
3 buah
Mg/l
detik
2 ekor
2 ekor
5 ltr
|
Untuk menyimpan objek yang diamati
Untuk penandaan besarnya salinitas pada tiap-tiap toples/wadah
Untuk mencatat hasil pengamatan
Untuk mengukur suhu
Untuk menghitung waktu
Objek yang di amati
Objek yang di amati
Media larutan uji
|
C.
Prosedur Kerja
Prosedur kerja yang dilakukan pada praktikum ini
adalah sebagai berikut :
1. Mengisi toples dengan media (air tawar)sesuai dengan organismenya.
2. Mengukur temperatur air dengan menggunakan termometer dan kemudian mengukur
oksigen yang terlarut dalam air dengan menggunakan DO meter.
3. Menutup toples dengan rapat agar tidak ada lagi oksigen yang dapat
berdifusi ke dalam air.
4. Menimbang Benih ikan mas dan Tongkolan ikan mas dan mencatat beratnya sebagai DO awal.
5. Memasukan ikan secara perlahan-lahan kedalam toples.Usahakan jangan sampai
timbul gelembung udara dalam toples,kemudian tutup rapat dan beri isolasi
disekeliling tutup toples.
6.
Menginkubasi selama 24
jam.
7. Nenimbang ikan mas sebagai DO akhir
8. Mencatat hasil pengamatan.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
Hasil pengamatan pada praktikum konsumsi
oksigen ini dapat dilihat pada Tabel 7 berikut :
Tabel 7.
Laju Metabolisme IkanMas
|
Organisme
|
Berat (g)
|
DOawal(mg/l)
|
DOakhir(mg/l)
|
X (jumlah kebutuhan (oksigen)
(mg/l)
|
|
Benih Ikan Mas
|
0,65
0,87
|
5,74
|
4,51
|
1,23
|
|
Tongkolan
Ikan Mas
|
0,2,67
4,28
|
5,56
|
4,28
|
1,28
|
B. Pembahasan
Oksigen sangat dibutuhkan oleh organisme untuk proses
metabolisme. Laju metabolisme adalah tingkat kecepatan suatu organisme untuk
mengkonsumsi oksigen dalam setiap pergerakannya. Proses laju metabolisme pada
organisme perairan sangat penting artinya terutama dalam upaya mempertahankan
hidupnya dari kondisi lingkungan yang selalu berubah. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Yusnainidkk. (2013), bahwa
oksigen dibutuhkan oleh organisme untuk membantu proses metabolisme yang
terjadi di dalam tubuhnya, dimana oksigen yang masuk ke dalam tubuhnya melalui
proses respirasi insang dengan cara berdifusi pada permukaan tubuh.
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan diperoleh nilai
konsumsi oksigen Ikan Massebelum diinkubasi dan setelah
diinkubasi memiliki hasil yang berbeda. Hal ini dapat dilihat pada tabel 2,
bahwa DO awal air ikan kecil mencapai 5,74 mg/l, setelah diinkubasi selama 24
jam dengan keadaan air terisi dengan Ikan Mas, maka DO akhir berkurang mencapai 4,51
mg/l, setelah DO awal dkurangi dengan DO akhir maka total DOnya adalah 1,23 mg/l.
Hal ini menunjukan bahwa selama proses inkubasi oksigen yang dibutuhkan oleh Ikan Mas lebih
banyak, karena pada saat proses inkubasi ikan ditutup rapat sehingga tidak ada
udara yang masuk berdifusi dengan air. Sedangkan pengamatan pada ikan Mas yang berukuran besar, DOawalsebesar 5,56 mg/L dan setelah 24 jam yaitu sebesar atau DOakhir4,28 mg/L. Berarti ikan mas mengkonsumsi oksigen sebesar
biasa di sebut DOakhir 1,28 mg/L. Ini menunjukan bahwa
ikan mas berukuran besar lebih sedikit mengkonsumsi oksigen,ketimbang ikan mas
yang berukuran keci hal ini dikarenakan ikan yang berukuran besar memiliki laju
metabolisme yang rendah. ikan mas yang berukuran kecil banyak membutuhkan oksigen
untuk factor perkembangan. Hal ini sesuai dengan pendapat Yusnaini, dkk. (2012) bahwa semakin besar suatu
organisme maka konsumsi oksigen semakin besar pula karena semua anggota
tubuhnya bergerak memerlukan energi yang berasal dari oksigen dan makanan.
V. PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil pembahasan maka dapat
disimpulkan sebagai
berikut :
1.
Ikan
mas berukuran kecil laju metabolismenya tinggi sedangkan ikan mas berukuran
besar laju metabolismenya rendah.
2.
Ikan
mas berukuran besar mengkonsumsi oksigen lebih banyak dari pada ikan mas
berukuran kecil.
B. Saran
Adapun
saran saya dalam praktikum kali ini yaitu untuk Organime pengamatan yang akan
di praktekan di sediakan dari laboratorium, sehingga praktikun tidak lagi
sediakan bahan dan praktikum berjalan dengan lancar
I. PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Suhu merupakan salah satu pembatas
penyerapan hewan dan menentukan aktivitas hewan. Banyak hewan yang suhu
tubuhnya disesuaikan dengan suhu lingkungan yang disebut dalam kelompok hewan poikilitermik. Poikilotermik berarti suhu berubah (labil) sesuai dengan perubahan
suhu lingkungan. Jadi suhu tubuh hewan poikilotermik
mengikuti atau bergantung pada suhu lingkungan (Alfanisti, 2009).
Perubahan suhu memiliki pengaruh
terhadap berbagai proses fisiologi. Dalam batas-batas tertentu, peningkatan
suhu akan mempercepat banyak proses fisiologi. Misalnya pengaruh suhu terhadap
frekuensi denyut jantung. Rentangan toleransi suhu pada berbagai hewan
berbeda-beda, ada yang luas dan ada yang sempit. Selanjutnya toleransi suhu
dapat berubah karena waktu dan derajat adaptasi. Beberapa organisme lebih
sensitif terhadap suhu ekstrim selama periode tertentu dalam hidupnya. Suhu
mempengaruhi proses fisiologis organisme termasuk frekuensi denyut jantung.
Penaikan ataupun penurunan tersebut dapat mencapai dua kali aktivitas normal.
Perubahan aktivitas akibat pengaruh suhu. Aktivitas akan naik seiring dengan
naiknya suhu sampai pada titik dimana terjadi kerusakan jaringan, kemudian
diikuti aktivitas yang menurun dan akhirnya terjadi kematian (Alfanisti,
2009).
Daphnia sp. sangat dipengaruhi oleh kondisi
lingkungan pada suhu 22 – 31 oC dan pH 6,5 – 7,4 yang mana organisme
ini perkembangan larva menjadi dewasa dalam waktu empat hari. Pada lingkungan
dengan suhu tinggi akan meningkatkan metabolisme dalam tubuh sehingga laju
respirasi meningkat dan berdampak pada peningkatan denyut jantung Daphnia sp. (Djarijah, 1995 dalam Nurdiani, 2009).
Untuk itu diadakanlah
praktikum ini melihat perubahan denyut jantung pada Daphnia sp.
B. Tujuan dan Manfaat
Tujuan
dilakukannya praktikum ini adalah untuk mengetahui pengaruh temperatur terhadap frekuensi denyut jantung Daphnia sp.
Manfaat dari
pratikum ini adalah sebagai bahanmasukanuntuk menambah ilmu pengetahuan dan
wawasan mengenai mengetahui pengaruh temperatur
terhadap frekuensi denyut jantung Daphnia
sp.
II.TINJAUAN
PUSTAKA
A. Klasifikasi
Daphnia sp. termasuk ke dalam filum
Arthropoda yang hidup secara umum di perairan tawar. Dari lima puluh spesies
genus ini di seluruh dunia, hanya enam spesies yang secara normal dapat
ditemukan di daerah tropika. Salah satunya adalah spesies Daphnia sp. (Delbaere dan Dhert, 2000).
Menurut Delbaere dan Dhert (2000) klasifikasi Daphnia sp.
adalah sebagai berik1ut:
Phylum : Arthropoda
Class :
Branchiopoda
Order: Cladocera
Family : Daphnidae
Genus : Daphnia
Species : Daphnia sp.
Gambar 5 : Daphnia sp.
B.
Morfologi
Daphnia sp. termasuk
filum Arthropoda atau hewan beruas-ruas. Mempunyai tubuh yang bersegmen yang terbungkus dalam
suatu eksoskeleton (rangka luar) bersegmen yang kuat terdiri atas kitin, suatu
polimer dari N-Asetiglukoamin (NAG). Daphnia termasuk subfilum mandibulata yang
memiliki mandibula yaitu sepasang bagian mulut yang digunakan untuk makan dan
mempunyai antenna. Daphnia sp.
termasuk dalam kelas Crustaceae berupa plankton yang memiliki ciri-ciri
kaliserata, kepala dan thoraks yang melebur menjadi cephalothoraks. Daphnia sp. bernapas dengan insang
(Anonim, 2012).
C. Habitat dan Penyebaran
Hewan ini hidup di air tawar dan
mudah ditemukan dikolam. Tubuhnya transparan dan tidak berwarna, apabila air
sebagai tempat hidupnya teraerasi dengan baik. Daphnia sp. selalu ditemukan ditempat hidupnya dengan posisi
kepala diatas (Afanisti, 2009).
Daphnia sp. dapat hidup dalam air yang
kandungan oksigen terlarutnya sangat bervariasi yaitu dari hampir nol sampai
lewat jenuh. Ketahanan Daphnia sp. pada perairan yang miskin oksigen
mungkin disebabkan oleh kemampuannya dalam mensintesis haemoglobin. Dalam
kenyataannya, laju pembentukan haemoglobin berhubungan dengan kandungan oksigen
lingkungannya. Naiknya kandungan hemoglobin dalam darah Daphnia sp.
dapat juga diakibatkan oleh naiknyatemperatur, atau tingginya kepadatan
populasi. Untuk dapat hidup dengan baik Daphnia sp. memerlukan oksigen
terlarut yang cukup besar yaitu di atas 3,5 ppm (Mokoginta, 2003).
D. Reproduksi dan Daur Hidup
Pada habitat aslinya, Daphnia
sp. berkembang biak secara parthenogenesis. Perbandingan jenis kelamin atau “sex ratio” pada Daphnidaemenunjukkan keragaman dan tergantung pada kondisi
lingkungannya. Pada lingkungan yang baik, hanya terbentuk individu betina tanpa
individu jantan. Pada kondisi ini, telur dierami di dalam kantong pengeraman
hingga menetas dan anak Daphnia sp.
dikeluarkan pada waktu pergantian kulit. Didalam kondisi yang mulai memburuk,
disamping individu betina dihasilkan individu jantan yang dapat mendominasi
populasi dengan perbandingan 1 : 27. Dengan munculnya individu jantan, populasi
yang bereproduksi secara seksual akan membentuk efipia atau “resting egg” disebut juga siste yang
akan menetas jika kondisi perairan baik kembali (Aluss, 2009).
E. Tingkah Laku
Daphnia sp. merupakan filter feeder yang berarti mendapat pakan melalui cara menyaring
organisme yang lebih kecil atau bersel tunggal seperti algae dan jenis protozoa
lainnya. Selain itu membutuhkan vitamin dan mineral dari air. Mineral yang
harus ada dalam air adalah kalsium. Unsur ini sangat dibutuhkan untuk
pembentukan cangkangnya. Oleh karena itu, dalam wadah pembiakan akan lebih baik
jika ditambahkan potongan batu kapur, batu apung dan sejenisnya. Selain
meningkatkan pH, bahan tersebut dapat mensuplai kalsium untuk Daphnia sp. (Alfanisti,
2009).
Daphnia sp. memakan berbagai macam bakteri,
ragi, alga bersel tunggal, dan detritus. Bakteri dan fungi menduduki urutan
teratas dari nilai nutrisi baginya. Sedangkan makanan utama bagi Daphnia adalah
alga dan protozoa. Gerakan yang kompleks dari kaki-kaki toraks menghasilkan
arus air yang konstan. Gerakan kaki-kaki tersebut berperan penting dalam proses
pengambilan makanan. Pasangan kaki ketiga dan ke empat dipakai untuk menyaring
makanan, sedang kaki pertama dan kedua digunakan untuk menimbulkan arus air
sehingga partikel-partikel tersuspensi bergerak ke arah mulut.
Partikel-partikel makanan yang tertahan kemudian tersaring oleh
setae,selanjutnya digerakan ke bagian mulut dan ditelan oleh Daphnia (Aluss, 2009).
F.
Pengaruh Temperatur Suhu Terhadap Aktivitas Organisme
Pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), pengaturan cairan
tubuh, dan ekskresi adalah elemen-elemen dari homeostasis. Dalam termoregulasi
dikenal adanya hewan berdarah dingin (cold-blood
animals) dan hewan berdarah panas (warm-blood
animals). Namun, ahli-ahli Biologi lebih suka menggunakan istilah ektoterm
dan endoterm yang berhubungan dengan sumber panas utama tubuh hewan. Ektoterm
adalah hewan yang panas tubuhnya berasal dari lingkungan (menyerap panas lingkungan).
Suhu tubuh hewan ektoterm cenderung berfluktuasi, tergantung pada suhu
lingkungan. Hewan dalam kelompok ini adalah anggota invertebrata, ikan,
amphibia, dan reptilia. Sedangkan endoterm adalah hewan yang panas tubuhnya
berasal dari hasil metabolisme. Suhu tubuh hewan ini lebih konstan. Endoterm
umum dijumpai pada kelompok burung (Aves), dan mamalia (Anonim, 2009).
Termoregulasi manusia berpusat pada hypothalamus anterior
terdapat tiga komponen pengatur atau penyusun sistem pengaturan panas, yaitu
termoreseptor, hypothalamus, dan saraf eferen serta termoregulasi (Swenson,
1997). Pengaruh suhu pada lingkungan, hewan dibagi menjadi dua golongan, yaitu
poikiloterm dan homoiterm. Poikiloterm suhu tubuhnya dipengaruhi oleh
lingkungan. Suhu tubuh bagian dalam lebih tinggi dibandingkan dengan suhu tubuh
luar. Hewan seperti ini juga disebut hewan berdarah dingin. Dan hewan homoiterm
sering disebut hewan berdarah panas (Duke’s, 1985).
Pada hewan homoiterm suhunya lebih stabil, hal ini
dikarenakan adanya reseptor dalam otaknya sehingga dapat mengatur suhu tubuh.
Hewan homoiterm dapat melakukan aktifitas pada suhu lingkungan yang berbeda
akibat dari kemampuan mengatur suhu tubuh. Hewan homoiterm mempunyai variasi
temperatur normal yang dipengaruhi oleh faktor umur, faktor kelamin, faktor
lingkungan, faktor panjang waktu siang dan malam, faktor makanan yang
dikonsumsi dan faktor jenuh pencernaan air (Swenson, 1997).
Hewan berdarah panas adalah hewan yang dapat menjaga suhu
tubuhnya, pada suhu-suhu tertentu yang konstan biasanya lebih tinggi
dibandingkan lingkungan sekitarnya. Sebagian panas hilang melalui proses
radiasi, berkeringat yang menyejukkan badan. Melalui evaporasi berfungsi
menjaga suhu tubuh agar tetap konstan. Suhu tubuh tergantung pada neraca keseimbangan
antara panas yang diproduksi atau diabsorbsi dengan panas yang hilang. Panas
yang hilang dapat berlangsung secara radiasi, konveksi, konduksi dan evaporasi.
Radiasi adalah transfer energi secara elektromagnetik, tidak memerlukan medium
untuk merambat dengan kecepatan cahaya. Konduksi merupakan transfer panas
secara langsung antara dua materi padat yang berhubungan langsung tanpa ada
transfer panas molekul. Panas menjalar dari yang suhunya tinggi kebagian yang
memiliki suhu yang lebih rendah. Konveksi adalah suatu perambatan panas melalui
aliran cairan atau gas. Besarnya konveksi tergantung pada luas kontak dan
perbedaan suhu. Evaporasi merupakan konveksi dari zat cair menjadi uap air,
besarnya laju konveksi kehilangan panas karena evaporasi (Feylana, 2008).
III.METODE
PRAKTIKUM
A. Waktu dan
Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari
Jum,at, tanggal 27 Mei 2014, pukul 07.00 WITA sampai selesai dan bertempat di Laboratorium Produksi Perikanan,
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Haluoleo Kendari.
B. Alat dan
Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum pengaruh
temperatur terhadap aktivitas organisme dapat dilihat pada Tabel 8 berikut :
Tabel 8. Alat dan Bahan beserta Kegunaannya
|
No.
|
Alat dan Bahan
|
Satuan
|
Kegunaaan
|
|
I.
|
Alat
|
|
|
|
- Mikroskop
|
|
Untuk melihat organisme mikro
|
|
|
- Pipet tetes
|
|
Untuk mengambil objek yang diamati
|
|
|
- Wadah/toples
|
3 buah
|
Untuk menyimpan bahan.
|
|
|
- Kertas label
|
|
Untuk menandai masing-masing perlakuan
|
|
|
- Stopwatch
|
Detik
|
Untuk menghitung waktu
|
|
|
- Termometer
|
oC
|
Untuk mengukur suhu
|
|
|
2.
|
Bahan
|
|
|
|
-Air tawar
|
5 ltr
|
Sebagai objek yang diamati
|
|
|
- Es batu
|
|
Untuk menurunkan suhu
|
|
|
- Air panas
|
|
Untuk menaikan suhu
|
|
|
-Daphnia sp.
|
3 ekor
|
Sebagai objek yang diamati.
|
C. Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja pada praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.
Menyiapkan media
pemeliharaan kultur Daphnia pada suhu
awal 10, 20, 30 .
2.
Daphnia sp. diletakan di dalam gelas
arloji yang berada pada suhu yang telah ditentukan (diatas es batu atau air
dengan suhu yng dikehendaki).
3.
Dengan pipet pindahkanlah
secara hati-hati beberapa ekor Daphnia sp.pada
toples yang sudah disiapkan.
4.
Setelah tampak denyut
jantungnya hitunglah jumlah denyut setiap 15 detik dengan menggunakan stopwatch
5.
Kemudian diamati denyut
jantungnya di mikroskop.
6.
Hitung frekuensi denyut
jantung Daphnia sp. pada suhu yang
baru.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil Pengamatan
Hasil pengamatan pada praktikum pengamatan detak jantung Daphniasp. ini dapat
dilihat pada Tabel 9 berikut :
Tabel 9.
Hasil
pengamatan detak jantung Daphniasp.
|
Organisme
|
t (detik)
|
Denyut Jntung
|
|||
|
10°C
|
|
20°C
|
30°C
|
||
|
Daphnia sp
|
15
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||
Keterangan
:
: 45 denyut
jantung
: 39 denyut jantung
: 49 denyut jantung
Grafik frekuensi denyut
jantung Daphnia sp. dapat dilihat
pada gambar 2 berikut.
Gambar 7. Grafik Frekuensi Denyut
Jantung Daphnia sp.
B. Pembahasan
Pada
praktikum ini mengenai pengaruh temperatur terhadap aktivitas organisme. Kami
mengambil Daphnia sp. sebagai objek
yang kami amati. Menurut Alfanisti. (2009) Daphnia
sp. adalah salah satu spesies krustacea yang tubuhnya transparent dan tidak
berwarna.
Berdasarkan
hasil pengamatan pada Suhu 10ºC melalui
mikroskop terlihat bahwa detakan jantung Daphnia
sp. yaitu sebesar 45 detakan, dan pada suhu 20ºC detakan jantung daphnia mengalami penurunan yaitu
sebesar39 dan detakan pada suhu 30ºC detakan jantung daphnia spmengalami peningkatan kembali yaitu sebesar49 detakan.
Banyak hewan yang suhu tubuhnya disesuaikan dengan kondisi suhu lingkungannya
yang disebut dalam kelompok hewan poikiletermik. Poikiletermik adalah perubahan
suhu yang tidak labil dan sesuai dengan perubahan suhu lingkungannya dan
berdampak pada peningkatan denyut jantung Daphnia
sp. Hal ini sesuai
dengan pernyataan Alfanisti (2009), yang
menyatakan bahwa
peningkatakan denyut jantung daphnia
sp bergantung pada suhu lingkunnya. Pada suhu sekitar 10 oC di
bawah atau di atas suhu normal, suatu jasad hidup dapat mengakibatkan penurunan
atau kenaikan aktivitas jasad hidup tersebut menjadi kurang lebih dua kali pada
suhu normalnya.
V. PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulkan dari hasil pembahasan adalah sebagai berikut :
1. Pengaruh temperatur terhadap
aktifitas organisme adalah lengkapnya keadaan, ketiadaan atau kegagalan suatu
organisme dapat dikendalikan oleh kekurangan maupun kelebihan baik secar
kualitatif maupun secara kuantitatif dari salah satu dari beberapa faktor yang
mungkin mendekati batas-batas toleransi organisme tersebut.
2. Pengukuran denyut
jantung Daphnia sp. selama 15 detik
pada temperatur yang berbeda, pada
10oC denyut
jantungnya yaitu
sebanyak45 kali detakan, pada suhu 20 oC detakan jantung daphnia mengalami peningkatan yaitu 39
dan detakan pada suhu 30 oC
detakan jantung daphnia mengalami
peningkatan yaitu 49 detakan.
3. Lingkungan dengan suhu tinggi akan
meningkatkan metabolisme dalam tubuh sehingga laju respirasi meningkat dan
berdampak pada peningkatan denyut jantung Daphnia
sp
B. Saran
Saran yang dapat saya sampaikan pada
praktikum kali ini, sebaiknya untuk praktikum, respon organisme terhadap
perubahan suhu selanjutnya organisme yang menjdi bahan uji lebih dari dua
organisme sehingga mampu membedakan detak jantung organime yang satu dengan
yang oraganisme yang satunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar